TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengkritik pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait harga beras dan kesejahteraan petani.
Menurut Bhima, pernyataan Presiden yang menyebut pihak yang menganggap harga beras mahal sebaiknya ikut menanam padi tidak menggambarkan kondisi petani Indonesia secara menyeluruh. Ia menjelaskan, mayoritas petani di Indonesia merupakan petani gurem yang mengelola lahan di bawah 0,5 hektare.
"Prabowo tidak paham data pertanian secara lengkap. Petani di Indonesia itu sebagian besar adalah petani gurem, 17,25 juta rumah tangga atau 62 persen total petani. Mereka mengelola lahan dibawah 0,5 ha," ujar Bhima saat dihubungi Tribunnews, Sabtu (18/7/2026).
Baca juga: Dilanda El Nino, Pemerintah Pastikan Harga Beras Tetap Terkendali
Bhima mengatakan, kelompok petani gurem justru menjadi pihak yang paling terdampak ketika harga beras meningkat.
Menurut dia, produksi dari lahan yang mereka miliki tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga sehingga tetap harus membeli beras di pasar.
"Artinya, kalau harga beras naik, sebagai konsumen rumah tangga petani gurem tadi paling terpukul. Karena mereka tidak mampu memenuhi konsumsi beras hanya dari lahan sawah sendiri, harus beli di pasar di warung," tutur Bhima.
Selain harga beras, Bhima juga menyoroti kenaikan berbagai biaya produksi pertanian yang dinilai ikut menekan pendapatan petani. Ia menyebut harga pestisida, obat tanaman, plastik pertanian hingga biaya logistik mengalami kenaikan.
Menurut Bhima, kenaikan harga beras tidak otomatis membuat petani lebih sejahtera apabila biaya produksi juga terus meningkat.
"Presiden juga harus teliti sebelum pidato, harga pestisida, obat tanaman, plastik pertanian, sampai biaya logistik naik semua. Harga beras naik, belum tentu petani sejahtera kalau presiden gagal kendalikan pelemahan rupiah, karena semua input pertanian tadi dipengaruhi faktor kurs rupiah," tegas dia.
"Makin lama pidato prabowo makin jauh dari kebijaksanaan, justru terkesan arogan dan menyepelekan masalah," sambungnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan apresiasi kepada para petani Indonesia sekaligus menanggapi anggapan bahwa harga beras dari petani dinilai terlalu mahal.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri Panen Raya TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo mengaku bangga terhadap hasil kerja para petani yang dinilainya telah memberikan kontribusi besar bagi ketahanan pangan nasional.
"Saya bangga dengan petani-petani Indonesia. Yang mengatakan beras terlalu mahal, suruh, ikut kau tanam beras," kata Prabowo di hadapan para petani yang hadir.
Ucapan tersebut langsung disambut tepuk tangan para peserta kegiatan.
Selain memberikan penghargaan kepada petani, Prabowo juga menyampaikan apresiasi kepada para nelayan yang menurutnya memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
la menyebut petani dan nelayan merupakan sosok yang berjasa karena menghasilkan bahan pangan yang dibutuhkan seluruh rakyat Indonesia.
"Terima kasih petani, nelayan Indonesia. Kau, kau adalah pahlawan yang sebenarnya. Kau menghasilkan pangan untuk kita semua," ujarnya.
Prabowo kemudian kembali menyinggung kritik terhadap harga beras yang dinilai terlalu tinggi.
Menurutnya, tidak tepat apabila petani diharapkan menjual hasil panennya dengan harga murah sehingga tidak memperoleh penghasilan yang layak.
Dengan nada berkelakar, ia mengatakan pihak-pihak yang mempermasalahkan pendapatan petani sebaiknya mencoba menanam padi sendiri.
Baca juga: Penyaluran Bantuan Pangan Digadang jadi Upaya Pemerintah Tekan Angka Inflasi dan Harga Beras
"Kalau petani beras nggak boleh dapat penghasilan yang tinggi, ya suruh mereka tanam padi sendiri itu," ucap Prabowo sambil tertawa.
"Wuenak aja gitu," lanjutnya.
Dalam kegiatan Panen Raya TNI tersebut, Presiden Prabowo turut didampingi sejumlah pejabat pemerintah dan pimpinan TNI.
Hadir di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhamad Ali, serta Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Tonny Hardjono.