Fenomena Hujan Es dan Angin Kencang di Wilayah Krayan Nunukan, BMKG Beri Penjelasan
Cornel Dimas Satrio July 18, 2026 11:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM - Masyarakat di Kecamatan Krayan dan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) dikejutkan oleh fenomena hujan es dan angin kencang yang merusak sejumlah bangunan.

BMKG Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan akhirnya angkat bicara dan membeberkan analisis ilmiah terkait kondisi atmosfer ekstrem yang memicu fenomena langka yang terjadi pada Kamis (16/7/2026) ini.

BMKG mengungkapkan fenomena ini dipicu kombinasi dinamis sejumlah faktor atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan badai secara masif.

“Berdasarkan hasil analisis meteorologi, kondisi atmosfer saat kejadian cukup mendukung terbentuknya awan hujan kuat di wilayah Krayan dan Krayan Barat,” kata Muhammad Hermansyah, Forecaster On Duty BMKG Stasiun Meteorologi Juwata Tarakan dalam keterangannya.

HUJAN ES - Hujan es disertai angin kencang menerjang wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sejumlah fasilitas warga mengalami kerusakan akibat pohon tumbang dan terpaan angin kuat, Kamis (16/7/2026).
HUJAN ES - Hujan es disertai angin kencang menerjang wilayah Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Sejumlah fasilitas warga mengalami kerusakan akibat pohon tumbang dan terpaan angin kuat, Kamis (16/7/2026). (ISTIMEWA)

Baca juga: Prakiraan Cuaca Kaltara Minggu 19 Juli 2026, Peringatan Dini Hujan Lebat dan Angin Kencang

Kombinasi 3 Faktor Utama Pemicu Badai

Secara lebih rinci, BMKG membeberkan tiga kondisi atmosfer yang menjadi penyebab utama terjadinya hujan es dan angin kencang di Krayan:

1. Suplai Energi Tinggi dari Laut: Suhu muka laut di sekitar perairan Kalimantan Utara saat kejadian tercatat cukup hangat, yakni berada pada kisaran 30 hingga 32 derajat Celsius. Angka ini menunjukkan adanya anomali suhu sekitar 0,5 hingga +1 derajat Celsius. Kondisi hangat inilah yang berperan penting dalam meningkatkan suplai energi serta memicu aktivitas konveksi (penguapan kuat) di wilayah Kalimantan Utara.

2. Perlambatan Massa Udara (Konvergensi): Hasil analisis pola angin menunjukkan adanya penumpukan massa udara akibat perlambatan kecepatan angin di lapisan bawah (925 hPa). Dampaknya, udara lembap berkumpul di satu area dan mempercepat proses pembentukan awan hujan.

3. Aktivitas Gelombang Kelvin: Selain faktor lokal, faktor regional juga turut andil memperparah keadaan melalui aktivitas gelombang atmosfer.

"Gelombang Kelvin juga terindikasi aktif di wilayah Kalimantan Utara dan sekitarnya. Meskipun fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) tidak memberikan kontribusi signifikan, kondisi lokal dan regional tetap mendukung pembentukan awan konvektif," jelas Muhammad Hermansyah.

Terbentuknya Awan Raksasa Cumulonimbus

Faktor pendukung utama lainnya adalah kondisi udara yang sangat basah. Pada 16 Juli 2026, kelembapan udara di wilayah Krayan tercatat sangat tinggi, mencapai 80 hingga 100 persen pada lapisan bawah hingga menengah (925–700 milibar).

Sementara pada lapisan atas (500 milibar), kelembapannya masih bertahan di kisaran 70–80 persen.

"Kondisi udara yang basah dari lapisan bawah hingga menengah mendukung terbentuknya awan Cumulonimbus yang dapat menghasilkan hujan lebat, petir, dan angin kencang," ujarnya.

Melalui pantauan citra satelit BMKG, awan hujan tersebut mulai tumbuh pesat sejak pukul 16.00 WITA.

Dalam waktu singkat, awan berkembang menjadi sangat masif hingga pukul 17.30 WITA dengan suhu puncak awan yang sangat dingin ekstrem, yakni mencapai minus 62 hingga minus 69 derajat Celsius.

Suhu yang sangat beku di puncak awan inilah yang membuat butiran air membeku menjadi kristal es dan jatuh ke bumi sebagai hujan es.

Sementara berdasarkan citra radar cuaca, pembentukan awan hujan mulai terlihat sekitar pukul 16.02 WITA dengan nilai reflektivitas awal 20–35 dBZ yang menunjukkan hujan ringan hingga sedang.

Intensitas hujan kemudian meningkat sekitar pukul 16.57 WITA sebelum awan mulai melemah pada pukul 17.34 WITA.

Dampak Kerusakan dan Imbauan Susulan

Meski berlangsung relatif singkat, akumulasi curah hujan harian berdasarkan pengamatan Stasiun Meteorologi Yuvai Semaring menembus angka 72–75 milimeter dalam periode pukul 16.00 hingga 18.00 WITA, disertai kecepatan angin maksimum yang mencapai 18 knot.

Akibat amukan cuaca ekstrem ini, sejumlah kerusakan dilaporkan melanda Desa Long Katung, Kecamatan Krayan. Tercatat satu rumah warga tertimpa pohon tumbang, beberapa atap rumah dan tempat ibadah rusak, serta satu pagar rumah dan tiang radio SSB roboh diterjang angin.

BMKG pun meminta masyarakat Kalimantan Utara untuk tidak lengah dan tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem serupa dalam beberapa hari ke depan, mengingat potensi hujan sedang hingga lebat yang disertai petir dan angin kencang masih berpeluang terjadi.

"Masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan pohon tumbang, terutama di wilayah yang rawan terdampak," pungkas Muhammad Hermansyah.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.