Spanyol vs Argentina: Matador Unggul Materi Pemain, Tango Punya Mental Juara
Mareza Sutan AJ July 18, 2026 09:04 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol versus Argentina menjadi perhatian pencinta sepak bola dunia, tak terkecuali di Jambi, provinsi yang terletak di tengah Pulau Sumatra.

Laga puncak piala dunia edisi ke-23 ini mempertemukan dua filosofi permainan yang berbeda: penguasaan bola khas Spanyol melawan permainan “keras” dan mental juara Argentina.

Dalam Podcast Mojok Tribun Jambi bertajuk Big Match Spanyol vs Argentina di Final Piala Dunia 2026, Jumat malam (17/7/2026), Dosen Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Olahraga (PJOK) Universitas Jambi, Adrizal, memberikan prediksi jalannya partai pemungkas.

Berikut petikan Podcast Mojok Tribun Jambi bersama Adrizal dan Host sekaligus Pemimpin Redaksi Tribun Jambi Yoso Muliawan.

Yoso: Sebelum kita bicara final Spanyol versus Argentina, kita terlebih dahulu mengulas dua partai semifinal, Spanyol mengalahkan Prancis dan Argentina mengalahkan Inggris. Pertama, bagaimana performa Spanyol saat mengalahkan Prancis di semifinal?

Adrizal: Saya ingin memulai dari sosiokultural negara-negara yang berlaga di Piala Dunia 2026, khususnya empat negara yang bertanding di semifinal. Ini sangat mendasar. 

Sejauh ini, orang lebih banyak berbicara soal peran pemain bintang, komposisi pemain, dan lain-lain. Itu tentunya hal yang sangat memengaruhi.

Tetapi, kita kembali lagi pada filosofi yang menjadi sosiokultural, yang membentuk tim itu sendiri. Setiap negara memiliki filosofi berbeda-beda.

Nah, ini yang saya lihat di semifinal juga berdampak pada kekalahan dan kemenangan masing-masing tim.

Kalau kita berbicara Spanyol dan Prancis, Prancis adalah tim yang menganut filosofi pragmatis. Sementara kalau kita melihat Spanyol, permainan mereka kita kenal dengan filosofi tiki-taka.

Ada peleburan peran. Ini juga yang kita lihat pada sepak bola modern. Spanyol menerapkan peleburan peran. Misalnya, kita melihat Pedro Porro (bek kanan) bisa menyerang, juga bisa bertahan. Jadi, tidak kaku.

Winger (pemain sayap) bukan hanya bertugas sebagai winger saja, tidak hanya membantu penyerangan. Bagaimana pengaturan ritme permainan, kemudian penguasaan bola, umpan pendek yang efektif, tactical intelligence untuk melihat peluang. Itu yang menjadi keunggulan Spanyol.

Spanyol jarang sekali dibahas, padahal menarik sekali. Mereka cuma kebobolan satu gol dari fase grup sampai semifinal. Mereka hanya kebobolan di perempat final melawan Belgia.

Ini yang sebetulnya mengkhawatirkan bagi Prancis. Kalau saya melihat Prancis kemarin, mereka lebih mengandalkan teknik individual. Mereka punya banyak pemain terbaik seperti Mbappe, Dembele, Doue yang sayangnya tidak dimainkan sejak awal.

Saya melihat kekalahan Prancis disebabkan mereka terjebak dengan pola permainan Spanyol. Kita melihat peran Rodri, sulit sekali disaingi.

Prancis tidak punya pemain seperti Rodri yang bisa mengatur ritme permainan, membantu pertahanan, masuk ke lini belakang, kemudian menciptakan peluang melalui umpan-umpan terobosan yang efektif.

Prancis terlalu mengandalkan Mbappe. Kemarin kita melihat Mbappe juga tidak efektif. Olise juga under perform, sering salah umpan.

Yoso: Kalau melihat Spanyol, tiki-taka mereka sekarang seperti berubah. Dulu lebih banyak memainkan bola dari belakang ke tengah, ke sayap, ke depan, lalu kembali lagi, terus mencari celah dan kesalahan lawan. Sekarang terlihat lebih vertikal, lebih direct ke depan. Bagaimana menurut Bang Adrizal?

