Ketika James Vowles mengambil alih posisi sebagai bos Williams F1 pada Januari 2023, tim legendaris tersebut berada pada titik terendahnya, setelah finis di posisi ke-10 klasemen dunia untuk keempat kalinya dalam lima tahun terakhir. Mantan petinggi Mercedes itu menghadapi tantangan besar; membalikkan keadaan tim ibarat mencoba mengubah arah kapal tanker raksasa, dan jelas akan membutuhkan waktu.
Vowles mulai menyusun fondasi baru dengan mengubah cara kerja lama serta merekrut orang-orang kunci. Langkah besar ia ambil pada musim panas 2024 ketika berhasil meyakinkan Carlos Sainz untuk bergabung, setelah sang pembalap Spanyol percaya pada visinya. Keduanya tampak seperti jenius ketika tim finis di posisi kelima pada kejuaraan dunia tahun lalu, dengan Sainz tampil melampaui ekspektasi pribadinya setelah berhasil meraih beberapa podium.
Namun pada tahun 2026, performa tim mengalami kemunduran. Mobil FW48 datang terlambat dan absen pada uji coba pertama di Barcelona, selain itu bobotnya juga jauh melebihi batas ideal. Meski begitu, hal tersebut tidak sepenuhnya menjelaskan buruknya performa di beberapa balapan awal. Meskipun mobil mulai menunjukkan peningkatan di lini tengah dan sesekali memungkinkan Sainz serta rekan setimnya, Alex Albon, mencetak poin di balapan dengan tingkat keausan tinggi, mobil tersebut masih memiliki masalah mendasar.
Untuk mengatasinya, Williams — mirip dengan langkah Aston Martin — memutuskan melakukan perombakan besar dengan paket perubahan signifikan yang digambarkan Vowles sebagai versi “spesifikasi B” yang akan debut di Grand Prix Azerbaijan pada bulan September. Dengan asumsi kalender tidak kehilangan dua balapan Timur Tengah yang telah dijadwalkan, Sainz dan Albon akan memiliki delapan balapan untuk meraih hasil yang lebih baik dan mendorong tim naik dari posisi ke-8 di klasemen sementara. Melakukan reset besar-besaran di pertengahan musim adalah pekerjaan yang sangat berat, sekaligus pengakuan bahwa konsep awal mobil tidak berjalan sesuai rencana.
Vowles melihat semua ini sebagai tantangan. “Dalam hal arah perjalanan kami, sebagai sebuah organisasi, kami harus membuktikan kepada diri sendiri bahwa kami mampu melakukan rekayasa dengan tingkat kualitas yang tepat dan membangun mobil dengan standar yang baik selama musim berlangsung,” ujarnya. “Secara efektif, ini seperti menerbangkan pesawat sambil membangunnya kembali dalam waktu yang bersamaan. Tapi kami harus membuktikan kepada diri sendiri bahwa kami telah berubah dibanding tiga tahun lalu, dan kami memiliki kemampuan itu. Saat ini, kami berada di jalur yang benar untuk mencapainya.”
Ia juga melihat kesamaan dengan situasi di Aston Martin, di mana Adrian Newey juga berusaha membalikkan keadaan dengan membangun mobil baru secara substansial di tengah musim. “Kami tidak memiliki sistem proses maupun struktur dasar di baliknya. Saya tahu seperti apa organisasi yang efisien, dan bahkan hingga hari ini kami masih kesulitan melakukan banyak hal yang bisa dilakukan tim lain. Dan itu adalah tanggung jawab kami untuk memperbaikinya,” kata Vowles. “Masalahnya, semua itu harus dilakukan sambil terus maju di lintasan.”
Situasi yang dialami Williams menunjukkan betapa kerasnya dunia Formula 1, terutama bagi tim-tim papan tengah yang berupaya mengejar empat tim terdepan: Mercedes, Ferrari, Red Bull, dan McLaren. Williams telah menunjukkan kemajuan dalam beberapa tahun terakhir, namun mengubah cara kerja yang mendasar membutuhkan waktu. Melakukan perubahan tersebut sambil mengembangkan mobil baru sesuai regulasi tahun ini menjadi ujian besar bagi tim.
Tidak mengherankan jika empat tim teratas berhasil membuka jarak dengan yang lain pada musim 2026, setelah sebelumnya jarak antar tim semakin menipis di bawah regulasi lama. Menjelang musim ini, tim-tim papan atas sudah memiliki semua sumber daya untuk fokus menciptakan mobil baru yang sangat kompetitif, sementara tim seperti Williams masih harus memperbaiki sistem dan proses internal dalam pengembangan mobil. Vowles menyadari bahwa 2026 akan menjadi ujian berat, namun ternyata lebih sulit dari perkiraannya. “Saya pikir kami bisa menghasilkan mobil yang sedikit kelebihan berat, tetapi secara umum selesai tepat waktu,” ujarnya. “Kami tidak pernah menargetkan menjadi tolok ukur terbaik tahun ini. Kami hanya berharap mobil bisa bekerja dengan baik. Namun kenyataannya, kami belum mencapai target itu; hasilnya di bawah ekspektasi.”
Masalah terbesar Williams selama musim dingin adalah keterlambatan jadwal. Membangun mobil F1 baru merupakan proses yang sangat kompleks, bergantung pada ribuan komponen baru yang harus melewati tahap desain, manufaktur, dan perakitan tepat waktu untuk membentuk satu kesatuan utuh. Melakukan semua itu sambil mengembangkan proses internal produksi ibarat bermain catur tiga dimensi—ketika satu bagian terganggu, seluruh jadwal bisa berantakan.
“Data pertama yang menunjukkan keterlambatan muncul terlalu lambat untuk bisa melakukan koreksi,” ujar Vowles. “Dan hal yang aneh — memang terdengar aneh, dan saya pun butuh waktu untuk memahaminya — ketika Anda tertinggal tiga minggu, seperti yang kami alami, itu tidak bisa diperbaiki. Tidak ada cara untuk mengejar ketinggalan. Karena seluruh sistem sudah terjadwal untuk berjalan pada tanggal-tanggal tertentu. Jadi ketika satu bagian gagal, semuanya ikut terganggu. Dampaknya sangat besar, dan satu-satunya cara melewatinya adalah dengan melakukan kompromi, yang terlihat dari hasil kami saat ini.”
Meskipun begitu, Vowles juga melihat sisi positif dari semua ini. Ia menganggap musim 2026 yang sulit sebagai bagian penting dari proses pembelajaran kolektif tim dalam upaya memperkecil jarak dengan para raksasa — termasuk mantan timnya sendiri. “Memahami seberapa besar kapasitas yang bisa Anda dorong melalui fasilitas operasional adalah data yang dibangun oleh Mercedes selama setidaknya sepuluh tahun,” ungkapnya. “Mungkin sejak 2010 hingga 2026. Sedangkan kami membangun data tersebut hanya dalam satu tahun, yakni musim dingin ini. Apakah hanya terkait sistem proses? Tidak, ini juga soal cara kerja dan keahlian yang berkembang bersamaan.”
Namun Vowles tetap optimistis. “Jangan pernah menyia-nyiakan krisis yang baik. Jumlah perubahan yang telah kami lakukan menempatkan kami dalam posisi yang sangat baik untuk masa depan, dan saya yakin kami tidak akan melakukan perubahan sebesar ini jika kami hanya berhasil sebagian pada musim dingin lalu,” ujarnya. “Jadi, meskipun menyakitkan, saya percaya kami memang harus melewati proses ini.”