20 Tahun Tsunami Pangandaran 2006, Daryono: Ancaman Megathrust Nyata, Siap Siaga Jadi Kunci Selamat!
Dedy Herdiana July 17, 2026 12:35 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Dua puluh tahun setelah bencana Tsunami Pangandaran pada 17 Juli 2006, ahli atau pemerhati gempa bumi mengingatkan bahwa ancaman gempa megathrust di pantai selatan Jawa merupakan ancaman nyata yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan masyarakat.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus mantan Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, mengatakan Tsunami Pangandaran 2006 dipicu gempa megathrust berkekuatan magnitudo 7,7 bertipe tsunami earthquake di zona subduksi selatan Jawa Barat dan Jawa Tengah. 

Peristiwa itu menewaskan lebih dari 668 orang serta menyebabkan ribuan lainnya terluka dan kehilangan tempat tinggal.

Baca juga: Gempa Terkini di Pangandaran Jumat Dini Hari, BMKG Sebut Magnitudo 2,6

Menurut Daryono, satu pelajaran terpenting dari peristiwa itu adalah tsunami dapat terjadi meski guncangan gempa di daratan terasa lemah. 

Untuk itu, masyarakat yang berada di kawasan pantai tidak boleh menunggu peringatan resmi apabila merasakan gempa.

"Jika berada di pantai dan terjadi gempa, segera lakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Jangan menunggu sirene atau informasi resmi karena waktu tiba tsunami bisa hanya sekitar 15 hingga 20 menit setelah gempa," ujar Daryono dalam tulisannya yang diterima Tribun Jabar, Jumat (17/7/2026) pagi.

Ia menegaskan, tanda-tanda alami atau natural warning tetap menjadi penyelamat pertama. Gempa, surutnya air laut secara tiba-tiba, maupun suara gemuruh dari arah laut harus dikenali sebagai sinyal untuk segera menyelamatkan diri.

Daryono pun menilai edukasi dan budaya mitigasi jauh lebih menentukan dalam mengurangi korban dibanding hanya mengandalkan teknologi. 

"Meski Indonesia kini sudah memiliki sistem peringatan dini tsunami, peta bahaya, jalur evakuasi, hingga program edukasi kebencanaan, kesiapan masyarakat tetap menjadi faktor utama penyelamat nyawa," katanya.

Ia mengingatkan, kawasan wisata pantai memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi karena banyak pengunjung yang tidak mengenal jalur evakuasi. 

Untuk itu, seluruh destinasi wisata di pesisir selatan Jawa harus dilengkapi jalur evakuasi, rambu penunjuk arah, titik kumpul aman, serta rutin menggelar simulasi evakuasi.

Selain itu, Tsunami Pangandaran membuktikan bahwa seluruh wilayah pesisir selatan Jawa berada di kawasan subduksi megathrust aktif, sehingga setiap daerah harus membangun budaya siaga tsunami secara berkelanjutan.

Ia menegaskan, peringatan 20 tahun Tsunami Pangandaran bukan sekadar mengenang para korban, melainkan menjadi momentum memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman tsunami di masa depan.

"Keberhasilan penanggulangan tsunami tidak diukur dari banyaknya korban yang berhasil diselamatkan setelah bencana, tapi dari sedikitnya korban yang harus diselamatkan karena masyarakat sudah siap sebelum tsunami datang," ucap Daryono. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.