Adrizal: Tiki-taka kalau masih dimainkan dengan pola lama, memang akan tidak efektif. Sudah banyak pelatih yang tahu cara meredamnya. Dulu Barcelona juga seperti itu.

Sehingga, mereka (Spanyol) mengubah pola tiki-taka mereka menjadi lebih progresif ke depan. Tidak lagi membosankan, dalam tanda kutip, kalau tidak ada celah ke depan, kembali lagi ke belakang, terus seperti itu.

Saya pikir pelatih Spanyol mengubah pola tiki-taka mereka, karena sekarang mereka punya pemain-pemain yang cepat. Dulu mereka tidak terlalu punya pemain cepat, kecuali Barcelona karena ada Messi.

Sekarang mereka punya striker, kemudian pemain sayap yang bagus, seperti (Alex) Baena, Lamine Yamal.

Kemudian ada Dani Olmo sebagai attacking midfielder. Olmo pemain yang sangat lincah, sulit ditebak, dan umpan-umpan terobosannya sangat membahayakan.

Yoso: Dani Olmo sekarang bermain lebih maju dibanding biasanya. Formasi ini sepertinya baru benar-benar terlihat sejak perempatfinal atau semifinal.

Adrizal: Betul. Sekarang Rodri diapit Fabian Ruiz, dan Olmo lebih kedepan, sehingga (penyerangan) lebih maksimal.

Sekalipun, kemarin mereka sempat kesulitan mencari celah saat menghadapi Prancis. Lamine Yamal juga kesulitan, tapi beruntung mendapatkan penalti.

Namun, memang Spanyol sekarang mengalami evolusi permainan. Mereka tetap bermain tiki-taka, tapi menjadi lebih tajam dibanding sebelumnya.

Jangan lupa, mereka juga juara Piala Eropa 2024. Artinya, Spanyol saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik, di samping Prancis sendiri memang under perform, tidak bermain dengan performa terbaiknya.

Argentina Menghukum Inggris

Yoso: Sekarang kita beralih ke semifinal lainnya, Argentina melawan Inggris. Bagaimana pandangan Bang Adrizal terkait pertandingan itu?

Adrizal: Ini yang paling banyak diperbincangkan di dunia maya, Inggris dan Argentina.

Kembali lagi saya ingin memulai dari filosofi permainan. Inggris didasari oleh filosofi kick and rush. Yang membentuk sepak bola mereka itu adalah mengutamakan kekuatan fisik, bola panjang dari belakang ke depan, bola mati, dan seterusnya.

Kemudian mereka mulai bertransformasi dengan menciptakan England DNA. Mereka menyadari bahwa permainan yang hanya mengandalkan kekuatan fisik dan bola panjang akan sulit menciptakan peluang ketika lawan bermain dengan penguasaan bola. Mereka mulai berubah, bermain dengan penguasaan bola juga.

Kalau kita lihat sejarah sepak bola Inggris, mereka tidak memiliki filosofi pertahanan berlapis seperti Italia. Kalau Italia, kita mengenal catenaccio. Mereka memang punya budaya bertahan. Nah, Inggris tidak punya riwayat itu.

Tetapi yang kita lihat pada semifinal, Thomas Tuchel (pelatih Inggris) justru berani bermain bertahan ala Italia. Setelah unggul, mereka memasang lima bek.

Padahal, lawannya Argentina. Argentina didasari filosofi viveza criolla. Mereka bermain cerdik. Mentalitas mereka luar biasa. Walaupun tertinggal, mereka tidak mengubah gaya bermain. Mereka juga sangat percaya terhadap keajaiban di lapangan, sehingga terus berjuang menyerang.

Itu yang dilupakan Inggris. Mereka juga lupa bahwa yang dihadapi bukan hanya Lionel Messi. 

Kemarin mereka bermain dengan formasi 4-4-2. Ada Julian Alvarez di depan bersama Messi. Ketika Lautaro Martinez masuk, formasi berubah menjadi 3-4-3.

Messi tidak bermain di depan terus. Dia melebar ke kanan dan ke tengah, karena melihat ada celah di pertahanan Inggris.

