27 Korban KLM Nurul Salsa Masih Dicari, Posko Pencarian Korban Dipusatkan di Pulau Jampea Selayar
Sakinah Sudin July 17, 2026 11:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, PASIMASUNGGU - Pencarian korban kapal tenggelam KLM Nurul Salsa berlanjut, Jumat (17/7/2027).

Kabar terbaru, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepualauan Selayar bersama petugas kepolisian TNI-Polri menyepakati menempatkan Posko Pencarian korban kapal tenggelam KLM Nurul Salsa ditempatkan di Pulau Jampea, Kecamatan Pasimasunggu.

Pemilihan titik tersebut karena Pulau Jampea lebih dekat dengan lokasi kejadian dibandingan dengan Benteng, ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar.

Kapal tenggelam di perairan Polassi, Kecamatan Bontosikuyu, Rabu (15/7/2026) malam.

Pulau Jampea berada di bagian selatan, Selayar daratan.

Adapun Pulau Polassi berada di tengah-tengah jalur pelayaran antara daratan utama Selayar dan Kepulauan Jampe

Penelusuran Tribun-Timur.com, berdasarkan perbandingan jarak pelayaran, Pulau Jampea menjadi titik yang paling strategis untuk dijadikan Posko Pencarian korban tenggelamnya KLM Nurul Salsa di perairan Pulau Polassi, Kecamatan Bontosikuyu.

Dari Pulau Polassi menuju Pulau Jampea, jarak pelayaran diperkirakan hanya sekitar 15–18 mil laut atau 28–33 kilometer.

Dengan menggunakan kapal motor, perjalanan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 hingga 1,5 jam, tergantung kondisi cuaca dan gelombang.

Sementara itu, jarak dari Pulau Polassi menuju Kota Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar, mencapai sekitar 42–43 mil laut atau 78–80 kilometer.

Waktu tempuh menggunakan kapal motor diperkirakan 2,5 hingga 3,5 jam.

Artinya, perjalanan dari Pulau Jampea menuju lokasi kejadian lebih dekat sekitar 50 kilometer dan menghemat waktu tempuh sekitar 1,5 hingga 2 jam dibandingkan jika berangkat dari Kota Benteng.

Selisih waktu tersebut dinilai sangat penting dalam operasi pencarian dan penyelamatan (SAR), karena memungkinkan tim gabungan bergerak lebih cepat untuk mencari korban, mengevakuasi penyintas, serta mendistribusikan logistik dan peralatan pendukung di lokasi kejadian.

Alasan lainnya dipilinya Pulau Jampea, fasilitas kesehatan seperti Puskesmas dibandingkan dengan Pulau Polassi.

Penumpang juga domininan dari Pulau Jampea.

"Posko pencarian ditempatkan di Pulau Jampea karena ada beberapa pertimbangan termasuk masalah keamanan arah angin kencang," kata Humas Polres Kepulauan Selayar, Aiptu Suardi Alimuddin kepada TribunSelayar.com, Jumat (17/7/2026)

Hingga saat ini masih ada 27 orang penumpang yang sedang dicari, 46 orang sudah ditemukan selamat.

Dari 27 orang penumpang tersebut terdapat 17 orang yang terdaftar dalam manifest KLM Nurul Salsa.

Sedang yang tidak masuk dalam manifest kapal sebanyak 10 orang.

Babinsa Pulau Jampea, Agusalim menyampaikan bahwa proses pencarian akan dilanjutkan usai waktu Salat Jumat siang nanti.

Kronologi Tengelamnya KLM Nurul Salsa
 
Awalnya KLM Nurul Salsa berlayar dari Pelabuhan Jampea, Kecamatan Pasimasunggu menuju Pelabuhan Benteng, Ibukota Selayar, sekitar pukul 06.00 Wita, Rabu (15/7/2026).

Lima jam perjalanan, mesin KLM Nurul Salsa rusak.

Rabu siang, mesin kapal mati total.

Para penumpang bersama ABK berusaha mengirim pesan tentang masala tersebut.

Namun petugas bersama masyarakat tidak mampu bertindak.

Sebab di lokasi cuaca sedang ekstrem, gelombang tinggi dan angin kencang.

Jelang malam, kapal perlahan tenggelam. 

Kejadian itu saat berada di perairan Polassi, Kecamatan Bontosikuyu.

Kamis (16/7/2026) dini hari, Tim Basarnas menemukan para penumpang di sekitar lokasi kejadian dalam kapal yang sudah mulai tenggelam.

Daftar Korban

Operasi melibatkan Tim Rescue Pos SAR Selayar, Tim Rescue Basarnas Makassar, TNI AL, KRI Marlin-877, KM Harapan Kita, BPBD Selayar, Syahbandar, SROP Selayar, Polair, serta kapal-kapal nelayan di sekitar lokasi.

Kasi Humas Polres Selayar, Ipda Suardi Alimuddin mengatakan, hingga pendataan terakhir terdapat 46 orang selamat, satu orang meninggal dunia, dan 27 orang masih dicari.

"Data ini masih terus diupdate berdasarkan aduan masyarakat yang kehilangan keluarga atau mengetahui keluarganya ikut dalam pelayaran," kata Suardi.

