Siapa Sebenarnya Ketua Gibranisti yang Laporkan Ijazah S3 Roy Suryo? Namanya Taufik Bilfaqih
Darwin Sijabat July 18, 2026 04:11 PM

 

TRIBUNJAMBI.COM – Sosok Taufik Bilfaqih mendadak menjadi sorotan nasional setelah secara berani melaporkan pakar telematika KRMT Roy Suryo ke Polres Metro Jakarta Selatan terkait polemik validasi gelar doktor di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). 

Publik pun bertanya-tanya mengenai rekam jejak Ketua Umum Gibranisti—kelompok relawan pendukung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka—yang berani mengusik sisi akademik mantan Menpora tersebut.

Ternyata, Taufik bukanlah orang baru di dunia pergerakan dan politik. 

Pria yang aktif di media sosial melalui kanal YouTube Bang Bill Offside serta laman Facebook Tifosi Gibranisti ini memiliki latar belakang yang sarat dengan pengalaman organisasi, birokrasi pemilu, hingga dunia akademik yang mentereng.

Rentetan Gelar Akademik hingga Dunia Kripto

Menilik riwayat pendidikannya, Taufik memiliki modal akademik yang tidak bisa dipandang sebelah mata. 

Setamatnya dari MAN Model Manado pada tahun 2004, ia langsung menempuh pendidikan tinggi secara spartan. 

Ia menyelesaikan studi S-1 di STAN Samarinda (2004–2009), lalu melanjutkan program S-2 di Universitas Sam Ratulangi Manado (2010–2013). 

Tidak berhenti di sana, ia sukses meraih gelar S-3 Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Manado (2019–2023).

Karier akademiknya pun terbilang aktif. 

Baca juga: Bukan Ijazah Palsu, Gibranisti Bongkar Keanehan Prosedur S3 UNJ Roy Suryo

Baca juga: Beda Nasib: Eks Jampidsus Febrie Melenggang Pulang, Don Ritto Berompi Pink

Taufik tercatat pernah memimpin sebagai Kepala Sekolah SMA Alhikam pada medio 2015 hingga 2017. 

Kemampuannya di dunia pendidikan juga membawanya menjadi dosen di IAIN Manado sepanjang tahun 2016 sampai 2018.

Di luar dunia formal, Taufik merupakan sosok yang adaptif terhadap perkembangan zaman. 

Di laman Facebook pribadinya, ia mencantumkan rekam jejak sebagai pekerja di platform kripto Indodax sejak tahun 2014 hingga sekarang, sekaligus aktif sebagai trader di Octafx Investment. 

Jiwa kepemimpinannya juga terasah di berbagai organisasi masyarakat, mulai dari Ketua Yayasan Al Hikam Cinta Indonesia (2006–2023), Ketua PWNU Lesbumi Sulawesi Utara (2015–2019), hingga Koordinator Gusdurian Manado (2016–2023).

Mundur dari Bawaslu demi Jaga Etika dan Berlabuh ke PSI

Titik balik Taufik di panggung publik makin terlihat saat dirinya terpilih sebagai Komisioner Bawaslu Kota Manado pada tahun 2018. 

Namun, di tengah masa jabatannya pada tahun 2023, ia mengambil keputusan mengejutkan dengan mengundurkan diri secara terhormat demi menjaga integritas lembaga pengawas pemilu tersebut.

Kepada media lokal Tribun Manado pada Mei 2023, Taufik secara blak-blakan mengakui bahwa keputusannya mundur dipicu oleh syahwat politiknya yang ingin maju sebagai calon legislatif (caleg) pada Pemilu 2024. 

Ia emoh menjadi duri dalam daging bagi independensi Bawaslu.

“Saya ini 4,5 tahun sebagai penyelenggara. Bayangkan saya melaksanakan pengawasan tahapan pemilu, tapi sudah berhasrat untuk jadi caleg. Saya tidak mau melanggar etika,” tegas Taufik saat itu.

Darah politik praktis diakui Taufik mengalir deras dari keluarganya. 

Sang ayah merupakan tokoh politik yang menjabat sebagai Ketua PKB Tarakan, sedangkan kakaknya berhasil menduduki kursi parlemen sebagai anggota DPRD Minahasa Tenggara dari Partai Gerindra.