Akibatnya pemain-pemain Inggris fokus kepada Messi dan melupakan Enzo Fernandez yang bebas bergerak (akhirnya mencetak gol penyama kedudukan). Gol terakhir (sundulan Lautaro Martinez) juga berawal dari situ.

Kalau saya melihat, kesalahan paling fatal Thomas Tuchel adalah menarik Declan Rice dan Anthony Gordon. Padahal, Gordon sedang bagus-bagusnya.

Mereka seharusnya tetap memainkan counter attack, bukan parkir bus. Akibatnya (karena parkir bus di belakang), lini tengah kosong dan menyisakan banyak ruang yang dimanfaatkan Enzo Fernandez dan pemain lain. Apalagi setelah masuk Lautaro Martinez dan Nico Gonzalez.

Saya sudah memprediksi, ketika Inggris mulai bertahan total, mereka akan kebobolan.

Mereka seakan-akan mengatakan kepada Argentina, "Silakan serang kami, kami akan bertahan."

Itu justru yang diinginkan Argentina. Argentina malah memasukkan pemain menyerang. Mereka tidak takut.

Inggris justru bertahan, yang sebenarnya bukan karakter Inggris. Inggris tidak punya sejarah bermain seperti itu.

Yoso: Selain faktor teknis, ada juga faktor rivalitas sejarah antara Inggris dan Argentina. Perang memperebutkan Pulau Falkland atau Malvinas. Kemarin setelah menang, pemain Argentina juga membentangkan banner bertulisan Malvinas.

Adrizal: Ya. Bagi Argentina, pertandingan melawan Inggris bukan sekadar sepak bola. Ada semangat nasionalisme di situ.

Pada akhirnya mental yang berbicara. Argentina memang memiliki mental juara yang luar biasa.

Sementara Inggris, di setiap kompetisi besar, mental juaranya masih kurang.

Prediksi Spanyol vs Argentina

Yoso: Sekarang kita masuk ke partai final. Menurut Bang Adrizal, apakah pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, akan tetap menggunakan pola permainan yang sama seperti sejak fase grup hingga semifinal?

Adrizal: Kalau saya melihat, Spanyol tetap akan menggunakan pola permainan yang sama. Namun, Rodri (gelandang bertahan) akan bekerja dua kali lebih berat.

Kalau saat melawan Prancis dia relatif leluasa mengatur ritme permainan, sekarang dia akan mendapat tugas tambahan, yaitu membatasi ruang gerak Messi.

Karena itu, saya melihat Fabian Ruiz (gelandang) akan menjadi faktor penentu juga. Dia yang akan membangun serangan dari bawah. Sementara Rodri akan lebih fokus mematahkan permainan Argentina.

Kalau Spanyol bermain seperti saat menghadapi Prancis, mereka jangan lupa bahwa sekarang lawannya adalah Lionel Messi. Ini berbeda.

Tetapi, saya yakin Spanyol sudah memahami karakter Messi. Mereka tidak akan sekaget Inggris. 

Messi juga pernah lama bermain di Spanyol. Pemain-pemain Spanyol sudah mengetahui bagaimana cara mengantisipasi pergerakannya.

Tetapi tetap saja, Messi akan menyulitkan lini pertahanan Spanyol, karena dia pemain yang sangat bisa bebas bergerak.

Ini akan menjadi tantangan besar bagi (Marc) Cucurella (bek kiri), (Americ) Laporte dan Pau Cubarsi (bek tengah).

Yoso: Menurut Bang Adrizal, kunci permainan Spanyol tetap berada di Rodri?

Adrizal: Betul. Rodri menjadi pemain paling penting.

Saya yakin dia tidak akan gugup karena sudah berpengalaman bermain di level tertinggi. Dia juga pernah menjadi pemain terbaik Eropa.

Tetapi, akibat tugas menjaga Messi, Rodri tidak akan seleluasa biasanya dalam membangun serangan. Karena itu, Fabian Ruiz harus mengambil peran lebih besar.

Kalau Fabian ikut membantu Rodri, kemungkinan Dani Olmo akan lebih sering turun menjemput bola. 

