TRIBUNBANTEN.COM, TANGSEL-Dampak kekeringan yang melanda wilayah Kranggan, Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten, selama lebih dari sebulan terakhir membuat debit air sumur warga menyusut drastis.
Kondisi ini memaksa keluarga Riska harus menghemat air dengan memprioritaskannya untuk memasak dan kebutuhan anak, sementara urusan mencuci dialihkan ke jasa laundry.
Bahkan suami Riska terpaksa menumpang mandi di kantor tempatnya bekerja, sedangkan Riska dan anak-anaknya menumpang di rumah sang ibu.
Riska merupakan RT 06 RW 02 Kranggan, Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten. Setiap pagi, keluarga Riska harus menghitung sisa air di bak penampungan sebelum memulai aktivitas.
Ketika air benar-benar habis, sang suami berangkat bekerja tanpa mandi di rumah dan baru membersihkan diri setibanya di kantor di kawasan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten.
Beberapa kali, suaminya tidak bisa mandi di rumah karena seluruh bak penampungan kosong.
"Suami saya kemarin sempat nggak mandi, pulang nggak mandi, berangkat nggak mandi kerja," ungkap Riska, Sabtu (18/7/2026).
Kini, agar tetap bisa beraktivitas dengan layak, suaminya memilih mandi di tempat kerja.
"Sekarang dia kalau pulang udah mandi, jadi mandinya di tempat kerja, di kantor," katanya.
Kondisi krisis air ini kata Riska, sudah berlangsung lebih dari satu bulan. Dampaknya bukan hanya menyulitkan aktivitas rumah tangga, tetapi juga memaksa keluarga mengubah kebiasaan yang selama ini dianggap sederhana, seperti mandi dan mencuci.
Di rumah yang ditempatinya, satu sumur digunakan bersama tiga keluarga. Banyaknya pengguna membuat air cepat habis, terutama saat malam hingga dini hari ketika warga bergantian menyalakan pompa.
"Satu sumur buat tiga keluarga, makanya kebaginya dikit karena yang pakai banyak," tuturnya.
Situasi itu membuat keluarga Riska harus menentukan skala prioritas penggunaan air. Air yang tersisa lebih diutamakan untuk memasak, kebutuhan anak, dan keperluan buang air, sementara kebutuhan lainnya harus mencari alternatif.
Untuk memasak, Riska menyimpan air sumur yang masih tersedia dan sesekali menggunakan air galon isi ulang.
Ia mengaku harus lebih hemat karena penggunaan air minum isi ulang. Ia juga mengaku harus lebih hemat karena penggunaan air minum isi ulang bertambah ketika air sumur tidak mencukupi.
Riska mengaku setiap pagi berusaha menyisihkan air agar suaminya bisa mandi sebelum berangkat bekerja.
Namun ketika air benar-benar habis, ia memilih mengalah dan membawa anak-anak mandi di rumah orang tuanya.
Baca juga: Kekeringan di Keranggan Tangsel Bertambah Jadi Empat Titik, BPBD Salurkan Air Bersih
Menurutnya, kekeringan bukanlah persoalan baru. Sejak kecil, ia sudah terbiasa menghadapi musim kemarau dengan mencuci pakaian di sungai.
Pengalaman itu kembali mengingatkannya bahwa persoalan air bersih di wilayah tersebut belum pernah benar-benar terselesaikan.
"Dari saya kecil sih udah ada. Dulu nyucinya ke kali," kenangnya.
Ia mengingat kemarau tahun 2023 sebagai salah satu periode paling berat.
Saat itu, kekeringan berlangsung cukup lama hingga warga harus mengantre bantuan air bersih dengan membawa ember dan galon.
Meski saat ini bantuan air mulai berdatangan, Riska menilai langkah tersebut masih bersifat sementara.
Ia berharap ada solusi yang dapat mengurangi ketergantungan warga terhadap bantuan setiap musim kemarau tiba.
"Harapannya mudah-mudahan ada bantuan boran buat warga, kayak MCK gitu. Selama ini bantuan MCK cuma ke mushola atau masjid. Mudah-mudahan di lingkungan warga juga diadakan buat bersama," pungkasnya.