Tabiat Serda Hengki Korban Tewas Ledakan Gudang Amunisi di Madiun, Sempat Kirim WhatsApp Terakhir
Putra Dewangga Candra Seta July 18, 2026 07:32 PM

 

SURYA.co.id, MADIUN – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga besar Serda Hengki Noto Susanto, prajurit TNI yang gugur dalam insiden ledakan di Gudang Pusat Munisi (Gupusmu) II Pusat Peralatan Angkatan Darat (Puspalad) di Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun.

Kepergian almarhum bukan hanya meninggalkan luka bagi institusi TNI, tetapi juga bagi keluarga yang mengenalnya sebagai sosok sederhana, penyayang, dan bertanggung jawab.

Di rumah duka yang berada di Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, suasana haru tak terbendung.

Kerabat dan keluarga mengenang berbagai kebiasaan sederhana almarhum yang kini hanya tinggal kenangan.

Sosok Serda Hengki Dikenal Sederhana

Bagi sang istri, Fitria Chandra Irawan, Serda Hengki bukanlah sosok yang banyak menuntut dalam kehidupan sehari-hari. Kesederhanaannya bahkan tercermin dari makanan favorit yang selalu ia nikmati di rumah.

"Enggak aneh-aneh, tempe goreng, yang penting ada sambal, lauk, sayur kuah. Enggak pernah macam-macam minta ini, itu, enggak, kecuali kalau makan bersama baru beliau yang pilih," ujar Fitria saat ditemui di rumah duka, Jumat (17/7/2026).

KENANGAN - Foto Serda Hengki Noto Susanto terpajang di dinding rumah duka Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jumat (17/7/2026). Keluarga kenang Hengki sebagai sosok yang taat beribadah dan sederhana.
KENANGAN - Foto Serda Hengki Noto Susanto terpajang di dinding rumah duka Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jumat (17/7/2026). Keluarga kenang Hengki sebagai sosok yang taat beribadah dan sederhana. (Surya.co.id/Sofyan Arif Candra Sakti)

Bagi keluarga, kebiasaan tersebut menjadi gambaran karakter Serda Hengki yang hidup apa adanya.

Ia lebih mengutamakan kebersamaan dibandingkan kemewahan dalam keseharian.

Kesederhanaan itu pula yang membuat almarhum dikenang sebagai pribadi yang mudah bergaul dan tidak pernah membebani orang-orang di sekitarnya.

Sarapan Bersama yang Kini Tinggal Kenangan

Di balik rutinitas yang tampak sederhana, terdapat momen-momen kecil yang kini menjadi kenangan paling berharga bagi keluarga.

Setiap pagi sebelum berangkat menjalankan tugas, Serda Hengki dan istrinya selalu menyempatkan diri menikmati sarapan bersama.

"Pagi itu saya masih duduk bersama, makan, masih saya ambilkan takaran nasi sesuai takarannya," kenang Fitria dengan mata berkaca-kaca.

Baca juga: Sosok Serda Hengki Noto, Korban Tewas Ledakan Gudang Amunisi di Madiun, 15 Tahun Bertugas di Papua

Rutinitas tersebut menjadi kebiasaan yang tidak pernah terlewatkan.

Namun, pagi terakhir itu berubah menjadi pertemuan terakhir mereka sebelum kabar duka datang.

Serda Hengki kemudian gugur dalam insiden ledakan di Gudang Pusat Munisi II Puspalad, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun.

Tetap Memikirkan Keluarga Sebelum Berangkat Bertugas

Di mata keluarga, Serda Hengki bukan hanya seorang prajurit, tetapi juga kepala keluarga yang selalu mengutamakan kebutuhan orang-orang tercinta.

Pada pagi terakhir sebelum berangkat dinas, ia masih membantu mengurus keperluan istrinya yang akan melakukan perjalanan dinas ke Solo.

"Pagi itu (Serda Hengki) mau booking-kan tiket saya ke Solo, ya ada acara kerja, dan urusan lainnya," tutur Fitria.

Perhatian-perhatian kecil seperti itulah yang kini paling dirindukan keluarga.

Meski harus menjalankan tugas negara, Serda Hengki tetap memastikan kebutuhan keluarganya telah dipersiapkan dengan baik.

Pesan WhatsApp Terakhir Sebelum Ledakan

Sebelum insiden terjadi, Serda Hengki masih sempat menghubungi istrinya melalui aplikasi WhatsApp.

Menurut Fitria, pesan tersebut dikirim pada pagi hari, diduga setelah apel.

"Tapi wallahu a'lam, pagi mungkin setelah apel atau apa ndak tahu (Serda Hengki) WA, saya balas jam 09.00 WIB sudah ndak bisa," jelasnya.