Sebab, lini tengah Argentina sangat kuat. Ada Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, Rodrigo De Paul, dan Leandro Paredes. Rodri tentu membutuhkan bantuan.

Duel Messi vs Lini Belakang Spanyol

Yoso: Messi pada semifinal banyak bergerak ke sisi kanan dan kemungkinan akan berhadapan dengan Marc Cucurella. Menurut Bang Adrizal, bagaimana duel keduanya nanti?

Adrizal: Pertama, Cucurella perlu kita acungi jempol. Saat semifinal dia tampil luar biasa. Bagaimana transisinya saat bertahan, kemudian membantu serangan, sangat baik.

Kalau tidak salah, dia dua kali melakukan blok penting. Salah satunya tendangan Mbappe.

Tetapi, kali ini yang dihadapi bukan Mbappe. Yang dihadapi adalah Messi. Kalau tidak salah Cucurella juga belum terlalu banyak punya riwayat berhadapan dengan Messi.

Sehingga, memang dia membutuhkan penyesuaian, terutama pada menit-menit awal, untuk menghadapi seorang Lionel Messi.

Tetapi saya pikir bukan hanya Cucurella yang akan berperan. Messi tidak akan terus berada di satu sisi.

Kemungkinan seperti pertandingan sebelumnya, dia (Messi) akan mulai di depan lalu bergerak ke kanan.

Messi memiliki tactical intelligence yang sangat tinggi. Dia mampu melakukan scanning untuk melihat ruang kosong. 

Selain itu, dia juga sangat pandai menempatkan diri. Dia tidak perlu mengeluarkan tenaga yang besar. Dia seperti berjalan-jalan saja, tetapi sebenarnya sedang mencari celah.

Kalau Cucurella terpancing terus mengikuti Messi, itu justru berbahaya. Sisi kiri Spanyol bisa kosong, dan Julian Alvarez bisa masuk dari ruang tersebut.

Karena itu menurut saya, opsi terbaik tetap Rodri (yang menjaga Messi). Sekalipun Spanyol harus mengorbankan kebebasan Rodri dalam membangun serangan. Kalau ingin menang, mereka harus mampu mematikan Messi.

Tantangan Lini Depan Spanyol

Yoso: Di lini depan Spanyol, ada Oyarzabal, Dani Olmo, Lamine Yamal, dan Baena. Bagaimana peluang mereka menghadapi pertahanan Argentina?

Adrizal: Kalau saya melihat komposisi pertahanan Argentina, sebenarnya tidak ada yang terlalu mewah. Tetapi sekali lagi, sisi psikologis pemain itu berbeda ketika sudah berhadapan dengan Argentina.

Kalau pemain Spanyol mampu tetap fokus, menjaga mental dengan baik, mereka sebenarnya bisa menembus pertahanan Argentina. Asalkan tidak gugup dan tidak terpancing permainan keras Argentina.

Kita melihat Lisandro Martinez sering sekali maju membantu serangan. Dia beberapa kali meninggalkan posisinya. Nah, ini bisa menjadi celah bagi Oyarzabal atau pemain lain melakukan penetrasi.

Dukungan Lini Tengah Argentina

Yoso: Sekarang kita beralih ke Argentina. Bagaimana menurut Bang Adrizal komposisi lini tengah mereka dalam mendukung Messi dan Julian Alvarez?

Adrizal: Kalau saya melihat, komposisi Argentina bisa berubah. Mereka bisa bermain dari 4-3-1-2, kemudian bertransisi menjadi 4-4-2. 

Argentina selalu memainkan dua penyerang. Messi memang ditempatkan sebagai striker. Tetapi mereka lupa bahwa Messi diberi kebebasan penuh untuk menciptakan ruang.

Julian Alvarez tetap berada di depan. Sedangkan Messi turun menjemput bola. Mirip seorang penyerang lubang. 

Jadi, dia tidak terpaku pada satu posisi. Kadang Messi maju, Julian Alvarez turun. Inilah yang menyulitkan pertahanan lawan.

Kalau kita lihat Spanyol, mereka masih lebih kaku dengan satu striker. Negara-negara lain seperti Norwegia juga masih sangat bergantung pada striker utama. Prancis juga sangat bergantung kepada Mbappe.