Uniknya, alih-alih mengekor partai senior sang ayah atau kakaknya, Taufik justru menjatuhkan pilihan politiknya pada Partai Solidaritas Indonesia (PSI). 

Baca juga: Pamer IPK 3,86 Cum Laude UNJ, Roy Suryo Ultimatum Balik Ketum Gibranisti

Baca juga: Diduga Masuk Rumah Kosong, Pria di Telanaipura Ditangkap Warga

Ia memandang partai berlambang mawar tersebut sangat klop dengan visi pribadinya. 

Selain karena faktor ideologis, ia secara jujur menyebut keputusannya bergabung dengan PSI didasari oleh kalkulasi politik yang rasional dan aspek pragmatisme. 

Langkah politik ini mengantarkannya maju bertarung sebagai caleg PSI di Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Manado 5, yang mencakup wilayah Kecamatan Tikala dan Paal Dua pada Pemilu 2024 lalu.

Sentil Ijazah S3 dan Disertasi yang Tiba-Tiba Muncul

Taufik sebelumnya membeberkan kronologi penelusurannya yang bermula dari gelagat Roy Suryo di ruang publik. Mantan Menpora tersebut diketahui sempat memamerkan ijazah S1 dan S2 miliknya, namun untuk strata S3 ia hanya mampu menunjukkan Surat Keterangan Lulus (SKL) tanpa memberikan penjelasan rinci.

Tantangan terbuka dari Roy Suryo yang mempersilakan publik menguji dokumennya justru menjadi pemantik bagi Taufik untuk melakukan investigasi digital, hingga berujung pada temuan nihilnya dokumen disertasi Roy di laman resmi kampus sebelum terjadinya polemik.

"Kenapa beliau tidak memiliki ijazah? Karena memang beliau tidak mengirimkan disertasinya. Makanya disertasinya waktu kami lakukan penelusuran di website tidak ada," ungkap Taufik.

Namun, Taufik mencium adanya keanehan lantaran situasi berubah drastis secara kilat pasca-pihaknya mendatangi dan meminta klarifikasi langsung kepada jajaran Program Pascasarjana UNJ.

"Setelah kami datang ke kampus UNJ, tiba-tiba ijazahnya sudah didapati. Kemudian tiba-tiba disertasinya sudah muncul di website," tandas Taufik keheranan.

Persoalan ini kini telah bergeser ke ranah hukum pidana. Roy Suryo—yang juga berstatus tersangka UU ITE atas tuduhan ijazah palsu eks Presiden Jokowi—resmi dipolisikan oleh Taufik atas dugaan pencemaran nama baik. Laporan tersebut telah terdaftar dengan nomor LP/B/2805/VII/SPKT/Polres Metro Jakarta Selatan pada Kamis, 16 Juli 2026.

Pamer Bukti Resmi Kelulusan S3 dan IPK Mentereng

Menanggapi laporan tersebut, Roy Suryo tidak menunjukkan kepanikan sama sekali. Saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Kamis (16/7/2026), mantan Menpora ini justru menantang balik pihak pelapor sembari membongkar rekam jejak akademiknya yang diklaim sangat memuaskan di UNJ.

“Ijazah ya gitu. Ijazahnya siapa? Ijazah saya? Bagus! Bagus!” seloroh Roy Suryo dengan nada santai kepada awak media.

Roy menegaskan bahwa dokumen kelulusan doktoralnya dari UNJ mutlak sah dan diperoleh melalui proses perkuliahan yang valid. Ia bahkan memamerkan salinan resmi dokumen akademik yang baru saja ia ambil dari pihak rektorat kampus.

“Ini ijazah asli saya, kopi resmi. Ini kopi dari asli ya, yang kemarin yang asli saya bawa. Kemarin fresh betul dari UNJ. Jadi artinya sah secara resmi Universitas Negeri Jakarta sudah kemudian menyerahkan dan tidak ada kesalahan apapun,” cetus Roy.

Guna membungkam keraguan publik, Roy secara blak-blakan membeberkan raihan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan rincian transkrip nilai pada lembar akademiknya.

“Anda bisa baca berapa IP kumulatif saya? 3,86! Dan tidak ada nilai lain selain A dan B. B saya hanya dua dibandingkan dengan keseluruhannya A. Saya IPK-nya bukan 2 koma tapi 3,86 dan itu predikatnya adalah sangat memuaskan,” ungkap Roy penuh percaya diri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.