BOLASPORT.COM - Thomas Tuchel dicurigai sebagai mata-mata dari Jerman yang ditugaskan menyabotase Timnas Inggris dari dalam setelah gagal di Piala Dunia 2026.
Tudingan tersebut dilontarkan legenda The Three Lions, Gary Lineker, sebagai bagian kritik yang dilontarkannya pasca-kegagalan Inggris melaju ke final.
Jude Bellingham dkk rontok akibat dikalahkan Argentina 1-2 dalam laga semifinal di Atlanta, Rabu (15/7/2026).
Hasil minor ini terjadi setelah Thomas Tuchel dianggap melakukan blunder taktik yang mengakibatkan hangusnya keunggulan berkat gol pembuka Anthony Gordon.
Dalam tempo tujuh menit saja di periode akhir laga, Timnas Argentina bangkit untuk membalikkan kedudukan.
Gol balasan Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez berkat asis dobel Lionel Messi memastikan Inggris tersingkir dan harus puas tampil dalam duel perebutan tempat ketiga.
Tuchel dianggap sama saja dengan pendahulunya Gareth Southgate. Taktik mereka melempem justru di saat fase krusial turnamen.
Lineker memang termasuk pihak yang kontra dengan penunjukan eks pelatih Dortmund dan Chelsea sebagai nakhoda Inggris tahun lalu.
Mesin gol The Three Lions di Piala Dunia 1986 dan 1990 itu mencurigai Tuchel adalah mata-mata yang sengaja menghancurkan Inggris dengan taktiknya.
"Saya cuma penasaran, apakah Thomas Tuchel itu mata-mata Jerman? Kami sepertinya sudah disusupi," ucap Lineker dalam kanal siniar The Rest is Football di Youtube.
"Menurut saya, karena tim nasional Jerman sedang tidak terlalu bagus saat ini, mereka pasti sudah mengirimkan seseorang," katanya.
Lineker tidak serius dengan pernyataannya. Dia buru-buru menekankan bahwa anggapan itu hanya bercandaan.
Namun, dia tegas mengkritik keputusan Tuchel yang mempersilakan Argentina menyerang setelah timnya baru unggul satu gol.
Bukannya antusias menambah gol untuk segera menyegel kemenangan, Inggris malah parkir bus dengan memasukkan tiga pemain bertahan saat waktu normal masih menyisakan belasan menit.
Bertahan atau Dipecat?
Keputusan itu dinilai mengingkari pernyataan Tuchel sendiri yang menginginkan anak asuhnya bermain menyerang.
"Dia berkata setelah pertandingan melawan Kroasia (fase grup), 'jika kami kalah, kami akan kalah dengan memainkan sepak bola agresif dan menyerang', tapi dia justru bertindak sebaliknya, bukan?" imbuh Lineker.
"Menurut saya, hal yang paling membuat frustrasi adalah tim ini punya peluang jika mereka berani mengambil risiko, dan menurut saya mereka justru salah langkah."
"Apakah dia orang yang tepat untuk membawa kami maju? Saya tidak pernah meminta siapa pun untuk dipecat, saya tidak berpikir itu hal yang tepat buat dilakukan."
"Tetapi, hal itu tergantung kepadanya dan bagaimana perasaannya, serta bagaimana pandangan FA (PSSI-nya Inggris)," lanjut eks pemain Barcelona.
Dalam keadaan terpisah, Tuchel sendiri tetap ingin bertahan dan memenuhi kewajibannya menukangi Timnas Inggris sesuai kontrak hingga Euro 2028.
Akan tetapi, mulai dari sekarang, dia harus lebih akrab dengan kritik setelah gagal memenuhi harapan publik Inggris membawa trofi Piala Dunia 'pulang kampung'.
"Semua orang mengkritik Southgate karena cara dia menangani momen-momen krusial, tapi dengan Tuchel, tidak ada yang berubah," bunyi kritik lain dari mantan kiper Joe Hart.
"Dia sudah tidak percaya bahwa kami masih bisa mencetak gol lagi," tegasnya.
Kondisi Inggris yang dinilai tak mengalami perubahan berarti setelah ditangani Tuchel juga diungkapkan legenda lain, Gary Neville.
"Rasanya seperti final Piala Eropa melawan Italia (Inggris kalah adu penalti, 2020)," ucapnya.
"Kekalahan seperti ini adalah soal mentalitas, kepercayaan diri, dan kemampuan mengelola penguasaan bola."
"Sungguh luar biasa bagaimana sejarah ini terus berulang," ujar mantan kapten Manchester United.
Michael Owen, sesama bekas jagoan Timnas Inggris, menganggap taktik payah Tuchel pantas membuat mereka dikalahkan Argentina, bahkan beruntung karena cuma dibobol dua gol.
"Lihat saja pertandingan Spanyol melawan Prancis. Mereka (Spanyol) unggul 1-0 dan tetap bermain dengan berani," katanya menyinggung partai semifinal lain di Piala Dunia 2026.
"Kami, dalam situasi yang sama, malah memasukkan tiga pemain bertahan."
"Pesan apa yang disampaikan hal itu kepada tim? Kami pantas kalah, skornya bisa saja berakhir 4-1," tegas wonderkid Inggris di Piala Dunia 1998.