Dari 46 korban selamat, sebanyak 33 orang merupakan penumpang dan 7 orang adalah anak buah kapal (ABK).

Selain itu, enam orang lainnya telah dievakuasi ke Polassi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Sementara itu, korban meninggal dunia diketahui bernama Salmawati.

Polisi juga mencatat terdapat 17 orang yang masih dalam pencarian dan terdata dalam manifes kapal, yakni Cia, Bau Intang, Sahrul Amin, Madang, Januari, Maridaeng, Umar, Naura, Nurhayati, Asseng, Malida, Hasbi, Hasnani, Isa, Naila, Jusriawati, dan Arfandi.

Selain itu, terdapat 10 orang lain yang dilaporkan masih dicari, tetapi belum tercantum dalam manifes, yakni Jaenuddin, Nurmiati, Jasmal, Diska, Musliana, Sitti Amang, Andi Sama, Hasliana, Hasriati, dan Sri Hardati.

Berdasarkan keterangan keluarga korban bernama Siujung, KLM Nurul Salsa bertolak dari Pelabuhan Jampea, Kecamatan Pasimasunggu, menuju Pelabuhan Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar, sekitar pukul 06.00 Wita, Rabu (15/7/2026).

Pada awal pelayaran, kondisi kapal dilaporkan normal.

Namun, beberapa jam kemudian cuaca memburuk disertai gelombang tinggi dan angin kencang. Di saat bersamaan, mesin kapal mengalami kerusakan hingga akhirnya mati total.

Para penumpang bersama ABK sempat mengirimkan pesan meminta pertolongan.

Namun, upaya penyelamatan terkendala cuaca ekstrem sehingga kapal akhirnya tenggelam menjelang tengah malam di perairan Polassi.

Tim SAR gabungan yang melakukan pencarian sejak malam hari kemudian menemukan para penumpang pada Kamis (16/7/2026) dini hari di sekitar lokasi kejadian.

Sebagian korban berhasil dievakuasi dari kapal yang telah tenggelam sebagian, sementara proses pencarian korban lainnya masih terus berlangsung.

KLM Nurul Salsa tenggelam usai mengalami mati mesin di tengah pelayaran. 

Kapal ini awalnya bertolak dari Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Selayar, pada Rabu (15/7/2026) sekitar pukul 05.00 Wita.

Mesin kapal gangguan saat berada di perairan sebelah barat Pulau Polassi atau sekitar 43 nautical mile dari Pelabuhan Benteng Selayar.

Setelah kapal tenggelam, sebanyak 41 orang berhasil dievakuasi KM Harapan Kita, termasuk awak kapal.

Sementara 6 orang lainnya diselamatkan kapal nelayan yang berada di sekitar lokasi dan dievakuasi ke Pulau Polassi.

Berdasarkan data sementara, total korban yang telah ditemukan mencapai 47 orang. Dari jumlah tersebut, 46 orang selamat dan seorang penumpang ditemukan meninggal dunia.

Namun, setelah dilakukan pendataan ulang bersama pihak terkait, jumlah penumpang dan awak kapal ternyata mencapai 70 orang.

Dengan demikian, masih ada 24 orang yang belum ditemukan dan masih dicari.

Selengkapnya, berikut ini rincian nama penumpang yang hilang, selamat, dan meninggal.

Korban selamat (33 orang): 

Fildayanti (21),
Abraf (3),
Abrar (5),
Marliana (31),
Wirda (38),
Ismail (36),
Sofyan (48),
Ratang (38),
Andi Ratih (46),
Asfandi (36),
Wail/Nail (17),
Basriadi (45),
Dahlia (27),
Safutra (2),
Igo (27),
Nur Aeda (50),
Halmiati (37),
H. Bahri (70),
Andi Sahril (40),
Agung Akbar (15),
Farhan Ihwani (15),
Rosmaeni (59),
Nail (12),
Alfati (8),
Jinar (20),
Imel Aulia (19),
Nur Aisyah (20),
Elianti Nur (19),
Tasmar (49),
Jumrahwati (41),
Nirdawati (36),
Muh Akip (25), dan
Akil Akbar (20).
ABK selamat (7 orang):

Arjun (20),
Zikri (19),
Masran (30),
Irfandi (22),
Saldianto (25),
Dani (35), dan
Marling (36) yang disebut sebagai juragan kapal.

Korban meninggal (1 orang):

Salmawati.

Korban dievakuasi ke Polassi (6 orang):

Junaedi,
Muhammad Askar,
Salla,
Anhar,
Nasma, dan
Riswan.

Korban masih dicari berdasarkan manifes (17 orang): 

Cia,
Bau Intang,
Sahrul Amin,
Madang,
Januari,
Maridaeng,
Umar,
Naura,
Nurhayati,
Asseng,
Malida,
Hasbi,
Hasnani,
Isa,
Naila,
Jusriawati, dan
Arfandi.

Daftar sementara korban dalam pencarian yang belum masuk manifes (10 orang):

Jaenuddin,
Nurmiati,
Jasmal,
Diska,
Musliana,
Sitti Amang,
Andi Sama,
Hasliana,
Hasriati, dan
Sri Hardati.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.