Intip Serunya Lomba B2SA dan Masak Ikan DKPP Klaten, Ada Olahan Sehat hingga Konsep Zero Food Waste
Rifatun Nadhiroh July 17, 2026 03:15 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Puluhan peserta ibu-ibu TP-PKK, mengikuti lomba kreasi pangan lokal B2SA (beragam, bergizi seimbang, dan aman) dan lomba masak Ikan di Gedung Sunan Pandanaran Kompleks RSPD Kabupaten Klaten, Kamis (16/7/2026). 

Lomba tersebut, digelar oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Klaten. 

Lomba kreasi pangan lokal B2SA (2)
Lomba kreasi pangan lokal B2SA (beragam, bergizi seimbang, dan aman) dan lomba masak Ikan di Gedung Sunan Pandanaran Kompleks RSPD Kabupaten Klaten, Kamis (16/7/2026).

Kepala DKPP Klaten, Iwan Kurniawan dalam sambutan mengatakan bila kegiatan lomba ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang pangan.

Yang didukung oleh peraturan pemerintah Nomor 17 tahun 2015, tentang ketahanan pangan dan gizi serta dokumen pelaksanaan anggaran DKPP tahun 2026.

"Tentunya ajang ini, kompetisi memasak merupakan sarana tidak cuma kegiatan rutin tapi juga sarana edukasi juga untuk melatih berbagai inovasi olahan pangan," ujarnya. 

Baca juga: Dulu Dianggap Tak Lagi Punya Pasar, Kini Ikan Nila Hitam Ponggok dari Klaten Laris di Tanah Papua

Diharapkan olahan makanan lokal yang di proses, bisa memiliki nilai kesejahteraan bagi kelompok TP PKK maupun KWT meningkat. 

"Harapan kami adalah hasil olahan itu tidak cuma dalam bahan mentah saja, tapi nanti bisa dilanjutkan sampai di tingkat pengolahan sehingga semua bisa berproduksi, bisa menjual hasil olahan pangan di lingkungan," jelasnya. 

Tak hanya mengolah pangan lokal, namun makanan juga mengandung nilai gizi seimbang. 

Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo mengucapkan terimakasih kepada seluruh peserta yang mengikuti lomba tersebut.

Total ada 26 peserta, yang merupakan perwakilan tingkat Kecamatan. 

"Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, yang sudah mengikuti kegiatan diadakan lomba ini. Karena tentu ini membutuhkan waktu," ujarnya. 

Dijelaskan, bila pangan lokal maupun ikan lokal bisa diolah menjadi makanan enak, sehat, dan berharga. 

"Tidak hanya sekedar lomba masak, tidak sekedar sedang enak-enakan. Tapi dalam rangka akan meningkatkan kualitas dari generasi penerus kita ke depan," tegasnya. 

"Sehingga dengan adanya kegiatan semacam ini, harapannya ke depan anak-anak kita akan mendapatkan makanan-makanan di rumah yang gizinya memang tepat dan sesuai dengan kebutuhan. Tidak perlu mahal, karena bahan makanannya bisa dari lokal kabupaten-kota," imbuhnya. 

Mas Hamenang sapaan akrab Bupati Klaten juga meminta peserta untuk mensosialisasikan makanan sehat untuk lingkungan sekitar. 

Baca juga: Ajak Masyarakat Klaten Sering Makan Ikan, Bupati Hamenang: Boleh Mancing-Jaring Ikan,Jangan Disetrum

"Semoga dengan kegiatan ini juga ke depan kalau kemudian sosialisasi semakin gencar, warga masyarakat paham pangan lokalnya potensinya seperti apa, warga masyarakat paham pentingnya makan ikan akhirnya tercipta peningkatan kualitas dari generasi-generasi penerus kita ke depan," kata Mas Hamenang. 

"Sehingga dalam rangka memaksimalkan Kabupaten Klaten tercinta dan SDM tetap unggul, agar siap untuk kompetisi di dunia luar dalam rangka menuju Indonesia emas 2045-nya bisa benar-benar terlaksana," tambahnya.

Konsep Keluarga Sehat hingga Zero Food Waste

Para peserta lomba sendiri, banyak yang mengusung konsep makanan sehat hingga ada juga yang mengusung konsep zero food waste. 

Juara 1 Lomba B2SA asal Kelurahan Nggergunung,Kecamatan Klaten Utara mengusung konsep pemanfaatan bahan makanan lokal yang mudah ditemui dan juga konsep zero food waste.

Dimana bahan makanan yang dimasak, dapat juga dijumpai di tukang sayur keliling. 

"Kemudian konsep yang kedua yang kita angkat adalah zero food waste, itu maksudnya adalah pemanfaatan bahan pangan itu secara maksimal," ujar perwakilan kelompok, Aviati Hartolo. 

Olahan yang dibuat, yakni nasi talas kacang merah, lauk empal ikan lele, lauk mozaik tahu saus bayam, sup watermelon, susu dari tempe, serta kudapan dari pie ubi labu kuning. 

Baca juga: Bupati Hamenang Kenang Momen Jadi Mas Klaten 2010 Silam, Kini Kukuhkan Mas-Mbak Klaten 2026

Makanan yang dibuat tersebut, dibuat dengan menerapkan zero food waste.

"Lele itu dagingnya di fillet dijadikan empal, kemudian tulangnya dijadikan kuah sop. Nah, gitu misalnya," jelasnya

Selain itu, buah apel sendiri dibuat untuk bahan pie.

Kulit buah apel sendiri kemudian dimasak menjadi teh apel. Hal ini bisa meminimalisir sampah. 

"Pada saat memang sudah tidak ada lagi yang bisa digunakan, maka ini tadi juga enggak nyampah. Karena sisa-sisa tadi kita gunakan untuk bahan pembuatan pupuk kompos dulu," ucapnya. 

Sementara itu untuk juara 1 kategori lomba masak ikan, diraih perwakilan Desa Menden Kecamatan Kebonarum. 

Perwakilan kelompok, Marfuatun mengatakan kelompoknya mengusung konsep sehat untu keluarga. 

Makanan yang diolah, yakni lauk pepes dilapis telur dari ikan Nila, kue kering dari ikan lele, dan mie dari ikan kembung. 

"Jadi kita berpikir, bahwa itu (makanan) akan disukai oleh banyak orang," ujarnya. 

Selain itu, olahan makanan juga tetap mempertahankan gizi yang sesuai. 

Baca juga: Sambung Rasa di Desa Bawukan Kemalang, Bupati Klaten Hamenang Dengarkan Langsung Aspirasi Warga

(*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.