TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Massa aksi gabungan yang melakukan demonstrasi di Jalan Medan Merdeka Selatan, kawasan Patung kuda, Monas, Jakarta Pusat didominasi mahasiswa dari sejumlah universitas, Jumat (17/07/2026) sore.
Meski begitu mereka tidak menggunakan almamater sebagaimana demo mahasiswa kebanyakan.
Aksi bertajuk Mosi Tidak Percaya Rezim Prabowo-Gibran ini diinisiasi Majelis Perjuangan Rakyat (MPR).
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) sekaligus Jenderal Lapangan aksi demo, Annur menjelaskan alasan di balik kenapa mereka menggunakan pakaian 'bebas'.
"Kenapa kami tidak menggunakan almamater? Karena kami tidak ingin mengotak-ngotakkan bahwasanya ini mahasiswa, ini masyarakat sipil jadi ada pembeda," kata Annur kepada wartawan di lokasi.
"Kami bergerak dengan satu, sama, dan membawa tuntutan yang sama jadi tidak ada pembeda," lanjutnya.
Annur pun mengaku tidak khawatir aksi mereka disusupi pihak yang bukan merupakan bagian dari kelompok.
Baca juga: Demo Mosi Tidak Percaya Rezim Prabowo-Girban: Pastikan Tak Ulangi Kasus BEM UBK
Pasalnya mereka telah mengatur skema antisipasi untuk hal tersebut.
"Kami sudah sepakat bahwasanya ketika ada yang provokasi itu pasti bukan dari bagian kami dan kami akan menangkap langsung orang tersebut yang melakukan provokasi," ucap Annur.
"Makanya itu adalah bentuk mitigasi risiko dari kami," pungkasnya.
Baca juga: Demo Mahasiswa ke Patung Kuda Dihalangi Polisi, Alasannya Terlalu Dekat Instansi Militer
Berdasarkan data yang disampaikan Annur, total ada 150 massa aksi dalam demonstrasi kali ini.
Berikutnya akan ada demo susulan yang sudah mereka siapkan.
Dalam aksinya, mereka sempat melakukan teatrikal.
Pantauan Tribunnews.com, seorang peserta tampak mengikat tangan dan menutup mata menggunakan kain sebagai simbol protes terhadap sikap aparat penegak hukum yang dinilai represif terhadap pejuang hak asasi manusia (HAM) dan aktivis mahasiswa yang memperjuangkan demokrasi serta keadilan bagi rakyat.
Aksi teatrikal itu berlangsung di tengah rangkaian demonstrasi yang diwarnai penyampaian orasi dan pembentangan poster berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah.
"Hanya ada satu kata, lawan," seru seorang orator melalui pengeras suara.
Orator juga menegaskan semangat massa aksi untuk terus menyuarakan aspirasi meski dibalas dengan perlakuan represif aparat hukum.
"Kami akan tumbuh dan bangun kembali," katanya.
Dalam aksi teatrikal ini, juga terdapat poster bertuliskan, "Turunkan Harga, Bubarkan Pesta Pora Militerisme Gaya Oligarki."
Melalui aksi tersebut, mahasiswa mendesak pemerintah mengambil langkah konkret untuk menurunkan harga berbagai kebutuhan masyarakat yang dinilai semakin membebani kehidupan warga.
Serta, menuntut adanya penyetopan militerisme yang mengarah pada gaya oligarki di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakilnya Gibran Rakabuming Raka.
Suarakan 3 Tuntutan
Ada tiga tuntutan yang dibawa dalam aksi Mosi Tidak Percaya Rezim Prabowo-Gibran ini:
1. Membongkar total sistem negara.
2. Menyelamatkan pendidikan Indonesia
3. Kedaulatan masyarakat sipil.