Jeritan Warga Kayuagung Dihantam Kemarau, Terpaksa Mandi & Cuci di Air Sungai Komering yang Keruh
Kharisma Tri Saputra July 18, 2026 07:46 PM

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG – Debit air Sungai Komering di Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang terus menyusut drastis akibat kemarau panjang berubah menjadi keruh kecokelatan dan dipenuhi tumpukan sampah rumah tangga.

Ironisnya, di tengah kondisi air yang sudah tidak layak digunakan, warga terpaksa tetap mengandalkannya untuk mandi dan mencuci.

Kondisi memprihatinkan ini telah dirasakan warga setempat sejak sekitar satu bulan terakhir. Sumur-sumur warga mulai mengering sehingga mereka tidak memiliki banyak pilihan selain kembali memanfaatkan air sungai, meski menyadari kualitasnya sudah jauh menurun.

Seorang warga Kampung 5, Kelurahan Jua-Jua, Musa, mengaku tidak bisa menyembunyikan keresahannya. Ia khawatir kondisi air sungai akan semakin memburuk dari hari ke hari.

"Setiap hari aktivitas mencuci dan mandi hanya mengandalkan air sungai. Walaupun sudah tidak layak, mau bagaimana lagi, kami tidak punya pilihan lain," ujar Musa saat ditemui, Sabtu (18/7/2026) sore.

Jika untuk mandi dan mencuci warga masih terpaksa menggunakan air sungai yang keruh, berbeda halnya dengan kebutuhan memasak dan mencuci beras. Untuk keperluan tersebut, mereka harus mencari sumber air yang lebih bersih.

Musa menuturkan, dirinya bersama beberapa warga terpaksa mengambil air dari sumur milik tetangga yang kebetulan belum sepenuhnya mengering.

"Kalau untuk memasak dan mencuci beras, kami terpaksa menggunakan air sumur tetangga yang sekarang debitnya juga sudah mulai berkurang. Sedangkan untuk minum, kami membeli air galon," katanya.

Meski hingga kini belum ada laporan warga yang terserang penyakit kulit maupun diare, rasa khawatir terus menghantui mereka.

"Sampai sekarang belum mendengar ada warga yang terkena penyakit tertentu. Tapi kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, kami juga khawatir," ungkapnya.

Kekhawatiran serupa juga dirasakan Trisnawati. Ia menyadari risiko kesehatan yang mengintai keluarganya setiap kali menggunakan air sungai yang keruh tersebut.

Namun, keterbatasan pasokan air bersih membuatnya terpaksa mengesampingkan rasa khawatir demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kondisi air sungai sering berubah. Kadang berwarna kecokelatan, kadang juga sangat keruh. Tapi mau bagaimana lagi, daripada tidak mandi. Walaupun berisiko terkena penyakit, tetap kami gunakan," tuturnya.

Kondisi ini membuat sebagian warga mengalami kesulitan besar. Tidak semua warga Kayuagung mengalami krisis air karena sebagian masih mendapatkan pasokan dari PDAM.

Namun, bagi warga yang mengandalkan sumur gali, musim kemarau kali ini menjadi cobaan tersendiri.

Kini mereka hanya berharap pemerintah daerah dapat membantu mendistribusikan air bersih ke permukiman warga.

"Kami berharap ada bantuan pasokan air bersih ke rumah-rumah warga supaya kami tidak lagi kesulitan mendapatkan air yang layak digunakan maupun dikonsumsi," harapnya.

Di tengah musim kemarau yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, harapan terbesar warga adalah segera turunnya hujan.

"Semoga musim hujan segera datang supaya masyarakat tidak lagi kesulitan air," tandasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.