TRIBUNBANYUMAS.COM, JEPARA - Komoditas sayuran di pasar tradisional Kabupaten Jepara mengalami kenaikan harga signifikan sejak memasuki awal musim kemarau.
Lonjakan harga paling tajam dialami oleh mentimun yang menyentuh angka empat kali lipat dari harga normal.
Baca juga: Resah, Pedagang di Banyumas Tuding Harga Sayur Naik Gegara MBG Aktif Lagi
Sebelumnya, harga mentimun di tingkat pedagang berada di kisaran Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per kilogram. Namun saat ini, harga mentimun melonjak drastis hingga Rp 20.000 per kilogram. Tak hanya mentimun, sejumlah komoditas lain juga mengalami tren kenaikan harga yang cukup tinggi di pasaran.
Kacang panjang misalnya, yang biasanya dijual Rp 10.000 per ikat besar, kini harganya naik menjadi Rp 25.000. Begitu pula dengan onclang atau daun bawang yang naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 15.000 per ikat. Komoditas lain seperti kol naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10.000 per kilogram, dan sawi naik dari Rp 3.000 menjadi Rp 7.000 per ikat.
"Yang tidak kalah tinggi harga gambas dan slada juga naik drastis. Gambas awalnya Rp 8.000 satu kilogram, sekarang Rp 20.000 per kilogram. Termasuk slada, biasanya Rp 8.000 satu ikat, sekarang Rp 15.000 satu ikat," ujar Nur Khayati, seorang pedagang sayur di Pasar Jepara 1, Sabtu (18/7/2026).
Akibat lonjakan harga yang tergolong tinggi, sejumlah pedagang kini tidak berani menyediakan stok dalam jumlah banyak. Mereka khawatir sayuran tersebut tidak laku terjual dan akhirnya membusuk, mengingat sayuran yang dijual umumnya merupakan bahan pendamping masakan.
"Kulakannya saja sekarang timun Rp 100.000 per 5 kilogram. Mahal banget, peminatnya juga tidak banyak karena ya jenis sayuran pendamping buat lalap atau acar. Apalagi harganya mahal, kalau enggak laku jadi layu," terang Nur Khayati.
Kondisi ini pun dikeluhkan oleh pembeli. Imroatun (39), seorang warga, mengaku harus selektif dalam berbelanja. Ia bahkan terpaksa meninggalkan beberapa jenis sayuran yang dinilai harganya tidak masuk akal, seperti mentimun, slada, gambas, hingga kacang panjang.
"Kalau seperti onclang, bayam, sawi, kubis, dan sayuran dasar lainnya tetap beli karena jadi kebutuhan. Yang harganya naik tinggi, paling belinya sedikit-sedikit secukupnya saja," ujar Imroatun.
Menurut Imroatun, kenaikan harga sayuran ini dipicu oleh beberapa faktor. Selain dampak musim kemarau yang membuat hasil panen petani berkurang, ia juga menduga kenaikan dipicu oleh operasional kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebutuhan sayur untuk kelengkapan menu MBG, khususnya timun dan slada, dinilai memengaruhi ketersediaan barang di pasaran.