Bupati Merangin: Pendidikan Kota dan Desa Timpang, Banyak Sekolah Pelosok Tanpa Guru PNS
asto s July 17, 2026 11:11 AM

TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO – Bupati Merangin M Syukur menyoroti ketimpangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan di Kabupaten Merangin. Ia mengungkapkan masih banyak sekolah di pelosok yang belum memiliki guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Pernyataan itu disampaikan M Syukur saat menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) bersama ratusan kepala sekolah jenjang TK, SD, dan SMP se-Kabupaten Merangin di Aula Utama Lantai IV Kantor Bupati Merangin, Rabu (15/7/2026).

Dalam pertemuan tersebut, M Syukur mengajak para kepala sekolah berdiskusi secara terbuka mengenai berbagai persoalan pendidikan yang masih dihadapi di lapangan.

Menurutnya, tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan sarana dan prasarana, tetapi juga menyangkut kualitas sumber daya manusia dan masa depan generasi penerus.

"Persoalan pendidikan di Merangin bukan hanya soal gedung atau bangku sekolah, tetapi soal generasi, mutu, dan moral. Inilah yang membutuhkan kerja sama kita semua," ujar M Syukur.

Berdasarkan pengamatannya selama memimpin Kabupaten Merangin, kemajuan pendidikan dinilai masih terkonsentrasi di kawasan perkotaan dan sekolah-sekolah unggulan.

Sebaliknya, sejumlah sekolah di kecamatan terpencil dan pelosok desa masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik.

"Saya menemukan masih ada sekolah di pelosok yang sama sekali tidak memiliki guru berstatus PNS. Betul tidak?" tanya M Syukur kepada peserta rakor.

Pertanyaan itu dijawab serempak oleh para kepala sekolah dengan jawaban, "Betul."

Selain kekurangan guru PNS, M Syukur juga menyoroti masih banyaknya jabatan kepala sekolah yang dijabat pelaksana tugas (Plt), sehingga dinilai dapat memengaruhi efektivitas tata kelola sekolah.

Dalam arahannya, M Syukur juga mengingatkan para guru mengenai makna pengabdian sebagai tenaga pendidik.

Ia menegaskan, sumpah profesi guru tidak membedakan tempat pengabdian, baik di wilayah perkotaan maupun pelosok.

"Ketika Bapak dan Ibu disumpah menjadi guru lalu ditunjuk menjadi kepala sekolah, tidak ada sumpah untuk hanya bertugas di kota. Tapi sampai sekarang belum ada yang datang meminta ditempatkan di pelosok. Yang ada justru marah karena ditugaskan ke pelosok," katanya, disambut tawa para kepala sekolah.

M Syukur kemudian membagikan pengalamannya saat mengunjungi daerah terpencil di Kecamatan Tiang Pumpung.

Ia mengaku terharu bertemu seorang guru perempuan yang tetap mengabdi di tengah keterbatasan fasilitas dan akses.

"Saya bertemu seorang guru wanita dengan rumah yang sangat sederhana. Beliau mengatakan bahwa mengajar adalah tugasnya untuk membantu masyarakat. Saya sangat mengapresiasi keikhlasan seperti itu. Pertanyaannya, masih adakah keikhlasan seperti itu di dalam diri kita?" ujarnya.

Di akhir arahannya, M Syukur meminta para tenaga pendidik tidak menjadikan penempatan di wilayah pedesaan sebagai beban.

Menurutnya, seluruh wilayah di Kabupaten Merangin masih dapat dijangkau sehingga tidak semestinya menjadi alasan untuk menolak penugasan.

"Kalau alasan keluarga, suami, atau istri, semuanya bisa dikoordinasikan. Persoalannya, sampai hari ini kita terkadang belum mampu melawan ego diri kita masing-masing," tutupnya. (Tribunjambi.com/Frengky Widarta)

Baca juga: Wapres Gibran Dicegat Mahasiswa di RM AC Andoenk Jambi, Singgung Jokowi dan Batu Bara

Baca juga: Eks Menkumham Ungkap Pengaruh Jaringan Jambi di Balik Kasus Jampidsus Febrie

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.