TRIBUNJOGJA.COM - Yogyakarta dikenal memiliki banyak tradisi budaya yang masih lestari hingga sekarang.
Salah satu tradisi yang selalu menarik perhatian masyarakat adalah Saparan Bekakak yang digelar di Kelurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman.
Tradisi yang dilaksanakan setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa ini identik dengan kirab budaya dan prosesi penyembelihan boneka pengantin.
Meski terdengar unik, penyembelihan tersebut bukanlah ritual yang menyeramkan, melainkan memiliki makna sejarah dan filosofi yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Lantas, bagaimana awal mula tradisi Saparan Bekakak? Mengapa menggunakan boneka pengantin? Berikut penjelasannya.
Apa itu tradisi Saparan Bekakak?
Saparan Bekakak merupakan upacara adat masyarakat Ambarketawang yang rutin digelar setiap pertengahan bulan Sapar atau Safar dalam kalender Jawa.
Tradisi ini biasanya berlangsung antara tanggal 10 hingga 20 bulan Sapar dan menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Kabupaten Sleman.
Nama "Bekakak" sendiri berarti korban penyembelihan. Namun, korban yang dimaksud bukan manusia ataupun hewan, melainkan boneka pengantin yang dibuat dari tepung atau beras ketan.
Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa agar masyarakat diberikan keselamatan dan terhindar dari berbagai musibah.
Selain menjadi bagian dari warisan budaya Yogyakarta, Saparan Bekakak juga menjadi daya tarik wisata karena menghadirkan kirab budaya, pertunjukan kesenian tradisional, hingga prosesi adat yang masih dijaga keasliannya.
Bagaimana asal-usul tradisi Saparan Bekakak?
Sejarah Saparan Bekakak bermula setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755. Saat itu, Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana I meninggalkan Keraton Surakarta untuk mendirikan Keraton Yogyakarta.
Sebelum pembangunan keraton selesai, Hamengkubuwana I menetap sementara di Pesanggrahan Ambarketawang yang berada di kaki Gunung Gamping.
Dalam perjalanan tersebut beliau didampingi beberapa abdi dalem setia, salah satunya adalah Kyai Wirasuta.
Kyai Wirasuta dikenal sebagai sosok yang sangat loyal kepada Sultan. Ia dipercaya membawa payung kebesaran Sultan dan memilih tetap tinggal di kawasan Gunung Gamping bersama keluarganya meski Keraton Yogyakarta telah selesai dibangun.
Namun, sebuah peristiwa tragis terjadi ketika Gunung Gamping mengalami longsor dan menimbun Kyai Wirasuta beserta keluarganya. Jenazah mereka tidak pernah ditemukan.
Mendengar kabar tersebut, Hamengkubuwana I kemudian memerintahkan masyarakat untuk menggelar selamatan dan doa setiap bulan Sapar sebagai bentuk penghormatan atas jasa serta kesetiaan Kyai Wirasuta.
Tradisi itulah yang kemudian berkembang menjadi Saparan Bekakak yang masih dilestarikan hingga sekarang.
Kenapa Saparan Bekakak menggunakan boneka pengantin?
Banyak orang bertanya-tanya mengapa tradisi ini menggunakan boneka pengantin yang kemudian disembelih.
Konon, setelah meninggalnya Kyai Wirasuta, masyarakat yang bekerja sebagai penambang batu kapur di Gunung Gamping masih sering mengalami kecelakaan akibat longsor.
Saat itu berkembang kepercayaan bahwa kawasan tersebut meminta tumbal berupa sepasang pengantin.
Hamengkubuwana I tidak menginginkan adanya korban jiwa. Sebagai gantinya, beliau memerintahkan agar dibuat sepasang boneka pengantin dari beras ketan sebagai simbol pengorbanan.
Boneka tersebut diisi dengan air gula jawa berwarna merah atau juruh sehingga ketika disembelih cairannya menyerupai darah.
Simbol ini dimaksudkan sebagai pengganti tumbal manusia sekaligus bentuk doa agar masyarakat selalu diberikan keselamatan tanpa harus mengorbankan nyawa siapa pun.
Hingga kini, boneka pengantin tersebut menjadi ikon utama dalam tradisi Saparan Bekakak.
Apa saja rangkaian prosesi Saparan Bekakak?
Pelaksanaan Saparan Bekakak berlangsung selama dua hari dan diawali pada Kamis malam atau malam Jumat.
Masyarakat terlebih dahulu mengadakan tirakatan serta menyerahkan perlengkapan upacara di Balai Kelurahan Ambarketawang.
Pada malam harinya juga digelar pembacaan doa, tahlil, serta berbagai pertunjukan seni tradisional seperti uyon-uyon, macapat, hingga wayang kulit.
Sebelum kirab dimulai, warga bersama panitia menyiapkan dua pasang boneka pengantin Bekakak yang dibuat dari beras ketan. Selain itu juga disiapkan berbagai sesaji serta perlengkapan adat yang akan digunakan selama prosesi berlangsung.
Puncak acara digelar setelah Salat Jumat. Boneka pengantin kemudian diarak mengelilingi wilayah Ambarketawang bersama bregada, gunungan, kesenian tradisional, dan berbagai atraksi budaya lainnya menuju kawasan Gunung Gamping.
Sesampainya di lokasi, pemuka agama memimpin doa bersama sebelum boneka pengantin disembelih secara simbolis. Setelah prosesi selesai, bagian dari boneka Bekakak serta beberapa sesaji kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir.
Rangkaian acara ditutup dengan Sugengan Ageng di Petilasan Keraton Ambarketawang sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa untuk keselamatan masyarakat.
Apakah Gunung Gamping masih ada hingga sekarang?
Meski menjadi bagian penting dalam sejarah Saparan Bekakak, kondisi Gunung Gamping saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan masa lalu.
Selama ratusan tahun, kawasan tersebut terus ditambang untuk memenuhi kebutuhan batu kapur. Bahkan, material dari Gunung Gamping dipercaya pernah dimanfaatkan sebagai bahan pembangunan Keraton Yogyakarta dan Benteng Vredeburg.
Akibat aktivitas penambangan yang berlangsung dalam waktu lama, gunung tersebut kini tidak lagi berbentuk bukit kapur yang besar. Yang tersisa hanyalah satu bongkahan batu kapur yang kemudian ditetapkan sebagai Cagar Alam Gamping.
Selain menjadi kawasan konservasi, lokasi tersebut juga memiliki nilai penting bagi dunia geologi karena menyimpan batuan kapur purba yang diperkirakan berusia sekitar 40 hingga 50 juta tahun dan mengandung berbagai fosil biota laut.
Hingga saat ini, Cagar Alam Gamping masih menjadi lokasi utama penyelenggaraan puncak prosesi Saparan Bekakak setiap tahunnya. Tradisi tersebut menjadi pengingat akan sejarah, penghormatan kepada leluhur, sekaligus harapan agar masyarakat selalu diberikan keselamatan.
(MG ABIL PRAMUDYA)