TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Transpuan korban dugaan kekerasan dan persekusi balik melawan. Mereka meminta perlindungan pada Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Barat pada Jumat (17/7/2026).
Para kaum transpuan ini memang tengah viral di media sosial, khususnya bagi warga Kota Bogor.
Sejumlah pria membuat konten pengejaran dan dugaan persekusi terhadap para transpuan di Kota Bogor.
Kelompok itu melakukan penyisiran ke sejumlah wilayah, satu di antaranya di wilayah Pasar Anyar.
Tampak mereka menyiram air diduga air seni dalam botol, lalu menendang bagian belakang tubuh.
Di video lain terlihat mereka pun melakukan dugaan intimidasi.
Atas aksi itu, 30 transpuan datang ke Kanwil HAM Jabar.
Kepala Kanwil Kementerian HAM Jabar, Hasbullah Fudail mengatakan para transpuan datang untuk meminta perlindungan.
"Kami melakukan pertemuan dengan mereka sekaligus mendengarkan keterangan langsung sebagai warga negara yang mengaku menjadi korban dugaan persekusi dan tindakan kekerasan yang sempat viral di media sosial," katanya.
Para transpuan menceritakan kronologi serta segala tindakan yang diterima dari kelompok tersebut.
"Kami mendengar dan mencatat semua informasi yang disampaikan sebagai bahan tindak lanjut kami," katanya.
Hasbullah mengungkap salah satu pengakuan yang disampaikan perihal tuduhan penyimpangan seksual.
Baca juga: Gelar Razia Waria di Kota Bogor, Petugas Sisir Area Pasar hingga Terminal
Mereka mengaku sebagai lelaku tulen yang terpaksa berpenampilan perempuan demi mendapat rejeki.
Kata Hasbullah, berdasarkan pengakuan mereka, para transpuan ini bekerja dengan berpenampilan seperti perempuan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Menurut mereka bahwa keberadaannya bukan untuk meminta legalisasi kelompok tertentu, melainkan untuk memperoleh perlindungan sebagai warga negara yang merasa menjadi korban dugaan kekerasan dan persekusi," katanya.
Oleh karenanya kata Hasbullah, mereka berharap masyarakat tidak buru-buru memberi stigma negatif dengan melakukan penghakiman.
Baca juga: Respon Dedie Rachim Usai Remaja Viral Kejar Waria, Soroti Cara Perlakuan: Takutnya Melanggar Hukum
Mereka pun kata Hasbullah, berharap mendapat pekerjaan layak agar dapat memberi nafkah untuk keluarga, serta diperlakukan sebagai manusia yang memiliki martabat yang sama seperti warga negara lain.
"Setiap orang berhak memperoleh perlindungan atas diri pribadi, kehormatan, dan martabatnya. Apabila terdapat dugaan pelanggaran hukum, penyelesaiannya harus dilakukan melalui mekanisme hukum yang berlaku, bukan melalui tindakan kekerasan atau main hakim sendiri," katanya.
Kantor Wilayah Kementerian HAM Jawa Barat selanjutnya akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait sesuai kewenangan yang dimiliki untuk memberi perlindungan kepada para transpuan yang mengalami kekerasan dan persekusi.
Kakanwil juga mengajak seluruh masyarakat untuk mengedepankan dialog, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial, serta menghormati proses hukum dalam setiap penyelesaian persoalan agar nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi manusia tetap terjaga.
Hasbullah mengatakan tindakan yang dilakukan kelompok tersebut terhadap transpuan sebagai bentuk pelanggaran HAM.
"Pelanggaran HAM. Pidana biar penegak hukum," katanya.
Ia mengatakan para transpuan akan diadvokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk menyeret persoalan ini ke meja hukum.
"Teman-teman LBH," katanya.
Sebelumnya Pemerintah Kota Bogor merespons isu viral atas tindakan dugaan persekusi dan intimidasi terhadap transpuan.
Satpol PP Kota Bogor bahkan langsung menggelar razian guna menjaring transpuan di wilayah Pasar Anyar hingga ke wilayah Bubulak.
Wali Kota Bogor Dedie Rachim sudah mewanti-wanti karena ia menilai tindakan yang dilakukan berpotensi melanggar hukum.
"Kalau itu menghakimi saya pikir itu takutnya melanggar hukum. Hati-hati saja," kata Dedie.
Ia menyarankan agar penyelesaian masalah lewat jalur diskusi, bukan persekusi.
"Caranya kan harusnya mungkin pemmbinaan dari masyarakat, dari pemuka agama, pendidikan, keluarga, semuanya berperan. Mungkin mereka juga tidak kepingin jadi bencong. Cuman mungkin kan kita tidak ngerti," kata Dedie.
https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t