Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO – Sekelompok mantan warga Pulau Hashima (Gunkanjima) di Prefektur Nagasaki merilis film dokumenter yang membantah anggapan bahwa pulau bekas tambang batu bara tersebut merupakan "Pulau Neraka" tempat kerja paksa bagi warga Semenanjung Korea pada masa perang.
Film dokumenter itu diperkenalkan dalam konferensi pers di Tokyo pada 16 Juli 2026 oleh organisasi "Hashima Shimin no Kai" (Perkumpulan Mantan Warga Hashima yang Menelusuri Sejarah yang Benar).
Selain versi bahasa Jepang, dokumenter tersebut juga dibuat dalam bahasa Korea agar dapat disebarluaskan ke masyarakat internasional.
Dokumenter berdurasi sekitar 25 menit itu mengulas kontroversi program NHK tahun 1955 berjudul "Midori Naki Shima" (Pulau Tanpa Kehijauan).
Baca juga: Fakta Baru Kasus Bibir Dijahit di Jepang, Masae Sakurai Pernah Menikah dengan Pria Indonesia
Menurut para mantan warga, tayangan tersebut menjadi awal menyebarnya informasi yang keliru mengenai Gunkanjima, sehingga pulau itu kemudian dikenal secara internasional sebagai tempat kerja paksa, "Pulau Neraka", bahkan "pulau tempat orang tidak bisa kembali hidup".
Mereka juga menyoroti bahwa pada Maret 2025, Presiden NHK akhirnya menyampaikan permintaan maaf kepada mantan warga terkait persoalan tersebut.
Namun, menurut mereka, NHK menolak permintaan agar membuat program khusus yang mengkaji ulang isi tayangan tersebut.
Karena itulah, para mantan warga memutuskan membuat dokumenter secara mandiri.
Ketua organisasi tersebut, Mitsuo Tanaka (92), yang pernah menjabat Wakil Kepala Tambang Takashima Mitsubishi Coal Mining, menyatakan penggunaan rekaman yang menurutnya tidak berasal dari kondisi sebenarnya di Tambang Hashima telah mencemarkan nama baik pulau tersebut.
"Bagi kami yang pernah bekerja di Hashima, penggunaan rekaman tambang yang sama sekali bukan berasal dari Hashima telah melahirkan cap sebagai 'Pulau Neraka', 'pulau kerja paksa', dan 'pulau tempat orang tidak bisa pulang hidup-hidup'. Itu merupakan penghinaan terhadap sejarah Hashima dan tidak bisa kami terima," tegas Tanaka.
Dalam dokumenter tersebut, para mantan warga juga membantah sejumlah kesaksian mantan pekerja yang menyatakan lorong tambang sangat sempit sehingga hanya bisa merangkak dan para pekerja bekerja sepanjang tahun hanya mengenakan cawat.
Selain itu, dokumenter tersebut menyebut sejumlah foto yang selama ini digunakan media Korea Selatan sebagai gambaran pekerja Korea di Gunkanjima ternyata, menurut klaim mereka, sebenarnya diambil setelah perang di Prefektur Fukuoka, bukan di Gunkanjima pada masa perang.
Film itu juga memuat kesaksian mantan staf bagian keuangan perusahaan tambang yang menyatakan bahwa upah pekerja asal Semenanjung Korea dan pekerja asal Jepang dihitung dengan cara yang sama, sehingga membantah adanya perbedaan sistem penggajian berdasarkan asal pekerja.
Harus Meninggalkan Catatan Sejarah
Anggota organisasi, Yoichi Nakamura (88), mengatakan dokumenter itu dibuat karena mereka merasa wajib meninggalkan catatan sejarah sebelum generasi mantan penghuni Hashima meninggal dunia.
"NHK seharusnya melakukan verifikasi melalui siarannya sendiri. Karena itu tidak dilakukan, kami tidak punya pilihan selain melakukannya sendiri. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kami semua meninggal. Apa pun yang terjadi, kami harus membuat dokumenter ini dan meninggalkan rekamannya," ujarnya.
Dokumenter tersebut dijadwalkan mulai dipublikasikan melalui situs "Kebenaran Gunkanjima – Verifikasi Pekerja Wajib dari Semenanjung Korea" pada 16 Juli 2026.
Status sejarah Gunkanjima masih menjadi isu sensitif dalam hubungan Jepang dan Korea Selatan.
Di satu sisi, Jepang mengakui pulau tersebut sebagai bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO karena nilai sejarah industrialisasinya.
Di sisi lain, Korea Selatan menilai lokasi itu juga merupakan tempat di mana banyak warga Korea bekerja secara paksa selama Perang Dunia II.
Dokumenter terbaru dari mantan warga Hashima ini menambah satu lagi sudut pandang dalam perdebatan panjang mengenai sejarah Gunkanjima, yang hingga kini masih menjadi salah satu isu paling kontroversial dalam hubungan kedua negara.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com