BANGKAPOS.COM - Suasana penuh duka menyelimuti sebuah hunian sewa sederhana di kawasan Jalan Sungai Selan, tepat di hadapan Asrama Polisi, Kecamatan Pangkalan Baru, Kota Pangkalpinang.
Di area teras tempat tinggal tersebut, seorang lelaki paruh baya tampak terduduk sembari memutar kembali memori tentang mendiang Sri.
Almarhumah merupakan seorang pedagang jamu keliling yang telah mendampingi hari-hari sang pria di tanah rantau selama lebih dari seperempat abad.
Bagi sang pria, sosok Sri bukan sekadar rekan satu atap biasa, melainkan telah bertransformasi layaknya darah daging sendiri.
Nahas, perempuan paruh baya asal Pulau Jawa tersebut harus mengembuskan napas terakhirnya pascainsiden tabrakan hebat dengan truk bermuatan karung beras di lintasan Jalan Raya Desa Jelutung.
"Sudah seperti keluarga sendiri. Kami sama-sama merantau dari Jawa ke Bangka. Sudah sekitar 25 tahun lebih tinggal bersama di sini," kata Yaimin kepada Bangkapos Sabtu (18/07/2026).
Yaimin mengaku pertama kali mengetahui kabar kecelakaan Sri bukan dari keluarga maupun pihak kepolisian, melainkan dari sesama pedagang.
"Waktu itu ada teman telepon. Dia billing ada penjual jamu kecelakaan," kata Yaimin.
Namun, saat pertama kali mendengar kabar tersebut, ia belum langsung percaya.
"Saya pikir bukan Mbak Sri. Karena banyak juga penjual jamu. Tapi setelah dikirim foto motor dan barang-barangnya, baru saya yakin itu Mbak Sri," tuturnya.
Saat kabar itu datang, Yaimin sedang berada di rumah bersama suami Sri.
Yaimin merupakan penjual mie ayam yang libur setiap Jumat.
"Saya jual mie ayam di depan gudang pupuk. Kalau Jumat memang saya libur. Kebetulan waktu itu saya sedang di rumah bersama suaminya Mbak Sri," katanya.
Tidak lama kemudian, Ketua RT datang menyampaikan kabar duka tersebut.
"Kami tahu kabarnya sekitar jam tiga sore. Setelah itu semua langsung bergerak. Ada yang cari informasi, ada yang ke lokasi, ada yang mengurus keperluan jenazah," ucapnya.
Menurut Yaimin, para tetangga dan teman-teman Sri langsung membantu tanpa diminta.
"Semua merasa kehilangan. Karena Mbak Sri ini banyak kenal orang. Dia jualan keliling, jadi banyak yang tahu," katanya.
Setelah dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit, jenazah Sri kemudian dibawa ke Yayasan Rumah Duka Bhakti Sosial.
“Kami tidak sempat ke rumah sakit karena sudah lama di sana jadi sudah dinyatakan meninggal dan siap di bawa ke rumah,” katanya.
Setelah dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit, jenazah Sri kemudian dibawa ke Yayasan Rumah Duka Bhakti Sosial.
Di tempat itulah Yaimin bersama suami Sri melihat almarhumah untuk pertama kalinya.
Menurut Yaimin, keluarga sempat mempertimbangkan membawa jenazah Sri ke rumah kontrakan.
Namun, karena akses jalan menuju lokasi sempit dan menyulitkan ambulans, jenazah akhirnya dibawa langsung ke rumah duka.
"Meski rumah dukanya biasa digunakan masyarakat Tionghoa, yang memandikan tetap orang Islam. Kami juga membaca Yasin di sana. Semua teman-teman ikut membantu," katanya.
Menurut Yaimin, momen paling berat terjadi ketika suami Sri mengetahui bahwa perempuan yang selama puluhan tahun mendampinginya telah pergi untuk selamanya.
"Suaminya menangis terus. Tidak kuat menerima kenyataan. Sampai menangis sambil berguling-guling di rumah duka lebih dari dua jam," ungkap Yaimin.
Ia mengatakan, tidak mudah menenangkan seseorang yang kehilangan pasangan hidup setelah puluhan tahun bersama.
"Kami cuma bisa pegang dan kasih semangat. Kami billing sabar, ini sudah kehendak Tuhan. Tapi namanya kehilangan istri yang sudah puluhan tahun bersama, pasti berat," katanya.
Yaimin melihat sendiri bagaimana beratnya perpisahan tersebut.
"Selama ini mereka selalu bersama. Dari merantau sampai tinggal di sini, sama-sama cari makan. Jadi wajar kalau suaminya sangat terpukul," ujarnya.
Selama tinggal bersama, Yaimin mengenal Sri sebagai sosok pekerja keras.
Bertahun-tahun perempuan itu mencari nafkah dengan berjualan jamu keliling menggunakan sepeda motor.
"Kerjanya ya jual jamu saja. Berangkat sekitar jam enam pagi. Pulangnya tidak tentu, kadang jam dua siang, kadang sampai jam empat sore, tergantung dagangannya," kata Yaimin.
