TRIBUN-TIMUR.COM, PALOPO – Ekonomi Kota Palopo, Sulawesi Selatan, menunjukkan taringnya di tahun 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, pertumbuhan ekonomi daerah ini pada triwulan pertama sukses menyentuh angka 8,94 persen.
Capaian fantastis ini secara signifikan melampaui rata-rata pertumbuhan nasional yang berada di kisaran 5 persen.
Bahkan, angka ini juga mengungguli rata-rata pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan yang berada di angka 6 persen.
Wakil Wali Kota Palopo, Akhmad Syarifuddin, mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian tersebut.
Ia menegaskan bahwa angka ini adalah buah dari kerja keras pemerintah dan kolaborasi masyarakat.
Baca juga: Pesisir Palopo Segera Disulap Jadi Kawasan Moderen Center Point of Luwu, Mirip CPI Makassar
Menurut pria yang akrab disapa Ome ini, pertumbuhan tersebut membuktikan bahwa Palopo bukan lagi sekadar kota transit.
Kata dia, Palopo kini telah bertransformasi menjadi pusat bisnis utama.
"Palopo kini menjadi pusat perputaran uang, pendidikan, dan bisnis di Jazirah Utara. Kita sedang menuju ke arah sana dengan sangat progresif," ujar Akhmad Syarifuddin saat berbincang dalam program podcast Tribun VIP di Kantor Tribun Timur, Jalan Cenderawasih No 430, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (18/7/2026) sekitar pukul 15. 30 Wita sore.
Ada beberapa variabel yang menjadi pendorong utama lonjakan ekonomi tersebut.
Salah satunya adalah posisi strategis Palopo sebagai hub wilayah yang menghubungkan empat kabupaten/kota di sekitarnya.
Secara geografis, Palopo memang diuntungkan.
Masyarakat dari Luwu Utara, Luwu Timur, hingga Toraja seringkali menjadikan Palopo sebagai tujuan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Pemerintah Kota Palopo juga sangat sadar akan potensi ini. Kebijakan stimulasi ekonomi terus didorong agar perputaran uang tetap terjaga di dalam kota.
Salah satu kebijakan kunci yang diambil adalah memastikan kesejahteraan pegawai negeri. Insentif atau TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai) dibayarkan tepat waktu tanpa kendala.
"Kami syukuri dalam satu tahun terakhir, insentif pegawai utuh kami bayarkan. Ini sangat mempengaruhi daya beli dan pergerakan uang di daerah," jelas Akhmad.
Selain sektor jasa dan perdagangan, sambung Akhmad, Palopo juga mengandalkan sektor pendidikan sebagai tulang punggung ekonomi. Dengan 17 perguruan tinggi, ribuan mahasiswa menetap di kota ini.
Kehadiran puluhan ribu mahasiswa dari berbagai daerah tersebut secara tidak langsung menggerakkan sektor UMKM. Mulai dari kebutuhan tempat tinggal, makan, hingga gaya hidup.
Ke depan, Pemkot Palopo tidak ingin berpuas diri.
Kata Akhmad Syarifuddin, strategi pengembangan ekonomi akan terus difokuskan pada sektor yang lebih luas dan berkelanjutan.
Investasi akan terus dibuka lebar bagi siapa saja yang ingin masuk ke Palopo. Kepastian hukum dan kemudahan berinvestasi menjadi janji utama pemerintah.
"Kami ingin Palopo sejajar dengan daerah maju lainnya. Dukungan masyarakat adalah kunci utama bagi kami untuk terus berlari kencang," tutupnya.(*)
Laporan Jurnalis Tribun-Timur.com. Muh Sauki Maulana