AS Perkuat Armada Perang, F-16 dan F-35 Dikerahkan ke Timur Tengah saat Iran Makin Agresif
Nanda Lusiana Saputri July 18, 2026 11:19 AM

TRIBUNNEWS.COM – Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan kekuatan militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan tambahan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dan F-35 Lightning II.

Tak hanya mengirim jet tempur, Pentagon juga mengerahkan pesawat tanker pengisian bahan bakar di di tengah kembali memanasnya konflik antara Washington dan Teheran setelah gencatan senjata kedua negara dilaporkan runtuh.

Berdasarkan laporan Air & Space Forces Magazine, Pentagon mempercepat pengiriman pesawat tempur sebagai bagian dari penguatan operasi militer Amerika Serikat di kawasan.

Pesawat yang dikirim meliputi F-16 Fighting Falcon milik Skuadron Tempur ke-480 yang berpangkalan di Spangdahlem, Jerman, serta F-35 Lightning II dari Sayap Tempur ke-48 yang berbasis di RAF Lakenheath, Inggris.

Peningkatan kekuatan militer AS terjadi setelah hubungan Washington dan Teheran kembali memburuk menyusul gagalnya mempertahankan gencatan senjata.

Perselisihan terkait situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia, disebut menjadi pemicu utama meningkatnya ketegangan.

Sejak gencatan senjata berakhir, pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan meningkatkan intensitas serangan udara terhadap sejumlah target di wilayah Iran. Serangan tersebut menyasar berbagai infrastruktur strategis, termasuk jembatan dan fasilitas yang dinilai memiliki nilai militer.

Oleh karena itu AS berdalih pengerahan pesawat tempur dilakukan selain memperkuat armada tempur, namun untuk memperpanjang jangkauan operasi pesawat tempur selama menjalankan misi di wilayah konflik.

Baca juga: Analisis Guru Besar UI dan Peneliti soal Ancaman Trump Serang Fasilitas Sipil Iran

F-16 yang Baru Kembali Kini Dikirim Lagi

Menariknya, pesawat F-16 'Wild Weasels' dari Skuadron Tempur ke-480 sebenarnya baru saja menyelesaikan penugasan sebelumnya di Timur Tengah dan kembali ke Jerman.

Namun, hanya beberapa pekan setelah tiba di pangkalan asalnya, unit yang memiliki spesialisasi menghancurkan sistem pertahanan udara musuh itu kembali diperintahkan menuju kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, Amerika Serikat sempat menarik sebagian armada udara yang diterjunkan dalam Operasi Epic Fury. Beberapa pesawat pengebom B-52H Stratofortress telah dipulangkan dari Inggris ke Amerika Serikat, sementara sejumlah B-1B Lancer masih disiagakan untuk mendukung operasi apabila diperlukan.

Selain itu, pesawat tempur F-22 Raptor, F-15E Strike Eagle, dan A-10 Thunderbolt II juga telah kembali ke pangkalan masing-masing setelah menyelesaikan penugasan.

Meski demikian, sebagian besar kekuatan udara Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS masih tetap berada di kawasan Timur Tengah.

AS Perluas Operasi Militer dan Perketat Tekanan terhadap Iran

Di balik pengerahan tambahan jet tempur tersebut, Amerika Serikat juga dilaporkan kembali memberlakukan blokade militer terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Washington turut memperluas cakupan serangan udara dengan menargetkan lebih banyak fasilitas di dalam wilayah Iran.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan, serangan udara yang dilakukan selama tujuh hari berturut-turut bertujuan untuk melemahkan kemampuan militer Iran.

Operasi ini disebut sebagai peningkatan konflik terbesar sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman pada Juni lalu.

Sebagai respons atas meningkatnya tekanan militer Amerika Serikat, Iran juga meningkatkan intensitas serangan balasan. Laporan menyebutkan sebuah pembangkit listrik dan fasilitas desalinasi air di Kuwait menjadi sasaran serangan.

Lebih lanjut, Iran juga melancarkan serangan ke wilayah Qatar dan Oman, dua negara yang selama ini menjadi lokasi penting bagi kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Sebelumnya, setelah gencatan senjata yang tercapai pada April usai enam pekan kampanye udara intensif, Iran lebih banyak memusatkan serangannya ke pangkalan-pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai respons atas meningkatnya ketegangan.

Namun, dalam beberapa hari terakhir, cakupan serangan Iran dilaporkan semakin meluas. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa konflik yang semula hanya melibatkan Amerika Serikat dan Iran berpotensi berkembang menjadi konflik regional yang lebih besar.

Risiko Eskalasi Semakin Besar

Pengerahan tambahan jet tempur F-16 dan F-35 menunjukkan Amerika Serikat tengah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas dengan Iran.

Di sisi lain, respons militer Iran yang semakin agresif terhadap kepentingan AS dan negara-negara sekutunya menambah kekhawatiran bahwa ketegangan tidak lagi terbatas pada kedua negara.

Apabila situasi terus memburuk, Timur Tengah diperkirakan akan menghadapi salah satu eskalasi militer terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Dampaknya tidak hanya mengancam stabilitas keamanan kawasan, tetapi juga berpotensi mengganggu jalur perdagangan global, terutama di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.