- Iran kembali melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Kurdistan Irak.
Operasi militer itu dilaporkan berlangsung lebih dari dua jam.
Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC mengerahkan rudal dan drone dalam serangan tersebut.
Targetnya disebut mencakup pangkalan militer Amerika Serikat serta kamp-kamp kelompok oposisi Kurdi di Erbil dan Sulaymaniyah.
Ledakan demi ledakan terdengar di sejumlah lokasi.
Kobaran api besar terlihat membumbung di sekitar Kota Erbil.
Di Sulaymaniyah, kebakaran juga meluas hingga kawasan pegunungan.
Asap tebal dan kobaran api membuat wilayah itu tampak bak gunung api.
Menurut laporan, Iran kembali meluncurkan gelombang baru drone Shahed ke wilayah Kurdistan Irak.
Ledakan susulan terjadi ketika gudang amunisi kelompok bersenjata Kurdi dihantam.
Kebakaran besar dilaporkan semakin meluas di sekitar lokasi.
Langit Erbil juga dipenuhi drone yang terus berdatangan.
Rentetan serangan berlangsung di beberapa titik secara beruntun.
Iran menyatakan operasi tersebut menyasar kelompok separatis Kurdi.
Kelompok itu dituduh mendapat dukungan dari negara-negara Barat.
Sumber-sumber lokal mengatakan pangkalan di wilayah Kurdistan Irak bagian utara juga menjadi sasaran pesawat tanpa awak.
Namun, hingga kini belum ada rincian resmi mengenai kerusakan maupun korban jiwa.
Menurut laporan, sistem pertahanan udara Patriot yang ditempatkan di instalasi militer AS sempat diaktifkan setelah serangan dimulai.
Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi mengenai sejauh mana sistem Patriot berhasil mencegat rudal maupun drone yang diluncurkan Iran.
Serangan ini kembali memunculkan perhatian terhadap sikap Presiden AS Donald Trump terkait kelompok Kurdi.
Dalam wawancara dengan Reuters, Trump mengatakan dirinya akan mendukung apabila kelompok Kurdi melakukan perlawanan terhadap Iran.
"Saya pikir itu hal yang luar biasa bahwa mereka ingin melakukan itu. Saya akan sepenuhnya mendukungnya," ungkap Donald Trump.
Pernyataan tersebut kemudian memicu sorotan luas.
Sejumlah media AS juga melaporkan Trump sempat menghubungi para pemimpin di wilayah Kurdistan Irak.
Kontak itu disebut berkaitan dengan kemungkinan operasi kelompok Kurdi Iran.
Meski begitu, Gedung Putih membantah bahwa Trump telah menyetujui rencana pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah Iran.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menjelaskan, Presiden Trump memang berbicara dengan para pemimpin Kurdi di Irak.
Namun, pembicaraan itu disebut berkaitan dengan pangkalan AS di Irak utara.
Sejak konflik meningkat, aset militer AS di Erbil memang beberapa kali dilaporkan menjadi sasaran rudal dan pesawat tanpa awak Iran.
Di sisi lain, Iran merupakan negara dengan populasi Kurdi yang cukup besar.
Mayoritas warga Kurdi tinggal di wilayah barat Iran yang berbatasan langsung dengan Irak.
Sementara itu, Press TV Iran melaporkan IRGC meluncurkan rudal dan drone ke markas kelompok yang disebut sebagai organisasi anti-Iran di wilayah Kurdistan Irak.
Pemerintah Daerah Kurdistan Irak atau KRG mengutuk serangan tersebut.
Di saat yang sama, KRG membantah terlibat dalam operasi militer terhadap Iran.
Melalui pernyataan resminya, KRG menegaskan tidak menjadi bagian dari upaya memperluas konflik di kawasan.
Pemerintah daerah itu juga menyerukan perdamaian dan stabilitas regional.
Hingga kini, situasi di wilayah Kurdistan Irak masih dilaporkan mencekam.
Program: Tribun Video Update
Host: Feba Fadhiliana
Editor Video: Aura Dewi Arafuru
Uploader: bagus gema praditiya sukirman