Akses Kapal Terbatas, 20,7 Persen Warga Fakfak Terpaksa Tidur di Pelabuhan Sorong
Roifah Dzatu Azmah July 18, 2026 03:44 PM

Laporan jurnalis TribunPapuaBarat.com, Aldi Bimantara

TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK - Menyusul akses transportasi laut yang masih terbatas, sebanyak 20,7 persen warga yang mengisi form Survei Akses Transportasi Laut Fakfak mengaku pernah sampai harus tidur di Pelabuhan Sorong untuk menunggu jadwal keberangkatan kapal selanjutnya. 

Hingga kini, layanan kapal menuju sejumlah daerah di Tanah Papua, termasuk Manokwari dan Jayapura, masih terbatas.

Masyarakat praktis hanya bergantung pada KM Sabuk Nusantara dan KM Kalabia, sebagai penghubung menuju Sorong dari Fakfak, baru kemudian melanjutkan perjalanan atau penyesuaian jadwal keberangkatan dengan kapal lain. 

Begitupun sebaliknya, warga Fakfak dari Manokwari dan Jayapura yang akan kembali ke Kota Pala, harus turun ke Sorong dan menyesuaikan dengan rute kapal lain. 

Dari survei yang telah dilakukan, masyarakat ditanya seberapa sering menggunakan transportasi laut, khususnya Kapal Pelni untuk bepergian ke Sorong, Jayapura, dan Manokwari. 

Lalu hasilnya, 48,3 persen warga Fakfak mengaku cukup sering bepergian ke 3 kota tersebut, 27,6 persen sangat sering, 13,8 persen mengaku sering, dan 10,3 persen mengaku sering. 

Selanjutnya, warga Fakfak sebanyak 75,9 persen memilih menggunakan transportasi laut  atau kapal dibanding pesawat karena dinilai lebih murah dan 20,7 persen memilih berangkat dengan kapal karena memperhatikan aspek jarak di mana letak Pelabuhan Kapal lebih dekat dari kota. 

Baca juga: Jadwal Kapal Pelni Pontianak-Tanjung Pandan Juli 2026, Simak Keberangkatan Terdekat

Secara mengejutkan, dalam survei tersebut, setidaknya ada 20,7 persen yang mengaku harus menginap di Pelabuhan Sorong sembari menunggu rute kapal selanjutnya yang akan membawa mereka ke Fakfak, mengingat, minimnya ataupun nihilnya kapal dengan rute langsung Manokwari - Fakfak maupun Jayapura - Fakfak.

Sementara sebanyak 44,8 persen, warga Fakfak yang mengisi survei menentukan jawaban yakni memilih menginap di rumah keluarga, kerabat, ataupun teman. 

Lalu, 10,3 persen memilih menginap menunggu jadwal kapal selanjutnya di kos-kosan, 17,2 persen memilih menginap di hotel, dan 6,9 persen memilih kategori lainnya.

Pada poin berikut, imbas dari tidak adanya kapal dengan rute langsung Fakfak - Manokwari ataupun Fakfak - Jayapura begitupun sebaliknya, maka ini membuat pengeluaran warga untuk biaya perjalanan membengkak. 

Sebanyak 62,1 persen responden mengaku mengeluarkan biaya perjalanan, termasuk penginapan di Sorong, lebih dari Rp1 juta.

KAPAL PELNI - KM Ciremai saat bersandar di Pelabuhan laut Kabupaten Fakfak Papua Barat, Jumat (21/11/2025).
KAPAL PELNI - KM Ciremai saat bersandar di Pelabuhan laut Kabupaten Fakfak Papua Barat, Jumat (21/11/2025). (TribunPapuaBarat.com/Aldi Bimantara)

Harapan Warga Fakfak

Dalam komentar yang diberikan kepada TribunPapuaBarat.com, secara umum masyarakat sangat berharap adanya Kapal Pelni dari Fakfak yang melayani rute langsung ke sejumlah kota di Tanah Papua, khususnya Manokwari dan Jayapura. 

"Kami berharap, sebagai masyarakat yang keseharian menggunakan transportasi laut atau kapal putih (Kapal Pelni) agar ini cepat direalisasikan karena sangat vital kebutuhannya untuk masyarakat," tegas warga Fakfak, Jumadil kepada TribunPapuaBarat.com di Fakfak, Sabtu (18/7/2026). 

Bahkan dalam kolom survei, ada yang menganggap sebetulnya ini merupakan permasalahan sederhana di mana OPD terkait tinggal melakukan kajian kebutuhan untuk pengguna kapal laut dan pesawat, agar bisa dimohonkan untuk rute kapal maupun pesawat langsung. 

"Kami berharap semoga Fakfak kembali seperti dulu lagi, di mana ke mana-mana kapal selalu ada," katanya.

DPRK Fakfak juga tak luput dari sorotan masyarakat dalam survei tersebut, di mana warga meminta kepastian aksesibilitas untuk rute lintas Papua karena menurut hemat warga mereka layak mendapatkan layanan transportasi inklusif. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.