Dedi Mulyadi: Jangan Mudah Mengafirkan Orang yang Menjaga Tradisi Leluhur
Rezi Azwar July 18, 2026 10:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya dan tradisi di tengah keberagaman Indonesia. 

Menurutnya, perbedaan adat dan keyakinan yang diwariskan para leluhur tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyalahkan atau menghakimi.

Pesan itu disampaikan Dedi Mulyadi saat memberikan sambutan pada Musyawarah Wilayah (Muswil) VII Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Provinsi Sumatera Barat di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Sabtu (18/7/2026).

Dalam pidatonya, Dedi menegaskan Indonesia berdiri karena keberagaman budaya yang dimiliki setiap daerah. 

Baca juga: DPP IKM Desak Bareskrim Segera Panggil Abu Janda, Buntut Kata Barbar

Karena itu, ia mengajak seluruh masyarakat menghormati tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

"Saya ini orang Sunda, orang Jawa. Jangan pernah lagi menggeneralisir, mengafirkan, atau menyalahkan orang-orang yang hidup dalam keberagaman dan keyakinan yang didasarkan pada nilai ajaran leluhur," kata Dedi.

Ia menilai masyarakat adat bukan sedang mempertahankan keyakinan semata, melainkan menjaga tanah air yang diwariskan para pendahulunya.

"Sesungguhnya mereka bukan mempertahankan agama atau keyakinannya, tetapi mempertahankan tanah air yang dititipkan oleh leluhurnya. Itu harus dijaga," ujarnya.

Baca juga: Ketua DPRD Minta Abu Janda Tak Asal Bicara Soal Sumbar, Tegaskan Minangkabau Punya Falsafah

Menurut Dedi, berbagai ritual adat yang masih dijalankan di sejumlah daerah merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur, bukan bentuk penyembahan.

"Bentuk ritualitas mereka adalah penghormatan, bukan penghambaan. Karena penghormatan, maka spiritnya adalah merawat, menjaga, dan memelihara," katanya.

Ia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan mengenai budaya tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah belah masyarakat demi kepentingan politik maupun ekonomi.

Menurutnya, ketika masyarakat sibuk berdebat mengenai perbedaan, ada pihak lain yang justru menikmati hasil kekayaan alam Indonesia.

Baca juga: Pesan Dedi Mulyadi untuk KAHMI Sumbar: Tidak Ada Kemajuan Tanpa Rasionalitas

"Kita sibuk dalam diskusi dan pertengkaran. Mereka asyik menikmati seluruh sumber daya kekayaan alam," ujarnya.

Dedi mengatakan semangat menjaga kebudayaan merupakan bagian dari jati diri bangsa Indonesia.

Baginya, kembali kepada jati diri berarti kembali pada tradisi, menghormati keberagaman, serta menjaga tanah, air, dan lingkungan sebagai amanah yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

"Tanpa nilai-nilai tradisionalisme dan kebudayaan, Indonesia tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada," tegasnya.

Ia berharap kader HMI dan KAHMI dapat menjadi pelopor dalam menjaga persatuan, merawat keberagaman, serta memperkuat nilai-nilai kebangsaan di tengah kehidupan masyarakat.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.