TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kasus kejahatan digital kini marak terjadi di dalam grup WhatsApp melalui modus penipuan baru.
Pelaku memanfaatkan kelengahan di dalam grup komunitas, forum jual beli, hingga grup santai dengan menyamar sebagai admin atau perwakilan dari merek terkenal untuk menguras uang anggota.
Apalagi di WhatsApp tidak ada sistem centang biru atau verifikasi akun seperti di media sosial lain.
Alhasil, siapa saja bisa mengganti nama dan foto profil dengan mudah.
Kondisi ini membuat grup WhatsApp jadi sasaran empuk, karena obrolan biasanya mengalir cepat dan anggota jarang mengecek ulang nomor atau profil asli si pengirim pesan.
Aksi penipuan ini biasanya dimulai secara senyap.
Pelaku bisa masuk ke dalam grup dengan memanfaatkan tautan (link) undangan yang tersebar bebas di internet.
Selain itu, mereka juga kerap menyusup setelah diundang oleh anggota lain yang tidak menyadari profil asli sang pelaku.
Setelah masuk, pelaku tidak langsung menipu melainkan memantau situasi terlebih dahulu.
Begitu momennya pas, mereka mulai membagikan pesan promosi yang sekilas tampak asli.
Untuk memancing korban, pelaku menawarkan diskon besar-besaran, investasi cepat untung, atau pengumuman hadiah undian.
Semua pesan itu dibuat seolah-olah dikirim langsung oleh akun resmi brand populer.
Meskipun dibuat rapi agar korban percaya, ada beberapa ciri utama yang membedakan pesan penipuan ini dengan info resmi dari brand:
Pesan penipuan pasti menyertakan link luar.
Jika dicek teliti, alamat webnya bukan situs resmi perusahaan, melainkan situs tiruan dengan kombinasi huruf dan angka acak.
Pelaku meminta korban menghubungi nomor WhatsApp tertentu.
Nomor ini tidak punya centang hijau resmi meskipun foto profilnya memakai logo brand besar.
Pelaku sering mengirim file PDF atau gambar pengumuman pemenang.
Jika diperhatikan, dokumen tersebut hasil editan yang kualitas gambarnya pecah atau tidak rapi.
Anggota grup yang tergiur biasanya akan langsung mengklik link atau menghubungi nomor yang tertera.
Di sinilah proses penipuan dimulai lewat obrolan pribadi atau japri.
Saat mengobrol berdua, pelaku memakai gaya bahasa yang formal dan profesional agar korban yakin.
Setelah korban percaya, pelaku mulai meminta transfer uang dengan alasan untuk biaya administrasi, pajak hadiah, atau uang jaminan diskon.
Begitu uang dikirim ke rekening pelaku, nomor korban akan langsung diblokir.
Pelaku kemudian menghapus pesannya dan langsung keluar dari grup WhatsApp tersebut agar tidak bisa dilacak.
Agar tidak masuk jebakan ini, pengguna WhatsApp harus selalu mengecek ulang info yang didapat ke saluran resmi perusahaan, seperti website utama atau akun media sosial yang sudah bercentang biru sebelum bertransaksi.
Pengguna juga untuk tidak sembarangan mengklik link asing.
Di sisi lain, admin grup juga perlu menjaga keamanan kelompoknya.
Admin disarankan mengubah setelan grup agar tidak semua orang bisa mengundang anggota baru secara bebas, serta rajin menghapus pesan atau mengeluarkan nomor yang mencurigakan.