Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ( Sekjen DPP PA GMNI ), Dr. Abdy Yuhana resmi membuka Konferensi Daerah (Konferda) II Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PA GMNI Nusa Tenggara Timur (NTT).
Konferda II dirangkaikan dengan Sarasehan Kebangsaan yang berlangsung di Hotel Sasando, Kota Kupang, Sabtu 18 Juli 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri pengurus PA GMNI dari seluruh kabupaten/kota se-NTT, para senior organisasi, serta sejumlah kader yang kini mengabdi di berbagai lembaga negara dan pemerintahan.
Dalam sambutannya, Abdy Yuhana menyampaikan apresiasi atas perkembangan organisasi PA GMNI di NTT yang dinilai berhasil membangun soliditas sekaligus menempatkan kader-kadernya di berbagai ruang strategis.
Baca juga: GMNI Kupang Desak Kapolda NTT Tarik Polisi dari SPBU, Penegakan Pergub 13 2025 Timbulkan Keresahan
Ia menyebut saat ini kader PA GMNI telah mengisi berbagai posisi penting, mulai dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi Informasi (KI), hingga jabatan strategis di pemerintahan daerah.
"Saya baru pertama kali datang ke forum Konferda dengan cerita-cerita sukses yang sudah dilakukan oleh pengurus DPD PA GMNI NTT. Hari ini saya melihat sendiri bahwa PA GMNI NTT benar-benar solid sebagai barisan nasionalis marhaenis," ujar Abdy.
Ia juga memberikan penghormatan kepada para senior GMNI yang dinilai memiliki peran besar menjaga eksistensi organisasi, termasuk mengenang perjuangan para tokoh saat Kongres Bandung tahun 2021.
Menurut Abdy, keberhasilan kader PA GMNI yang kini tersebar di berbagai partai politik maupun lembaga negara menunjukkan organisasi tersebut tetap menjadi sumber kader bangsa.
Selain menyampaikan salam dari Ketua Dewan Ideologi PA GMNI Guntur Soekarnoputra dan Ketua Umum DPP PA GMNI Prof. Dr. Arief Hidayat, Abdy juga melaporkan perkembangan organisasi yang kini telah memiliki sekitar 330 kepengurusan DPD dan DPC di seluruh Indonesia.
Ia menyebut PA GMNI menjadi salah satu organisasi alumni terbesar di Indonesia dan terus melakukan konsolidasi menuju Kongres Nasional PA GMNI yang dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026.
Dalam kesempatan itu, Abdy mengungkapkan beberapa daerah telah mengajukan diri menjadi tuan rumah kongres nasional, di antaranya Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, DPP akan mempertimbangkan kesiapan teknis maupun aspek strategis sebelum menetapkan lokasi penyelenggaraan kongres.
Abdy juga mengingatkan seluruh kader menghadapi tantangan bangsa yang disebutnya sebagai situasi Vivere Pericoloso atau "tahun yang menyerempet bahaya".
Ia menilai kondisi ekonomi, sosial, dan politik nasional saat ini membutuhkan peran aktif organisasi dalam menjaga persatuan bangsa.
"PA GMNI harus menjaga kohesivitas bangsa, menjaga Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia agar tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan," tegasnya.
Ia meminta seluruh kader menjaga kondusivitas organisasi serta mengedepankan musyawarah mufakat dalam pelaksanaan Konferda II PA GMNI NTT.
Sementara itu, Ketua DPD PA GMNI NTT Yoseph Dasi Djawa menegaskan pentingnya memperjuangkan status NTT sebagai Provinsi Kepulauan.
Menurut Yoseph, selama ini pemerintah pusat masih memandang NTT hanya sebagai wilayah daratan sehingga kebijakan pembangunan dan pembagian anggaran belum mencerminkan kondisi geografis daerah tersebut.
"Kekayaan terbesar NTT ada di laut, tetapi cara pandang pemerintah pusat masih memisahkan daratan dan lautan. Padahal Indonesia adalah negara kepulauan yang harus dipandang sebagai satu kesatuan wilayah," katanya.
Ia menilai ketidakadilan dalam penghitungan luas wilayah berdampak terhadap pembagian Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), maupun kebijakan fiskal lainnya.
Menurut Yoseph, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab ketimpangan pembangunan di NTT.
"Rakyat NTT bukan malas. Tetapi kita diperlakukan tidak adil dalam pembagian pembangunan nasional. Karena itu perjuangan menjadikan NTT sebagai Provinsi Kepulauan harus terus dilakukan," ujarnya.
Yoseph berharap aspirasi tersebut mendapat dukungan DPP PA GMNI maupun para wakil rakyat di tingkat pusat sehingga dapat diperjuangkan melalui jalur kebijakan nasional.
Ia juga mengajak seluruh kader terus mengembangkan pemikiran kritis demi menghadirkan gagasan baru bagi pembangunan NTT.
"Nasionalisme Indonesia harus dimulai dari daerah. Kalau kita mencintai daerah ini, sesungguhnya kita sedang mencintai Indonesia," tegasnya.
Ketua Panitia Konferda II PA GMNI NTT, Yoppy Lati, mengatakan Konferda merupakan forum tertinggi organisasi di tingkat daerah yang menjadi momentum mengevaluasi jalannya organisasi, menyusun program kerja lima tahun ke depan, serta memilih Ketua DPD PA GMNI NTT periode 2026-2031.
"Konferda ini menjadi momentum untuk mengevaluasi organisasi, menyusun program kerja, dan memilih nahkoda baru DPD Persatuan Alumni GMNI NTT periode 2026–2031," katanya.
Selain agenda organisasi, panitia juga menggelar Sarasehan Kebangsaan bertema "Nasionalisme Menjawab Tantangan Zaman, Sinergi untuk NTT Maju dan Berkeadilan."
Menurut Yoppy, tema tersebut dipilih karena NTT masih menghadapi berbagai persoalan mendasar seperti kemiskinan ekstrem, stunting, dan kesenjangan sosial yang memerlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Ia juga mengusulkan agar Kongres Nasional PA GMNI mendatang dapat diselenggarakan di NTT. Ia menambahkan NTT memiliki pengalaman menjadi tuan rumah Kongres GMNI dan dinilai mampu menyelenggarakan agenda nasional secara aman, tertib, dan sukses. (ray)