Anak Terinfeksi DBD Tak Hanya Berdampak Pada Kesehatan, Ada Efek Sosial dan Ekonomi
Anita K Wardhani July 19, 2026 08:19 AM

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Ketika anak terinfeksi demam berdarah dengue (DBD), dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan.

Orang tua juga merasakan dampak sosial dan ekonomi karena harus mendampingi anak selama masa perawatan, termasuk kehilangan waktu kerja hingga berkurangnya pendapatan.

Baca juga: Indonesia Bakal Punya Vaksin DBD mRNA Pertama di Dunia, Kolaborasi Perguruan Tinggi-Industri Farmasi

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K), mengatakan dampak DBD pada anak sering kali meluas hingga memengaruhi kondisi keluarga.

Menurutnya, ketika anak harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat infeksi dengue, orang tua biasanya perlu mendampingi sehingga waktu untuk bekerja menjadi berkurang.

“Pada saat anak terserang infeksi dengue dan perlu perawatan di rumah sakit, maka orang tua harus mendampingi sehingga kehilangan waktu untuk bekerja dan mengurangi produktivitas,” ujar Prof. Sri.

Ia menjelaskan, kondisi serupa juga dapat terjadi ketika orang tua yang terkena dengue.

Baca juga: Lonjakan Kasus DBD Dipengaruhi Cuaca Ekstrem, Sampai Mei 2026 Sudah 105 Jiwa Meninggal

Anggota keluarga lain harus mengambil peran untuk merawat, sehingga aktivitas sehari-hari dan kondisi ekonomi keluarga ikut terdampak.

Selain biaya pengobatan, terdapat beban lain yang sering tidak terlihat, yakni hilangnya produktivitas akibat waktu kerja yang terpakai untuk merawat pasien.

Proses pemulihan dari infeksi dengue pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

“Untuk pemulihan dari infeksi dengue perlu waktu yang cukup lama sekitar 1-2 minggu,” jelas Prof. Sri.

Pencegahan DBS Secara Menyeluruh 

Prof. Sri menegaskan, kondisi ini menunjukkan bahwa dengue bukan hanya persoalan medis, tetapi juga dapat berdampak pada kesejahteraan keluarga.

Karena itu, ia mendorong upaya pencegahan dengue dilakukan secara lebih menyeluruh.

Pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus, tetapi perlu diperkuat dengan deteksi dini, pengendalian vektor, serta upaya perlindungan lainnya.

“Menghadapi ancaman penyakit dengue yang begitu berat dan meluas, tidak bisa lagi hanya mengandalkan satu atau dua upaya pencegahan konvensional seperti 3M Plus. Kita membutuhkan sesuatu yang komprehensif,” tegasnya.

Dengan pencegahan yang lebih kuat, risiko anak terkena dengue dapat ditekan.

Di sisi lain, berdasarkan studi dari Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), beban ekonomi akibat dengue di Indonesia pada 2024  mencapai USD550,9 juta atau hampir Rp9 triliun.

Studi tersebut juga menunjukkan, beban tidak langsung berupa kehilangan produktivitas menjadi salah satu komponen besar.

Pada kelompok pasien yang dijamin Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kerugian akibat hilangnya waktu produktif masyarakat karena sakit mencapai USD115 juta atau sekitar Rp1,81 triliun sepanjang 2024.

Sementara itu, pada kelompok pasien non-JKN, kerugian produktivitas tercatat mencapai USD47,8 juta atau sekitar Rp755,2 miliar.

Guru Besar dari Departemen Farmakologi dan Terapi, FK-KMK UGM, Prof. Dr. Jarir At Thobari, D.Pharm., memaparkan, kajian ini menunjukkan bahwa investasi pada pencegahan penyakit tidak hanya berpotensi meningkatkan kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan dalam jangka panjang.

Ditambahkan Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, pihaknya sangat prihatin melihat besarnya beban kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkan oleh dengue di Indonesia.

Semua orang berisiko terjangkit virus dengue, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi berat yang berisiko fatal.

Sementara itu, Ketua IDAI Jaya, Prof. Rismala Dewi, menegaskan, pihaknya mendukung upaya pencegahan dengue yang lebih menyeluruh, khususnya melalui penguatan peran dokter anak dalam edukasi, deteksi dini, dan pendampingan keluarga.

“Kami juga mengajak para dokter anak untuk terus berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada orang tua, mendorong deteksi dini, serta membantu keluarga memahami langkah-langkah perlindungan untuk mengurangi risiko dan dampak dengue pada anak,” ujar Prof. Rismala.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.