Eskalasi Perang Iran Guncang Pasar Energi Global, Selat Hormuz Terganggu, Harga Minyak Dunia Naik
Sri Juliati July 17, 2026 03:20 PM

TRIBUNNEWS.COM - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai mengguncang pasar energi global.

Harga minyak dunia kembali menguat setelah kedua negara meningkatkan serangan militer di kawasan Teluk, sementara ancaman gangguan pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi internasional.

Al Jazeera melaporkan harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, naik 70 sen atau sekitar 0,83 persen menjadi 84,93 dolar AS per barel pada perdagangan Jumat (17/7/2026) pagi.

Sementara itu, Reuters melaporkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga naik 81 sen atau sekitar 1,03 persen menjadi 79,76 dolar AS per barel.

Kedua kontrak acuan tersebut telah menguat hampir 12 persen sepanjang pekan ini, menandai kenaikan mingguan terbesar sejak konflik kembali memanas.

Kenaikan harga dipicu meningkatnya serangan militer antara AS dan Iran di kawasan Teluk, yang memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dunia.

Selain itu, Teheran disebut telah meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur ekspor melalui Laut Merah apabila serangan Amerika Serikat terhadap Iran terus berlanjut.

Situasi tersebut memperbesar risiko terganggunya dua jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, yakni Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb.

IEA: Keamanan Pasokan Minyak Masih Jadi Isu Kritis

Baca juga: Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Suriah, Ancam Hentikan Ekspor Minyak Lewat Selat Hormuz

Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengingatkan bahwa kondisi tersebut masih menjadi ancaman serius bagi stabilitas energi global.

Berbicara dalam acara Council on Foreign Relations di Washington, Birol mengatakan dunia perlu mewaspadai perkembangan konflik beberapa pekan ke depan.

"Keamanan pasokan minyak masih merupakan isu kritis. Kita seharusnya khawatir, dan saya memang khawatir jika situasinya tidak membaik dalam beberapa minggu ke depan," ujar Birol, dikutip dari Reuters.

Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pihaknya kembali melancarkan gelombang serangan terhadap Iran untuk malam keenam berturut-turut.

CENTCOM menyebut operasi tersebut dilakukan untuk "lebih melemahkan kemampuan militer Iran" dengan menyasar infrastruktur logistik militer, fasilitas pengawasan pantai, sistem pertahanan udara, hingga kemampuan maritim Teheran.

Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Ketegangan yang terus meningkat membuat pasar energi semakin sensitif terhadap setiap perkembangan di kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz Jadi Sorotan Pasar

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling vital bagi perdagangan energi dunia.

Lebih dari 20 persen pasokan minyak global dikirim melalui selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Karena itu, setiap ancaman terhadap keamanan jalur ini hampir selalu diikuti lonjakan harga minyak dunia.

Apabila gangguan juga meluas ke Bab al-Mandeb di pintu masuk Laut Merah, distribusi energi global diperkirakan akan menghadapi tekanan yang lebih besar.

Baca juga: Media Israel: Amerika Siapkan Pukulan Telak Buat Turki Lewat Jalur Baru Minyak Irak–Suriah

Indonesia Berpotensi Terdampak

Pipeline Engineer sekaligus mitra kerja Pertamina EP Zona 9, Agita Jati Nugroho, mengatakan Indonesia perlu mewaspadai perkembangan konflik di sekitar Selat Hormuz karena masih mengimpor minyak dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan domestik.

"Dengan kondisi Hormuz, dalam hukum ekonomi saat suplai berkurang maka otomatis harga akan naik. Hal ini tentunya akan berdampak secara langsung ke kita. Apalagi jumlah yang kita impor untuk kebutuhan dalam negeri lumayan banyak," ujar Agita kepada Tribunnews.com melalui WhatsApp, Minggu (12/7/2026).

Menurut Agita, apabila konflik terus meluas dan distribusi minyak melalui Selat Hormuz terganggu, Indonesia berpotensi menghadapi kenaikan biaya impor energi.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi harga bahan bakar, meningkatkan biaya logistik, hingga mendorong tekanan inflasi di dalam negeri.

Senada dengan itu, pengamat Timur Tengah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nostalgiawan Wahyudhi, menilai konflik yang terus bereskalasi berpotensi memunculkan kebijakan yang sulit diterima masyarakat internasional, termasuk wacana pengenaan tarif di Selat Hormuz.

"Ini yang sebetulnya menjadi satu hal yang tidak rasional," kata Nostalgiawan dalam wawancara di Kompas TV, Jumat (17/7/2026).

"Saya kira bukan hanya Iran, negara-negara internasional juga akan berteriak kalau ada tarif 20 persen dari setiap muatan yang diangkut," paparnya.

Sementara itu, pakar geopolitik dan keamanan nasional Wibawanto Nugroho Widodo menilai konflik AS-Iran kini telah bergeser dari sekadar aksi saling serang menjadi kompetisi strategis untuk menunjukkan pengaruh di kawasan Teluk.

"Sekarang ini bergeser menjadi kompetisi strategis multidimensional," ujar Wibawanto.

"Masing-masing ingin menunjukkan bahwa mereka masih memiliki kredibilitas dan disegani, mampu mengendalikan kondisi di Teluk Persia, mempunyai kemampuan secara de facto mengendalikan Selat Hormuz, serta menentukan regional security complex," lanjut Wibawanto.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.