Permainannya menjadi kurang cair. Sedangkan Argentina jauh lebih cair. Messi bisa bergerak bebas. Kemudian ada Giuliano Simeone yang bermain atraktif. Belum lagi Lautaro Martinez yang biasanya masuk pada babak kedua.

Argentina memiliki supersub yang mampu mengubah pertandingan, yaitu Lautaro Martinez.

Kecerdikan Argentina

Yoso: Kalau kita membaca sejarah sepak bola Argentina, ada dua filosofi yang saling bertemu. Yang pertama, permainan indah seperti era saat juara Piala Dunia 1978, ada Mario Kempes. Kemudian muncul era Maradona dengan “kecerdikan” yang terkenal, yaitu gol "Tangan Tuhan", saat juara Piala Dunia 1986. Sekarang, keduanya dipadukan. Masih ada permainan indah melalui Messi, tapi juga dipadukan dengan kecerdikan dan disiplin permainan. Mereka memiliki gelandang-gelandang pekerja keras seperti Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, Rodrigo De Paul, dan Leandro Paredes.

Adrizal: Ya, secara filosofis, Argentina memadukan permainan indah dengan permainan yang disiplin, keras, dan penuh daya juang. 

Mereka juga percaya pada keajaiban di lapangan. Karena itu, mereka tidak panik saat tertinggal. Mereka tidak mengubah gaya bermain.

Saat unggul pun mereka tidak terburu-buru mengubah pola permainan. Mereka hanya melakukan pergantian pemain yang dianggap kurang efektif.

Inilah yang harus benar-benar dipahami Spanyol.

Prediksi Babak Pertama

Yoso: Menurut Bang Adrizal, bagaimana jalannya babak pertama nanti?

Adrizal: Kalau berbicara penguasaan bola, saya yakin Spanyol akan sedikit lebih mendominasi. Tetapi, mereka akan menghadapi serangan balik Argentina. 

Yoso: Apakah babak pertama akan menghasilkan gol?

Adrizal: Kalau saya melihat babak pertama akan berakhir 0-0.

Yoso: Siapa yang akan lebih banyak menyerang?

Adrizal: Justru Argentina. Tetapi penguasaan bola tetap lebih banyak dimiliki Spanyol. Tiki-taka mereka tetap akan terlihat.

Namun, setiap kali Lamine Yamal kehilangan bola, akan muncul serangan balik Argentina. 

Jadi, pola permainannya kira-kira seperti ini. Spanyol memulai dengan penguasaan bola, lalu mentok, dan Argentina melakukan serangan balik.

Tetapi satu catatan penting, Spanyol sepertinya tidak akan terkejut menghadapi Messi, seperti halnya Inggris. Mereka akan mencari cara bagaimana mematikan Messi. 

Berbeda dengan Argentina. Mereka akan kesulitan menentukan siapa pemain Spanyol yang harus dimatikan. Tidak ada satu sosok yang benar-benar menjadi pusat permainan Spanyol.

Kalau Rodri dimatikan, masih ada Fabian Ruiz. Kalau Fabian membantu Rodri, Dani Olmo akan turun menjemput bola.

Karena itu, permainan Spanyol tidak akan langsung mati hanya dengan menghentikan satu pemain.

Yoso: Salah satu keunggulan Spanyol menurut saya juga berada di sektor bek sayap. Pedro Porro (di kanan) dan Cucurella (di kiri) aktif membantu serangan.

Adrizal: Betul. Itulah alasan mengapa Pedro Porro dan Cucurella sangat penting. Mereka memiliki kecepatan. Mereka memiliki naluri menyerang yang sangat baik.

Ketika Lamine Yamal, Baena, mengalami kebuntuan, kedua bek sayap ini bisa masuk membantu serangan.

Hal inilah yang kemarin tidak disadari Prancis. Pedro Porro berani naik. Cucurella juga aktif membantu serangan ketika Baena mengalami kebuntuan.

Menurut saya itu menjadi salah satu kekuatan terbesar Spanyol.

