TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Pemerintah meluncurkan program beasiswa untuk pelajar di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Kalimantan Barat Tahun ajaran 2026/2027 dari pemerintah pusat.
Beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) ini diberikan kepada siswa berprestasi dan tidak mampu untuk melanjutkan ke jenjang SMA dan SMK Negeri unggulang yang ada di Kota Pontianak.
Seluruh biaya pendidikan, biaya hidup, hingga tempat tinggal ditanggung pemerintah.
Siswa dari sejumlah daerah ini harus berpisah dari keluarga mereka yang berasal dari sejumlah daerah di Kalimantan Barat.
Prosesi serah terima sekaligus pembekalan siswa dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Syarif Faisal Indahmawan Alkadri, di Hotel Gajahmada Pontianak, Jumat 17 Juli 2026 kemarin.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan dari kabupaten asal peserta serta kepala SMA dan SMK Negeri di Pontianak yang menjadi sekolah penerima Program ADEM 3T.
Suasana haru tampak menyelimuti acara ketika para orang tua melepas putra-putri mereka untuk pertama kalinya menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman.
Baca juga: Cara Daftar BSI Scholarship Berdampak 2026, Beasiswa UKT hingga 8 Semester untuk Mahasiswa Baru PTN
Sebanyak 50 siswa akan menempuh pendidikan di tujuh sekolah negeri yang telah ditunjuk sebagai penerima Program ADEM.
Sekolah tujuan tersebut meliputi:
1. SMA Negeri 1 Pontianak
2. SMA Negeri 3 Pontianak
3. SMA Negeri 7 Pontianak
4. SMA Negeri 8 Pontianak
5. SMK Negeri 1 Pontianak
6. SMK Negeri 5 Pontianak
7. SMK Negeri 9 Pontianak
Setiap sekolah menerima sekitar lima hingga enam peserta didik.
Para siswa nantinya akan tinggal bersama orang tua asuh yang sebagian besar merupakan guru di sekolah masing-masing sehingga proses pembinaan akademik maupun karakter dapat berlangsung lebih optimal.
Peserta Beasiswa ADEM berasal dari berbagai wilayah 3T di Kalimantan Barat, di antaranya:
1. Kabupaten Sintang
2. Kabupaten Kapuas Hulu
3. Kabupaten Bengkayang
4. Kabupaten Sanggau
5. Kabupaten Sambas
Selain itu, program ini juga menjangkau wilayah perbatasan seperti Ketungau dan Badau.
Seluruh peserta telah melalui proses seleksi di tingkat kabupaten berdasarkan usulan pemerintah daerah dengan mempertimbangkan prestasi akademik dan indikator lain yang telah ditetapkan pemerintah.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadri, mengatakan Program ADEM menjadi salah satu strategi pemerintah untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi siswa-siswa berprestasi dari wilayah 3T.
Menurutnya, kualitas pendidikan di Kalimantan Barat kini semakin merata.
"Kalau melihat perangkingan UTBK, sekitar 30 sekolah terbaik sudah tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Barat. Ini menunjukkan pemerataan kualitas pendidikan terus mengalami kemajuan. Salah satu upaya mendukung pemerataan tersebut adalah melalui Program ADEM yang telah berjalan sejak 2012," ujarnya.
Ia berharap seluruh peserta mampu memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya.
"Kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kalian akan belajar di sekolah-sekolah terbaik, sehingga harus mampu menyesuaikan diri, menjaga sikap, disiplin, dan menunjukkan prestasi. Buktikan bahwa siswa dari daerah 3T memiliki kemampuan yang sama dan mampu bersaing," tegasnya.
Faisal juga meminta orang tua tetap aktif berkomunikasi dengan sekolah maupun orang tua asuh selama anak mengikuti pendidikan di Pontianak.
"Jika ada kendala, segera sampaikan agar dapat segera ditindaklanjuti dan dicarikan solusi bersama. Komunikasi yang baik menjadi kunci keberhasilan program ini," katanya.
Bukan Sekadar Bantuan untuk Keluarga Kurang Mampu
Faisal menegaskan Program ADEM bukan hanya diperuntukkan bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Peserta dipilih karena memiliki prestasi akademik dan berasal dari wilayah 3T yang membutuhkan akses pendidikan lebih luas.
"Peserta dipilih melalui proses seleksi di tingkat kabupaten berdasarkan rekomendasi Dinas Pendidikan setempat. Nilai akademik menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan penerima beasiswa," jelasnya.
Pemerintah pusat menanggung seluruh kebutuhan peserta selama mengikuti pendidikan.
"Pemerintah pusat menanggung biaya pendidikan dan biaya hidup mereka. Untuk tempat tinggal, mereka akan didampingi oleh orang tua asuh yang berasal dari guru-guru di sekolah penerima sehingga pembinaan terhadap siswa dapat berjalan lebih maksimal," ungkap Faisal.
Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) telah dijalankan pemerintah sejak 2012 sebagai bentuk pemerataan akses pendidikan bagi peserta didik dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Hingga Tahun Ajaran 2026/2027, program ini masih terus dilaksanakan pemerintah pusat dengan kuota penerima yang ditetapkan setiap tahun sesuai kebijakan dan alokasi anggaran nasional.
Melalui program tersebut, pemerintah berharap semakin banyak generasi muda dari daerah 3T memperoleh kesempatan belajar di sekolah unggulan, meningkatkan daya saing, sekaligus kembali membangun daerah asalnya setelah menyelesaikan pendidikan.
Salah satu sekolah penerima, SMK Negeri 1 Pontianak, mengaku telah tiga tahun membina peserta Program ADEM.
Kepala SMK Negeri 1 Pontianak, Anis Sarifudin Adi, mengatakan kemampuan siswa asal daerah tidak kalah dengan siswa di perkotaan.
"Selama tiga tahun menerima siswa ADEM dari berbagai kabupaten di Kalimantan Barat, kami melihat kemampuan mereka sangat baik. Bahkan tidak pernah ada yang tidak naik kelas. Mereka mampu bersaing dengan siswa lainnya," ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar justru berada pada masa adaptasi.
"Yang paling penting di awal adalah bagaimana mereka bisa menyesuaikan diri. Dulu segala sesuatu diatur oleh orang tua, sekarang mereka harus belajar mandiri. Selain itu, rasa rindu kepada keluarga juga menjadi tantangan karena baru pertama kali berpisah," katanya.
Ia berharap orang tua terus memberikan dukungan selama anak menjalani pendidikan.
"Dorongan dan motivasi dari orang tua sangat penting. Komunikasi antara sekolah, orang tua, siswa, dan Dinas Pendidikan juga harus terus dijaga. Kalau ada kendala, kita segera koordinasikan agar bisa dicarikan solusi bersama. Selama tiga tahun ke depan kami akan membina anak-anak ini sebaik mungkin," tambahnya.
Kebahagiaan juga dirasakan Evi, orang tua siswa asal Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang.
Putrinya berhasil lolos seleksi dan akan melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 9 Pontianak.
"Saya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara program ini. Sebagai orang tua tentu saya sangat bangga. Anak saya dulu juara tiga di sekolah dan mengikuti seleksi Program ADEM. Awalnya kami hanya berharap dia bisa sekolah dekat rumah, tetapi ternyata lulus dan mendapat beasiswa. Ini benar-benar anugerah," ujarnya.
Evi yang sehari-hari bekerja sebagai petani berharap putrinya mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meraih prestasi sekaligus menjadi kebanggaan keluarga dan daerah asalnya.