Potret Senja di Madukismo, Kereta Lori Tua Jadi Hiburan 'Mewah' dan Gratis
Hari Susmayanti July 18, 2026 01:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM – Matahari mulai turun di sore hari, berbarengan dengan deretan truk pengangkut tebu yang memadati area Pabrik Gula Madukismo, Bantul.

Saat corong asap pabrik mulai mengepul pekat, itu pertanda jam produksi gula dimulai.

Di sekitar area pabrik, deretan truk dan kereta tampak berjajar menunggu giliran mengangkut tebu.

Namun, ada pemandangan menarik di luar urusan produksi.

Fokus warga sekitar dan anak-anak rupanya bukan pada bangunan pabriknya.

Melainkan pada kereta dan truk pengangkut tebu yang mulai beroperasi ketika sore hari.

Sisi Lain PG Madukismo

Musim giling di Madukismo bukan sekadar agenda industri tahunan.

Musim giling ini justru adalah kegiatan yang paling dinanti oleh warga.

Hari-hari di luar musim giling, rel kereta biasanya sepi karena tidak ada aktivitas pengolahan gula.

Ketika musim giling tiba, sekitaran rel kereta mendadak ramai oleh orang tua yang membawa anaknya untuk melihat kereta pengangkut tebu masuk ke dalam lingkungan pabrik.

Sekitaran rel kereta mendadak seperti taman bermain lintas generasi.

Di satu sisi anak-anak gembira karena melihat kereta, sisi lain para orang tua bernostalgia pada masa lalu mereka tentang PG Madukismo.

Hiburan dan Harmoni Warga

(17/7/2026) Rel kereta lori
Di pinggiran rel, ramai orang tua beserta anaknya menanti kereta lewat

Keramaian ini tidak berlangsung sepanjang hari.

Kereta dan truk mulai beroperasi dari jam sepuluh pagi hingga mencapai puncaknya di waktu sore.

"Paling ramai memang kalau sudah masuk waktu sore, Mas. Tapi kalau siang sekitar jam sedasa pagi pun, biasanya juga sudah ada yang menunggu lori lewat," ujar Kamto, warga sekitar Madukismo.

Warga sekitar Madukismo yang hidup berdampingan dengan hiruk pikuk pabrik merasa tidak terganggu dengan adanya truk yang berlalu-lalang.

Warga sudah biasa mendengar bising yang dihasilkan dari kereta hingga aroma tidak sedap yang dihasilkan dari dalam pabrik.

"Mboten, Mas. Mboten wonten protes. Sudah biasa," ujar Kamto.

Kamto sendiri menegaskan dari dulu sudah hidup berdampingan dengan dinamika pabrik.

Justru, Kamto senang karena ada hiburan yang bisa dinikmati bersama anak dan cucunya.

Pekerja pengangkut tebu ini mayoritas dari sekitaran Pabrik Gula Madukismo.

Ada juga yang didatangkan dari luar kota seperti Jawa Timur.

Di Balik Roda Ekonomi

(17/7/2026) Deretan truk pengangkut tebu
Deretan truk menunggu giliran untuk mengantarkan tebu ke dalam pabrik

Bergeser dari keriuhan anak-anak di pinggiran rel kereta, Pabrik Gula Madukismo punya cerita lain yang tidak kalah menarik.

Lewat jam sepuluh pagi, ketika matahari mulai meninggi, di situ antrean sesungguhnya dimulai.

Truk-truk pengangkut tebu tampak berbaris panjang, mengular seperti gerbong besi tak berujung. 

Barisan truk pengangkut tebu itu membelah jalanan berdebu menuju gerbang utama pabrik.

Tidak ada pergerakan yang terburu-buru bahkan tak jarang truk tebu hanya menderu pelan atau mesinnya sengaja dimatikan.

Udara mulai dipenuhi polusi yang khas, campuran antara sangit asap knalpot dan aroma tebu yang terkena terik matahari. 

"Sehari kadang cuma bisa masuk satu kali, Mas... Kalau lagi beruntung dan sepi, ya bisa dua kali angkut," ujar Sismadi, sopir truk tebu.

Bagi para sopir, antrean panjang bahkan bisa berjam-jam semacam ini sudah menjadi rutinitas harian setiap kali musim panen tiba.

Dari luar kaca jendela kabin yang terbuka setengah, para sopir terlihat mencari cara masing-masing untuk menghilangkan bosan dan lelah.

Ada sopir yang sekadar duduk santai sambil merokok, ngobrol dengan sesama sopir, hingga memilih tidur siang sejenak di bangku kemudi.

Sampai giliran truk berjalan menuju gerbang Pabrik Gula Madukismo.

"Saking macem-macem, Mas. Wonten sing saking perbatasan Pati, Solo, Karanganyar, malah wonten sing lebih tebih," tegas Sismadi.

Sismadi menegaskan bahwa tebu yang diangkut truk kebanyakan berasal dari luar kota, ada juga tebu yang berasal dari lahan di Bantul.

Menjelang pukul enam sore, keramaian warga di pinggir rel Madukismo perlahan mulai bubar. 

Saat matahari semakin turun dan lokomotif pembawa lori tebu terakhir akhirnya ditarik masuk melewati gerbang pabrik, tontonan utama pun sudah berakhir.

Para orang tua terlihat mulai membawa anak-anak mereka untuk pulang. 

Beberapa anak masih tampak antusias menengok ke arah rel yang sudah kosong.

Sementara yang lain berjalan sambil menikmati jajanan yang dibeli dari pedagang keliling di sekitar lokasi Madukismo.

Pemandangan sore di kawasan Madukismo ini menjadi bukti nyata bahwa hiburan keluarga tidak melulu harus mahal.

Di tengah padatnya aktivitas musim giling yang identik dengan suara bising mesin dan antrean panjang truk.

Area rel kereta ini justru sukses berubah menjadi fasilitas hiburan dadakan bagi warga Bantul dan sekitarnya.

Hanya dengan duduk menonton lokomotif tua lewat membawa tumpukan tebu, anak-anak sudah bisa tertawa senang.

Sebuah hiburan sore yang sederhana, gratis, namun selalu ramai ditunggu setiap musim panen.

(MG Fauzan Ardana)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.