Mengapa Masakan di Jogja Cenderung Manis? Ini Alasannya
Hari Susmayanti July 18, 2026 09:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM - Saat berkunjung ke Yogyakarta, tidak sedikit orang yang menyadari bahwa cita rasa masakan di kota ini terasa berbeda dibandingkan daerah lain. 

Salah satu perbedaan yang paling sering dibicarakan adalah rasa manis yang lebih menonjol, bahkan pada masakan sehari-hari yang umumnya dikenal bercita rasa gurih atau asin.

Perbedaan tersebut kerap membuat pendatang bertanya-tanya. 

Tak sedikit yang menganggapnya unik, sementara yang lain membutuhkan waktu untuk menyesuaikan lidah. 

Meski begitu, cita rasa manis sudah lama menjadi salah satu karakter kuliner Yogyakarta yang dikenal oleh banyak orang.

Lalu, mengapa masakan di Jogja cenderung memiliki rasa yang lebih manis?

Ternyata ada beberapa faktor yang membuat cita rasa manis menjadi salah satu ciri khas masakan Yogyakarta hingga dikenal luas seperti sekarang. 

Bukan Hanya Soal Selera, tetapi Sudah Menjadi Bagian dari Budaya

Rasa manis pada masakan Jogja sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan memasak, tetapi juga memiliki hubungan dengan budaya masyarakat Jawa, khususnya yang berkembang di lingkungan Keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Penelitian menjelaskan bahwa masyarakat Jawa yang berada di kawasan budaya keraton dikenal lebih menyukai cita rasa manis dibandingkan kelompok masyarakat Jawa lainnya.

Dalam tradisi tersebut, rasa manis bukan sekadar memberi kenikmatan pada makanan, tetapi juga dipandang sebagai simbol keharmonisan, kebahagiaan, dan hubungan yang hangat antarsesama.

Karena nilai-nilai itu diwariskan dari generasi ke generasi, kebiasaan menggunakan rasa manis dalam masakan pun ikut bertahan. 

Lambat laun, cita rasa tersebut menjadi identitas kuliner yang masih bisa ditemukan hingga sekarang.

Pengaruh Sejarah Membuat Gula Semakin Dekat dengan Dapur Masyarakat

Selain budaya, sejarah juga memiliki peran besar.

Pada masa kolonial Belanda, Pulau Jawa menjadi salah satu pusat produksi tebu melalui sistem tanam paksa (cultuurstelsel)

Wilayah Yogyakarta termasuk daerah yang banyak ditanami tebu karena kondisi tanahnya yang subur. 

Produksi gula pun meningkat dan menjadi salah satu komoditas penting pada masa itu.

Ketika gula semakin mudah diperoleh, masyarakat mulai memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Bahan ini tidak hanya dipakai untuk membuat makanan penutup, tetapi juga ditambahkan ke berbagai lauk, sayur, hingga minuman.

Seiring berjalannya waktu, penggunaan gula dalam masakan menjadi kebiasaan yang terus diwariskan. 

Bahkan setelah kondisi sejarah berubah, pola memasak tersebut tetap bertahan karena sudah sesuai dengan selera masyarakat setempat.

Inilah sebabnya mengapa hingga sekarang banyak masakan rumahan maupun hidangan di warung makan Jogja masih mempertahankan sentuhan rasa manis.

20261807- Ilustrasi makanan manis
ILUSTRASI- Rasa manis menjadi salah satu ciri khas masakan Jogja.(Generated by ChatGPT)

Baca juga: Laju Penyaluran Pembiayaan UMKM Capai Rp 167 Triliun, Akses Pasar dan Legalitas Usaha Jadi Prioritas

Itulah Mengapa Banyak Masakan Terasa Berbeda

Banyak orang mengira hanya gudeg yang bercita rasa manis. 

Padahal, yang sering membuat pendatang terkejut justru makanan yang sebenarnya umum ditemukan di berbagai daerah.

Misalnya nasi goreng. Di beberapa daerah, nasi goreng lebih dominan gurih, asin, atau pedas. 

Sementara di Jogja, tidak sedikit penjual yang menambahkan kecap manis atau gula sehingga rasanya menjadi lebih lembut dan sedikit legit.

Hal serupa juga bisa dijumpai pada oseng tempe, mi goreng, capcay, sayur lodeh, hingga beberapa jenis sambal goreng. 

Bukan berarti semua warung memasak dengan resep yang sama, tetapi banyak di antaranya menyesuaikan bumbu dengan selera masyarakat setempat yang memang sudah terbiasa dengan rasa manis.

Karena itulah, wisatawan dari daerah yang terbiasa dengan cita rasa gurih atau pedas sering kali langsung menyadari perbedaan tersebut.

Namun, apakah itu berarti semua makanan di Jogja pasti manis?

Tidak Semua Masakan Jogja Manis

Masih banyak hidangan khas Yogyakarta yang justru didominasi rasa gurih ataupun pedas.

Misalnya sate klathak yang hanya dibumbui sederhana dengan garam dan rempah, oseng mercon yang terkenal karena rasa pedasnya.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa kuliner Yogyakarta sebenarnya cukup beragam. 

Hanya saja, karena banyak masakan sehari-hari menggunakan tambahan gula atau kecap manis, kesan "Jogja identik dengan rasa manis" akhirnya lebih melekat di benak banyak orang.

Selain itu, setiap rumah makan juga memiliki resep yang berbeda. 

Ada yang mempertahankan cita rasa tradisional, tetapi ada pula yang sengaja mengurangi kadar manis agar lebih sesuai dengan selera wisatawan dari berbagai daerah.

Selera Makan Juga Dibentuk oleh Kebiasaan

Mengapa masyarakat Jogja tetap nyaman dengan cita rasa yang menurut sebagian pendatang terasa cukup manis?

Salah satu alasannya adalah karena selera makan tidak sepenuhnya dibawa sejak lahir, tetapi juga terbentuk melalui kebiasaan. 

Para ahli gizi menjelaskan bahwa seseorang yang sejak kecil terbiasa mengonsumsi makanan dengan cita rasa tertentu cenderung menganggap rasa tersebut sebagai sesuatu yang normal dan familiar.

Itulah sebabnya, masyarakat yang tumbuh di Yogyakarta mungkin tidak merasa masakannya terlalu manis. 

Sebaliknya, pendatang dari daerah yang lebih terbiasa dengan rasa asin, gurih, atau pedas bisa langsung menyadari perbedaannya ketika mencicipi makanan yang sama.

Setiap daerah memiliki karakter kuliner yang berkembang sesuai sejarah, budaya, bahan pangan, dan kebiasaan masyarakatnya.

Rasa Manis Menjadi Salah Satu Identitas Kuliner Jogja

Bagi sebagian orang, rasa manis pada masakan Jogja mungkin membutuhkan waktu untuk dibiasakan. 

Namun, bagi yang sudah terbiasa, cita rasa tersebut justru menjadi sesuatu yang dirindukan.

Inilah yang membuat kuliner Yogyakarta memiliki ciri khas tersendiri. 

Ketika orang menyebut makanan Jogja, yang teringat bukan hanya gudeg, tetapi juga sentuhan rasa manis yang sering hadir pada berbagai masakan sehari-hari.

Meski zaman terus berubah dan selera masyarakat semakin beragam, banyak warung makan maupun rumah tangga di Yogyakarta yang tetap mempertahankan karakter tersebut sebagai bagian dari tradisi kuliner daerah.

(MG Mayumi Cinta Mahesi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.