Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Harga telur ayam ras di Pasar Tempel Hi Khomarudin Bataranila, Bandar Lampung mengalami lonjakan dalam dua hari terakhir.
Baca juga: Harga Telur di Way Halim Bandar Lampung Naik Melampaui HET Pemerintah
Kenaikan mencapai sekitar Rp3.500 per kilogram membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual, sementara sebagian konsumen mulai mengurangi jumlah pembelian.
Pedagang Toko Adel Salwa di Pasar Tempel, Sabtina (38) mengatakan harga telur yang dijual saat ini mencapai Rp25.500 per kilogram.
Sebelumnya, ia masih menjual telur di kisaran Rp22.000 hingga Rp24.000 per kilogram.
"Kenaikannya baru sekitar dua hari ini. Sebelumnya saya masih jual Rp24.000 per kilo, sekarang mengikuti harga pasar jadi Rp25.500," kata Sabtina, Sabtu (18/7/2026).
Ia menjelaskan, stok telur yang dijual saat ini sebenarnya masih berasal dari pembelian dengan harga lama.
Namun, harga jual sudah disesuaikan karena pembelian berikutnya dari pemasok dipastikan lebih mahal.
"Kalau saya tetap jual harga lama, nanti pas belanja lagi bisa nombok. Jadi saya ikut menyesuaikan harga pasar," ujarnya.
Sabtuna mengaku memperoleh pasokan telur dari broker, bukan langsung dari peternak. Pembelian terakhir dilakukan dengan harga sekitar Rp322.000 per ikat berisi 15 kilogram telur.
Menurutnya, keuntungan pedagang tidak ikut bertambah meski harga telur naik. Selisih keuntungan yang diambil tetap sama seperti biasanya.
"Untung kami tetap standar, sekitar Rp1.000 sampai Rp2.000 per kilo. Mau harga modal naik atau turun, keuntungan tidak berubah. Yang bertambah justru modal yang harus kami keluarkan," jelasnya.
Kenaikan harga juga mulai memengaruhi pola belanja masyarakat. Jika sebelumnya pelanggan biasa membeli satu kilogram telur, kini banyak yang memilih membeli dalam jumlah lebih sedikit.
"Pembeli ada yang tetap beli, tapi sekarang banyak yang biasanya beli satu kilo jadi setengah kilo saja karena harganya naik lumayan," ungkapnya.
Meski demikian, Sabtina mengatakan aktivitas jual beli di tokonya masih berjalan normal.
Ia juga menilai naiknya harga telur bukan dari penetapan HET telur ras oleh pemerintah, melainkan dibukanya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menilai untuk penjualan tetap sama, namun masyarakat memilih untuk mengurangi pembelian.
"Penjualan masih standar, namun yang biasanya pada beli sekilo sekarang pada mengurangi," katanya.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)