Pesan singkat itu kini menjadi komunikasi terakhir yang tersisa antara keduanya.

Tak lama kemudian, keluarga menerima kabar duka bahwa Serda Hengki gugur saat menjalankan tugas.

Kepergian Serda Hengki meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan rekan-rekan sejawatnya.

Di balik seragam yang dikenakannya, ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati, bertanggung jawab, dan selalu mengutamakan keluarga.

Kisah tentang makanan favorit, kebiasaan sarapan bersama, hingga perhatian kecil kepada sang istri menjadi potret sisi humanis seorang prajurit yang selama ini mungkin tidak banyak diketahui publik.

Bagi keluarga, kenangan-kenangan sederhana itu justru menjadi warisan paling berharga yang akan terus dikenang.

Diketahui, Gudang Pusat Munisi (Gupusmu) II Pusat Peralatan Angkatan Darat (Puspalad) yang terletak di Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, itu meledak Kamis, (16/7/2026).

Selain Serda Hengki yang meninggal dunia, ada 6 lainnya dalam kondisi luka-luka.

Meninggalnya Serda Hengki menyisakan duka mendalam bagi keluarganya. 

Kakak kandung almarhum, Hendri Siswo Susanto, menuturkan Hengki telah dimakamkan di TPU desa setempat, Kamis (16/7/2026) malam.

Ia mengenang adiknya sebagai sosok yang baik, sopan, dan taat menjalankan ibadah. Menurutnya, menjadi prajurit TNI merupakan cita-cita Hengki sejak masih duduk di bangku SMA.

"Memang dari SMA cita-citanya ingin jadi tentara," ujar Hendri ditemui di rumah duka Desa Sidorejo, kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jumat (17/7/2026).

Sebelum bertugas di Gupusmu, Hengki mengabdi di Timika, Papua, selama hampir 15 tahun.

Selama penugasan tersebut, istri dan kedua anaknya turut mendampingi tinggal di Papua.

Sekitar dua tahun terakhir, Hengki dipindahtugaskan ke Gupusmu di Madiun.

Hendri mengatakan, selama ini komunikasi antara keluarga dan almarhum berjalan seperti biasa. Bahkan, tiga hari sebelum insiden terjadi, Hengki masih sempat bertemu dengan ibu kandungnya.

"Kalau komunikasi biasa lewat HP. Terakhir ketemu sama ibu kandung itu sekitar tiga hari sebelum kejadian," katanya.

Menurut Hendri, tidak ada firasat apa pun yang dirasakan keluarga sebelum musibah tersebut terjadi.

"Enggak ada. Ibu, kakak, maupun istrinya juga tidak punya firasat apa-apa," ungkapnya.

Serda Hengki meninggalkan seorang istri dan dua anak. Anak pertamanya merupakan perempuan yang kini duduk di bangku kelas VI sekolah dasar, sedangkan anak keduanya laki-laki yang masih berusia PAUD.

Di mata keluarga, Hengki dikenal sebagai pribadi sederhana dan bertanggung jawab. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga rekan-rekan sesama prajurit yang mengenalnya selama bertugas.

Hendri menyebut Hengki merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Adapun adik bungsunya sejak kecil telah diangkat anak oleh kerabat sehingga tidak lagi berada dalam satu kartu keluarga.

Kondisi Korban Luka 

Korban selamat dalam ledakan amunisi di Gudang Pusat Munisi (Gupusmu) II, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, mendapatkan perawatan di RSUD Caruban, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Kamis (16/7/2026).

Dari pantauan di lokasi, RSUD Caruban, dijaga oleh anggota TNI serta polisi militer.

Ambulans yang membawa jenazah korban ledakan telah meninggalkan RSUD Caruban sejak pukul 16.27 WIB.

Sementara pasien yang sebelumnya berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sudah tidak nampak lagi. Informasi sementara, korban telah dipindahkan ke ruang rawat inap.

Kendati korban dirawat di RSUD Caruban, Plt Direktur RSUD Caruban, dr. Selly Fitriani tidak bisa banyak memberikan keterangan terkait kondisi medis korban.

Padahal dari Mabes TNI telah menyebutkan terdapat 1 anggota TNI yang gugur lalu Empat orang mengalami luka berat dan dua lainnya mengalami luka ringan

"Mohon maaf langsung tanya ke pihak TNI nya saja," kata Selly, Kamis (16/7/2026).

Pantauan di RSUD Caruban, personel polisi militer kembali datang pada pukul 18.57 WIB ke IGD RSUD Caruban.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.