Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan, Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat pertama produksi dalam negeri hasil kolaborasi Universitas Indonesia (UI) dan Bio Farma, menjadi salah satu solusi penting dalam ekosistem One Health untuk menekan ancaman resistensi antimikroba.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan di Jakarta, Jumat, bahwa data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) dari Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sepanjang tahun 2025, kasus suspek tifoid menembus 914 ribu kasus dan hingga minggu ke-16 2026 telah mencapai 266.869 kasus.
"Angka tersebut menempatkan tifoid dalam 5 besar penyakit tertinggi dalam SKDR," katanya.
Tingginya kasus infeksi bakteri Salmonella typhi ini, katanya, memicu masifnya penggunaan antibiotik di masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran vaksin tifoid ini efektif mencegah penyakit demam tifoid akibat infeksi Salmonella typhi sejak awal, sehingga melindungi masyarakat dari risiko bakteri yang kebal obat.
"Kemandirian obat dan vaksin merupakan bagian dari ketahanan nasional. Karena itu kita harus memperkuat riset dan inovasi agar Indonesia mampu menghasilkan produk kesehatan karya anak bangsa yang memenuhi standar global," katanya.
Pihaknya pun berkomitmen untuk memastikan produk tersebut memberikan manfaat bagi publik dengan cara mengawal secara ketat proses inovasi vaksin itu, mulai dari hulu hingga hilir.
BPOM mengawal pelaksanaan uji klinik yang seluruhnya dilakukan di Indonesia atas kerja sama Bio Farma dan FKUI. BPOM secara aktif memastikan pemenuhan standar cara pembuatan obat yang baik (CPOB) terkini di fasilitas produksi, memantau keandalan rantai dingin (cold chain) dalam sistem distribusi, hingga menjalankan farmakovigilans.
Berdasarkan data e-was.pom.go.id periode Januari 2025–Juli 2026, vaksin tifoid ini telah diproduksi sebanyak 2 bets atau 84.719 vial. Sementara data Bio Farma per 13 Juli 2026 mencatat total produksi setara 208.235 dosis, dengan 30.875 dosis di antaranya telah didistribusikan.
"Guna memastikan konsistensi mutu di lapangan, unit pelaksana teknis (UPT) BPOM pada tahun 2026 juga telah melakukan sampling produk untuk diuji kembali di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN)," katanya.
Senada, Direktur Utama PT Bio Farma Shadiq Akasya mengatakan bahwa inovasi tersebut menjadi bukti bahwa sinergi lintas sektor mampu menghasilkan produk kesehatan nasional yang siap dimanfaatkan masyarakat.
"Bio-TCV bukan sekadar produk baru, tetapi hasil kolaborasi panjang yang menunjukkan Indonesia mampu mengembangkan vaksin sendiri. Kami berharap ke depan vaksin ini dapat mendukung program imunisasi nasional," katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Medical Expo FKUI 2026 Mohammad Kurniawan mengatakan, Medical Expo menjadi wadah yang mempertemukan akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem inovasi kesehatan di Indonesia.
Melalui sinergi tersebut, dia berharap semakin banyak hasil riset yang dapat dihilirisasikan menjadi produk kesehatan, memperkuat ketahanan kesehatan nasional, serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.





