TRIBUNKALTARA.COM, SENDAWAR – Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur sedang banjir ikan sungai, sampai-sampai harganya anjlok jadi Rp 1.000 per kilogram.
Kampung Muara Beloan dikenal sebagai sentra penghasil ikan air tawar di Kutai Barat.
Berbagai jenis ikan yang dihasilkan adalah haruan, baung, patin, jelawat, biawan, hingga kendia.
Baca juga: Ekspedisi Rupiah Berdaulat 2026, KRI Ajak-653 Bawa Rp 6 Milliar di Wilayah 3T Kaltara dan Kaltim
Melimpahnya ikan hingga memuat harga anjlok, salah satunya disebabkan arena fenomena tahunan Bangai.
Fenomena Bangai ditandai dengan munculnya ikan air tawar yang memenuhi permukaan sungai Beloan, jumahya bisa jutaan ekor.
Bangai hanya muncul setelah banjir diikuti musim kemarau.
Dalam sejumlah video yang viral, jutaan ikan tampak bergerombol memenuhi permukaan sepanjangan Sungai Beloan yang mancapai belasan kilometer.
Warga setempat pun memanfaatkan fenomena ini dengan menangkap ikan menggunakan jala, sero, hingga tombak.
Petinggi Kampung Muara Beloan, Rudy Suhartono, membenarkan fenomena tersebut merupakan siklus alam yang hampir selalu terjadi setiap tahun setelah banjir besar.
Menurutnya, Kampung Muara Beloan memiliki kawasan perairan sekitar 8.430 hektare dengan sekitar 95 persen berupa rawa, baik rawa dalam maupun rawa dangkal.
Selain itu terdapat dua danau besar, yakni Danau Paut dan Danau Beranda, yang menjadi habitat alami berbagai jenis ikan air tawar.
"Ketika banjir datang, ikan-ikan dari sungai masuk ke danau dan rawa untuk mencari makan sekaligus berkembang biak. Saat air mulai surut dan cuaca panas, ikan-ikan itu keluar secara berbondong-bondong menuju alur sungai. Masyarakat Kutai menyebut fenomena ini Bangai," ujar Rudy, seperti dikutip dari TribunKaltim.co, Jumat (17/7/2026).
Ia menjelaskan, fenomena kemunculan ikan dapat berlangsung selama tiga hari hingga dua minggu, tergantung kondisi cuaca.
Jika hujan turun, permukaan air kembali naik sehingga ikan menyebar.
Sebaliknya, saat musim kemarau berlangsung lebih lama, jutaan ikan akan terus memenuhi permukaan sungai.
"Ikan ikan yang bermunculan itu yang saat ini menjadi viral.ikan air tawar jenis biawan dan kendia," jelasnya.
Rudy mengatakan hamparan ikan tersebut dapat membentang sepanjang 15 hingga 20 kilometer mengikuti alur Sungai Beloan.
"Ikan ikan itu jenis biawan dan kendia timbulan semua atas sepanjang sungai" jelasnya.
Kampung Muara Beloan sendiri dikenal sebagai salah satu sentra penghasil ikan air tawar terbesar di Kutai Barat.
Berbagai jenis ikan seperti haruan, baung, patin, jelawat, biawan, hingga kendia menjadi hasil tangkapan utama masyarakat.
Namun melimpahnya hasil tangkapan justru membuat harga ikan di tingkat nelayan merosot tajam.
"Dulu sempat laku Rp5 ribu per kilogram, kemudian turun menjadi Rp2 ribu, bahkan sampai Rp1.000 per kilogram karena terlalu banyak ikan dan tidak ada lagi yang membeli," katanya.
Menurut Rudy, pemerintah kampung sebenarnya telah berupaya memasarkan hasil tangkapan ke daerah lain.
Akan tetapi, keterbatasan akses transportasi serta belum tersedianya fasilitas pengolahan ikan dalam skala besar menjadi hambatan utama.
Ia juga mempersilakan masyarakat dari luar daerah datang untuk menangkap ikan.
Namun, ia mengingatkan agar tidak turun langsung ke alur sungai karena dapat mengeruhkan air dan mengganggu keramba milik warga.
"Kami tidak melarang orang mengambil ikan, tetapi tetap harus menjaga adab dan lingkungan. Jangan sampai air menjadi keruh karena bisa menyebabkan ikan di keramba warga mati," tegasnya.
Rudy menambahkan, intensitas fenomena Bangai berbeda setiap tahun.
Besar kecilnya kemunculan ikan sangat dipengaruhi lamanya banjir, musim kemarau, serta kondisi curah hujan di wilayah tersebut. (*)