Cerita Rakyat Indonesia Jadi Jembatan Diplomasi Budaya di International Summer School UPJ
Mochamad Dipa Anggara July 17, 2026 04:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, BINTARO - Ketika berbicara tentang diplomasi internasional, banyak orang langsung membayangkan kerja sama ekonomi, politik, atau teknologi.

Padahal, hubungan antarbangsa juga dapat dibangun melalui sesuatu yang sederhana, yaitu cerita.

Pendekatan inilah yang dihadirkan Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) dalam Pembangunan Jaya International Summer School (PJISS) 2026.

Melalui sesi bertajuk Story Time: Legends, Myths, and Meaning, mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, dan Taiwan diajak memahami keberagaman budaya melalui cerita rakyat yang hidup di masing-masing negara.

Sesi yang dipandu Clara Evi C. Citraningtyas, Ph.D., dosen Universitas Pembangunan Jaya, berkembang menjadi ruang dialog lintas budaya. Diskusi dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana.

"Apakah Taiwan dan Malaysia juga memiliki legenda tentang putri yang dikutuk?"

Pertanyaan tersebut membuka percakapan yang jauh lebih luas. Peserta mulai membandingkan legenda dari negaranya masing-masing.

Mereka menemukan bahwa meskipun tokoh, latar, dan alur cerita berbeda, banyak nilai yang ternyata memiliki kesamaan.

Ketika legenda Malin Kundang dibahas, peserta menghubungkannya dengan cerita dari negara lain yang mengangkat hubungan antara orang tua dan anak.

Saat kisah Rara Jonggrang diperkenalkan, diskusi berkembang menjadi pembahasan mengenai kesetaraan gender, keberanian, pengorbanan, hingga perjuangan melawan ketidakadilan.

Perbedaan budaya justru menjadi pintu untuk menemukan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal.

Ketika nilai-nilai universal ini ditemukan,  maka jembatan antarbudaya pun mulai dibangun sebagai fondasi kolaborasi antarbangsa.

Clara Evi C. Citraningtyas menjelaskan bahwa cerita rakyat memiliki peran yang jauh lebih besar dibanding sekadar hiburan.

"Cerita rakyat merupakan arsip budaya yang menyimpan cara suatu masyarakat memandang kehidupan. Ketika peserta saling berbagi cerita dari negaranya, mereka sebenarnya sedang belajar memahami nilai, sejarah, dan identitas budaya masing-masing," ujarnya.

Menurut Clara, pendekatan storytelling membuat pembelajaran lintas budaya menjadi lebih mudah dipahami dibanding penyampaian materi secara konvensional.

Melalui cerita, peserta tidak hanya mengenal Indonesia sebagai sebuah negara, tetapi juga memahami mengapa masyarakat Indonesia menjunjung tinggi nilai gotong royong, menghormati orang tua, menjaga hubungan dengan alam, serta membangun kehidupan yang harmonis.

Pendekatan ini juga mendorong peserta lebih aktif berdiskusi. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi ikut membandingkan legenda dari negaranya, mengajukan pertanyaan, hingga menemukan kesamaan nilai di balik berbagai cerita.

“Diskusi ini membuat saya menyadari bahwa meskipun kita dari negara yang berbeda, ada kesamaan nilai yang diajarkan melalui cerita rakyat kita,” ujar salah satu peserta dari Malaysia.

Inilah yang menjadi inti dari intercultural awareness, yaitu kemampuan memahami bahwa setiap budaya memiliki cara berbeda dalam memandang kehidupan, tanpa harus menentukan mana yang paling benar.

Indonesia sendiri memiliki modal budaya yang sangat besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, Indonesia memiliki lebih dari 1.300 kelompok etnis dengan ribuan cerita rakyat yang berkembang di berbagai daerah.

Kekayaan tersebut menjadi aset penting dalam diplomasi budaya atau soft power Indonesia di tingkat internasional.

Melalui storytelling, kekayaan budaya tersebut dapat diperkenalkan secara lebih dekat kepada masyarakat dunia.

Cerita menjadi media yang mampu membangun empati sekaligus memperkuat pemahaman lintas budaya.  

Dalam diplomasi budaya, pertukaran cerita rakyat menjadi bentuk people-to-people diplomacy yang memungkinkan masyarakat dari berbagai negara terhubung melalui nilai dan pengalaman yang mereka pahami bersama.

Pendekatan ini seringkali lebih efektif untuk membangun relasi dibandingkan bentuk negosiasi formal lainnya.

Dalam konteks pendidikan tinggi, pendekatan ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran yang lebih luas dibanding menghasilkan lulusan.

Kampus juga menjadi ruang diplomasi budaya yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk saling belajar, berdialog, dan membangun pemahaman bersama.

Program seperti Pembangunan Jaya International Summer School menjadi contoh bagaimana internasionalisasi pendidikan dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian budaya lokal.

Mahasiswa asing memperoleh pengalaman mengenal Indonesia secara langsung, sementara dosen berperan sebagai duta budaya yang memperkenalkan kekayaan intelektual dan tradisi bangsa kepada dunia.

Clara menilai bahwa kemampuan berkomunikasi lintas budaya menjadi salah satu kompetensi penting pada abad ke-21, terutama ketika mahasiswa akan bekerja dalam lingkungan global.

"Storytelling menghubungkan pengetahuan, pengalaman, refleksi, dan emosi dalam satu proses pembelajaran. Melalui cerita, peserta lebih mudah memahami budaya lain sekaligus menghargai keberagaman yang ada," katanya.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, dan komunikasi tanpa batas, cerita rakyat tetap memiliki tempat.

Nilai tentang keluarga, keberanian, tanggung jawab, kejujuran, serta harapan masih relevan bagi masyarakat modern.

Karena itulah, kisah-kisah yang telah diwariskan selama ratusan tahun tetap mampu mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara dalam satu ruang diskusi.

Melalui Pembangunan Jaya International Summer School 2026, Universitas Pembangunan Jaya menunjukkan bahwa diplomasi budaya tidak selalu dimulai dari forum resmi antarnegara.

Diplomasi dapat lahir dari ruang kelas, melalui dialog sederhana tentang cerita rakyat yang membuka jalan menuju saling pengertian, kolaborasi, dan penghargaan terhadap keberagaman budaya dunia.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.