Prediksi Babak Kedua

Yoso: Kalau babak pertama berakhir imbang, bagaimana jalannya pertandingan pada babak kedua?

Adrizal: Kalau boleh memprediksi, saya melihat Argentina akan unggul di babak kedua.

Yoso: Kenapa Argentina justru lebih berpeluang unggul pada babak kedua?

Adrizal: Saya melihat ada faktor fisik. Argentina pada babak pertama kemungkinan akan lebih banyak membaca permainan lawan terlebih dahulu. Artinya, mereka akan melakukan scanning terhadap permainan Spanyol.

Nah, ketika masuk babak kedua, kemungkinan mereka sudah menemukan celah. Menurut saya Scaloni (pelatih Argentina) sangat cerdik dalam hal itu. Babak kedua baru mereka mulai memanfaatkan kelemahan lawan. 

Dan jangan lupa, Argentina punya pelatih yang bermain di lapangan, yaitu Lionel Messi. Di lapangan, ada Messi yang juga berperan layaknya pelatih.

Sering kita melihat ketika pertandingan berlangsung ada diskusi antara Scaloni dengan pemain-pemainnya. Messi juga ikut menentukan arah permainan.

Ada komunikasi antara pelatih dengan pemain, terutama Messi. Inilah yang menurut saya menjadi salah satu kekuatan Argentina. Messi seperti pelatih yang ikut bermain.

Yoso: Berarti menurut Bang Adrizal akan ada gol dari Argentina pada babak kedua?

Adrizal: Iya.

Yoso: Kalau Argentina unggul lebih dulu, apakah mereka tetap bermain seperti biasa atau akan langsung bertahan?

Adrizal: Tidak. Kalau saya melihat, Argentina memang akan bermain sedikit lebih dalam. Tetapi bukan bertahan total. Mereka lebih mengutamakan serangan balik. 

Mereka sadar penguasaan bola akan lebih banyak dimiliki Spanyol. Mereka tidak akan memaksakan diri menguasai pertandingan. Mereka akan menunggu kesempatan melakukan counter attack.

Kalau tidak Julian Alvarez, nanti Lautaro Martinez akan tetap berada di depan. Messi tetap turun menjemput bola. Kemudian Enzo Fernandez ikut membantu membangun serangan.

Argentina tidak akan bermain seperti Inggris yang semua pemainnya turun sampai ke belakang. Mereka tidak akan melakukan itu.

Yoso: Menariknya, Spanyol belum pernah kebobolan lebih dulu sejak fase grup. Kalau nanti Argentina mencetak gol lebih dahulu, bagaimana reaksi Spanyol menurut Bang Adrizal?

Adrizal: Kalau menurut saya, Spanyol akan berubah menjadi lebih pragmatis. Mereka tidak lagi terlalu mengandalkan keindahan tiki-taka. Mereka akan memilih cara yang paling efektif untuk mencetak gol.

Bisa saja Oyarzabal didampingi Ferran Torres sebagai penyerang kedua. Itu sangat mungkin terjadi.

Yang menarik memang Spanyol sejauh ini tidak pernah memiliki catatan kebobolan lebih dulu. Siapa pun lawannya, mereka selalu mampu mencetak gol lebih dahulu.

Kalau nanti mereka tertinggal, itu akan menjadi situasi baru bagi Spanyol.

Yoso: Sebaliknya, Argentina sudah beberapa kali tertinggal lebih dulu di turnamen ini. Kalau nanti mereka yang kebobolan lebih dahulu, sudah bisa kita bayangkan bahwa mereka akan menyerang habis.

Adrizal: Argentina pasti akan menyerang. Kita sudah melihat itu sebelumnya. 

Ketika tertinggal mereka langsung meningkatkan intensitas serangan. Mereka bisa memasukkan Lautaro Martinez.

Kalau Spanyol unggul lebih dulu, Spanyol tetap akan mempertahankan identitas permainan mereka. Karena bagi Spanyol, pertahanan terbaik adalah penguasaan bola. Inggris kemarin justru tidak melakukan itu.

Yoso: Kalau Argentina unggul 1-0, apakah Spanyol punya peluang menyamakan kedudukan?