Meski tidak mengetahui pasti rute perjalanan Sri setiap hari, Yaimin tahu perempuan tersebut sering berkeliling hingga wilayah cukup jauh di Bangka Tengah.
"Kalau jalannya persis saya tidak tahu. Yang saya tahu memang jauh. Kadang dengar sampai daerah Jelutung, kadang lewat Pinang Sebatang. Pokoknya mutar-mutar jual jamu," tuturnya.
Rutinitas mencari nafkah itulah yang akhirnya membawa Sri ke lokasi kecelakaan.
Sri diketahui memiliki tiga orang anak yang seluruhnya telah berkeluarga dan menetap di Jakarta.
Setelah menerima kabar duka, anak-anaknya memutuskan membawa jenazah sang ibu pulang ke kampung halaman di Sragen, Jawa Tengah.
"Anak-anaknya minta jenazah dibawa pulang ke Jawa. Walaupun biayanya besar, belasan juta rupiah, mereka tetap ingin membawa ibunya pulang kampung," ujar Yaimin.
Rumah duka dipenuhi para perantau asal Jawa yang mengenal Sri selama puluhan tahun tinggal di Bangka.
"Banyak sekali yang datang. Penjual bakso, penjual es, pedagang pakaian, sesama penjual jamu. Semua kenal Mbak Sri karena sama-sama merantau di Bangka," ungkapnya.
Hingga Sabtu sekitar pukul 11.00 WIB, suami Sri bersama keluarga telah tiba di Jakarta untuk melanjutkan perjalanan menuju Sragen, Jawa Tengah.
Namun, keluarga belum dapat memberikan keterangan karena masih fokus mengurus proses pemakaman.
Bagi Yaimin, kepergian Sri bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga bagi para perantau yang selama ini mengenalnya.
"Di rumah ini ada lima orang. Kami memang sama-sama merantau, jadi tinggal serumah supaya lebih hemat. Lama-lama sudah seperti saudara sendiri," pungkasnya.(Bangkapos.com/Erlangga).
Dugaan awal penyebab kecelakaan maut di Jalan Raya Desa Jelutung, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, yang menewaskan seorang pengendara sepeda motor yang kemudian diketahui bernama Sri ini mengarah pada kondisi truk pengangkut ratusan karung beras yang mengalami mati mesin saat melintasi tanjakan.
Kendaraan yang tidak berhasil dihidupkan kembali itu kemudian bergerak mundur hingga menabrak sepeda motor di belakangnya.
Kapolres Bangka Tengah AKBP Samuel Simanjuntak melalui Kasi Humas IPDA Dedi Sudrajat mengatakan, berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan keterangan sejumlah saksi, kecelakaan bermula saat sebuah Mobil Toyota Light Truck warna biru putih bernomor polisi BN 8295 PW melaju dari arah Koba menuju Pangkalpinang.
"Setibanya di lokasi kejadian yang merupakan jalan menanjak, kendaraan tersebut mengalami mati mesin. Pengemudi sempat berupaya menghidupkan kembali mesin, namun tidak berhasil sehingga kendaraan bergerak mundur," kata IPDA Dedi pada Jumat (17/07/2026).
Pada saat bersamaan, tepat di belakang truk melaju sepeda motor Honda Beat bernomor polisi AD 6829 GE yang dikendarai Sri.
Akibat truk yang bergerak mundur, sepeda motor beserta pengendaranya terseret hingga terlindas.
"Akibat kendaraan mundur, sepeda motor beserta pengendaranya terseret dan terlindas. Peristiwa tersebut mengakibatkan seorang pengendara sepeda motor meninggal dunia," ujarnya.
“Korban kemudian dievakuasi ke RS Pratama Sungkap untuk mendapatkan penanganan medis. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, korban dinyatakan meninggal dunia akibat luka berat yang dideritanya. Sementara pengemudi truk dilaporkan tidak mengalami luka,” katanya.
Dedi menjelaskan tersebut diketahui mengangkut sekitar 200 karung beras.
Dugaan truk mati mesin masih merupakan hasil penyelidikan awal.
Satlantas Polres Bangka Tengah masih mendalami penyebab pasti kecelakaan tersebut.
"Benar, telah terjadi kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Desa Jelutung, Kecamatan Namang. Saat ini Satlantas Polres Bangka Tengah telah melakukan olah TKP, mengamankan barang bukti, memeriksa saksi-saksi serta melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui secara pasti penyebab kecelakaan," katanya.
Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan mengimbau seluruh pengguna jalan agar selalu memastikan kondisi kendaraan sebelum digunakan, terutama saat melintasi jalur menanjak maupun menurun.
"Pastikan kendaraan dalam kondisi laik jalan sebelum digunakan, terutama saat melintasi jalur menanjak maupun menurun. Selalu jaga jarak aman dengan kendaraan di depan, gunakan helm berstandar SNI bagi pengendara sepeda motor, lengkapi surat-surat kendaraan, serta patuhi seluruh aturan lalu lintas. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama," tutupnya. (Bangkapos.com/Erlangga).