Labuan Bajo Dinilai Siap Jadi Episentrum Ekowisata Asia Pasifik
Oby Lewanmeru July 17, 2026 09:29 AM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Tari Rahmaniar

POS-KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat mulai mengubah arah pengembangan pariwisata.

Ke depan, wisata tidak lagi hanya berpusat di Taman Nasional Komodo, tetapi juga dikembangkan di berbagai destinasi daratan agar manfaat ekonomi dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, saat membuka Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan: Best Practice dan Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Ekowisata di Kabupaten Manggarai Barat di Crowne Plaza Labuan Bajo, Kamis (16/7/2026).

Kegiatan ini diinisiasi berdasarkan kolaborasi bersama IN FLORES. Jaringan ini menjadi wadah kolaborasi berbagai LSM lokal, nasional, akademisi, komunitas, pemerintah, dan sektor swasta untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di Flores.

Pantauan POS-KUPANG.COM, seminar nasional tersebut dihadiri sekitar 50 peserta dari lembaga pemerintah, perusahaan swasta dan Asosiasi, mitra pembangunan dan universitas serta beberapa media. 

Baca juga: Manggarai Barat Kurangi Ketergantungan pada Komodo, Wisata Daratan Mulai Dikembangkan

Sekretaris Daerah Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo mengatakan, pemerintah mulai mengembangkan destinasi wisata di wilayah daratan (mainland) agar wisatawan tidak hanya melihat komodo, tetapi juga menikmati budaya, kuliner, desa wisata, hingga produk UMKM masyarakat.

"Kita ingin wisatawan tidak hanya datang melihat komodo, tetapi juga tinggal lebih lama, berbelanja produk lokal, menikmati budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat," ujarnya, Kamis (15/7/2026).

Selain pemerataan ekonomi, langkah ini juga bertujuan mengurangi tekanan kunjungan ke Taman Nasional Komodo sehingga kawasan konservasi tersebut tetap terjaga.

Untuk mendukung tata kelola pariwisata, Pemkab Manggarai Barat juga mengembangkan aplikasi Gendang Mabar. Sistem digital ini akan digunakan untuk mengatur reservasi wisata, memantau perjalanan wisatawan, memastikan agen perjalanan yang digunakan resmi, hingga penggunaan pemandu wisata yang telah memiliki lisensi.

Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata RI, Dr. Frans Teguh, mengatakan dalam hasil pengukuran destinasi pariwisata berkelanjutan, Labuan Bajo disebut memiliki sejumlah kekuatan, mulai dari komitmen pemerintah, pembangunan infrastruktur berstandar internasional, hingga kekayaan alam dan budaya yang menjadi daya tarik utama wisatawan. 

"Kawasan ini juga didukung status internasional Taman Nasional Komodo sebagai Cagar Biosfer UNESCO dan Warisan Alam Dunia," ujarnya. 

Dari sisi sosial ekonomi, pariwisata disebut telah mengubah kehidupan masyarakat dengan membuka peluang usaha, lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan. Kehadiran sektor pariwisata juga mendorong pembangunan infrastruktur sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan dan budaya lokal.

Di bidang budaya, perkembangan pariwisata dinilai mampu memperkuat identitas lokal melalui rumah adat, tarian, kuliner, hingga berbagai festival budaya yang memperkenalkan kekayaan Manggarai ke tingkat nasional maupun internasional.

Sementara itu, pada aspek lingkungan, Labuan Bajo dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan wisata berbasis konservasi, pengelolaan kawasan, serta munculnya berbagai komunitas lokal yang aktif dalam pelestarian alam, mulai dari penanaman pohon hingga pengelolaan sampah dan konservasi sumber mata air.

Meski demikian, Kementerian Pariwisata mencatat sejumlah pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Di antaranya belum maksimalnya pengelolaan destinasi secara terpadu, masterplan yang belum sepenuhnya terintegrasi, monitoring pariwisata yang masih berjalan secara parsial, hingga pelibatan masyarakat yang belum merata. Pengelolaan pengunjung, perlindungan lingkungan, dan pemerataan manfaat ekonomi juga dinilai masih perlu diperkuat.

Dalam visi jangka panjang, pemerintah menargetkan transformasi Labuan Bajo–Flores 2035 melalui delapan pilar, termasuk menjadikan kawasan ini sebagai pusat ekowisata regeneratif, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga transformasi profesi masyarakat agar memperoleh manfaat lebih besar dari sektor pariwisata. (iar)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.