Adrizal: Pasti. Saya melihat pertandingan ini akan berlangsung ketat. Bisa saja berakhir 2-1.

Tetapi, saya tidak membayangkan pertandingan ini sampai adu penalti. Karena karakter kedua tim berbeda dengan tim-tim lainnya. 

Kalau semifinal kemarin, mungkin ada peluang adu penalti. Tetapi kalau Argentina menghadapi Spanyol, saya merasa pertandingan akan selesai dalam waktu normal.

Walaupun tentu kita tidak pernah tahu. Sepak bola tetap sulit diprediksi.

Siapa Jadi Kampiun?

Yoso: Kalau boleh diprediksi, siapa yang berpeluang menjadi juara? Mungkin bisa kita prediksi dari dua hal. Pertama, secara kualitas pemain, materi pemain. Kedua, secara mental juara?

Adrizal: Kalau berbicara materi pemain, sudah pasti Spanyol. Mereka lebih lengkap.

Lini belakang bagus. Lini tengah mereka diperkuat Rodri. Kemudian ada Lamine Yamal sebagai pemain muda yang luar biasa.

Tetapi kalau berbicara mental juara, saya memilih Argentina.

Dan ingat, ini pertandingan final. Pada pertandingan final, komposisi pemain menjadi nomor dua. Mentalitas menjadi nomor satu.

Karena itu, saya melihat Argentina memiliki peluang lebih untuk juara piala dunia kedua kalinya secara beruntun.

Yoso: Soal mental, prediksi Bang Adrizal cukup relevan, karena pada final Piala Dunia 2022, Prancis sebenarnya unggul dari sisi materi pemain, tetapi Argentina yang menjadi juara.

Adrizal: Betul. Secara materi pemain Prancis luar biasa. Tetapi ketika final berlangsung, mentalitas Argentina lebih kuat. Apalagi saat adu penalti.

Saya melihat memang Argentina memiliki banyak pemain yang kontroversial. (Emiliano) Martinez (kiper), Paredes, De Paul, Mac Allister.

Tetapi, itu memang bagian dari cara mereka bermain. Secara filosofi sepak bola mereka, memang seperti itu.

Yoso: Salah satu hal yang terlihat mencolok adalah bagaimana seluruh pemain Argentina benar-benar bermain untuk Messi.

Adrizal: Betul. Ketika Messi dilanggar, semua pemain langsung datang. Ketika mereka menang, pemain pertama yang mereka cari adalah Messi. Mereka benar-benar menghormati sosok Messi.

Berbeda dengan tim lain, misalnya Portugal. Cristiano Ronaldo memang legenda Portugal. Tetapi budaya sepak bola Portugal berbeda. Di sana pemain muda merasa sudah waktunya mengambil alih.

Menurut saya itu juga menjadi salah satu penyebab Portugal kurang maksimal.

Regenerasi

Yoso: Spanyol terlihat berhasil melakukan regenerasi.

Adrizal: Itu yang paling saya salut dari Spanyol. Regenerasi mereka sangat cepat. Tidak pernah putus terlalu lama.

Lihat saja komposisi pemain mereka. Mayoritas pemain muda.

Kalau dibandingkan Argentina, regenerasi mereka memang lebih lambat. Sebagian besar pemain sekarang masih pemain yang menjadi juara Piala Dunia 2022. Belum banyak wajah baru.

Empat tahun lagi, justru era Spanyol dan Prancis yang akan semakin matang. Prancis juga akan semakin kuat karena pemain-pemain mudanya akan lebih berpengalaman. 

Mbappe bahkan masih berpeluang main dua kali lagi di Piala Dunia. Dia juga berpeluang mengejar berbagai rekor Messi sebagai pencetak gol terbanyak Piala Dunia.

Yoso: Baik, terima kasih Bang Adrizal atas analisis dan prediksinya. Menarik untuk kita nantikan siapa juara Piala Dunia 2026.

Adrizal: Terima kasih. (*)

 

Baca juga: Cakap-Cakap Penggemar Bola Jambi dari Piala Dunia 2026 hingga Stadion

Baca juga: Nobar Piala Dunia 2026 di BW Luxury Hotel Jambi Bertabur Hadiah Mewah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.