- Sistem pertahanan udara Patriot kembali menjadi sorotan setelah beredar video yang diklaim memperlihatkan rudal Iran lolos dari pencegatan.
Lantas, mengapa sistem Patriot bisa gagal mencegat rudal balistik atau hipersonik?
Dikutip dari Missile Threat, pada Jumat (17/7/2026), Patriot merupakan sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat yang dirancang untuk menghancurkan pesawat, rudal jelajah, hingga rudal balistik jarak pendek.
Versi terbaru, Patriot PAC-3, menggunakan teknologi hit-to-kill, yakni menghancurkan sasaran dengan benturan langsung tanpa bahan peledak.
Namun, kemampuan Patriot tetap memiliki keterbatasan.
Salah satunya jika menghadapi rudal hipersonik yang melaju dengan kecepatan di atas Mach 5 atau lima kali kecepatan suara.
Selain sangat cepat, rudal hipersonik juga mampu bermanuver saat melaju sehingga lebih sulit diprediksi dibanding rudal balistik konvensional.
Kondisi tersebut membuat radar harus terus memperbarui lintasan sasaran dalam hitungan detik.
Selain faktor kecepatan, serangan secara beruntun atau saturation attack juga dapat mengurangi efektivitas sistem pertahanan.
Dalam skenario ini, banyak rudal ditembakkan secara bersamaan sehingga sistem harus memilih target prioritas.
Faktor lain yang memengaruhi keberhasilan pencegatan adalah jarak deteksi radar, posisi baterai Patriot, hingga jenis rudal yang digunakan lawan.
Meski demikian, hingga kini belum ada konfirmasi independen bahwa seluruh rudal Iran berhasil menembus pertahanan Patriot pada Kamis (16/7/2026).
Insiden ini kembali memicu perdebatan mengenai efektivitas sistem pertahanan udara modern dalam menghadapi perkembangan teknologi rudal generasi terbaru.