Kylian Mbappé menempatkan dirinya di posisi terdepan untuk merebut penghargaan Sepatu Emas pada Piala Dunia FIFA 2026 setelah mencetak dua gol ke gawang Inggris dalam laga perebutan tempat ketiga — sebuah penampilan yang juga membuatnya melampaui rekor gol sepanjang masa Lionel Messi di Piala Dunia.
Prancis akhirnya harus menerima kekalahan dramatis 6-4 dari Inggris dalam pertandingan penuh 10 gol di Miami. Namun, Mbappé tetap menutup sore itu dengan pencapaian individu terbesar. Dua gol yang ia ciptakan membawanya mengoleksi total 10 gol dan empat assist sepanjang turnamen, melewati Messi yang akan tampil di final hari Minggu melawan Spanyol dengan catatan delapan gol dan empat assist.
Perubahan ini menegaskan bahwa laga perebutan tempat ketiga, meski sering dianggap hanya sebagai laga hiburan, tetap bisa berpengaruh besar terhadap penghargaan individu paling bergengsi di dunia sepak bola.
Laga perebutan tempat ketiga ubah peta persaingan Sepatu Emas
Sebelum pertandingan hari Sabtu, Messi memimpin klasemen sementara Sepatu Emas. Kapten Argentina itu naik ke puncak setelah penampilan luar biasa di semifinal melawan Inggris, di mana ia mencatat dua assist dalam kemenangan comeback Argentina 2-1, sehingga mengoleksi delapan gol dan empat assist. Sementara itu, Mbappé sebelumnya mencatat delapan gol dan tiga assist setelah Prancis kalah dari Spanyol di semifinal.
Dengan satu pertandingan resmi FIFA tersisa, Mbappé memiliki kesempatan terakhir untuk menyalip rival lamanya tersebut — dan ia melakukannya dengan sempurna.
Inggris unggul cepat 4-0 di babak pertama melalui gol Declan Rice, Ezri Konsa, dan dua gol dari Bukayo Saka, membuat Prancis berada di ambang kekalahan memalukan. Mbappé memicu kebangkitan Prancis tiga menit setelah babak kedua dimulai, mencetak gol pada menit ke-48 untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 4-1. Bradley Barcola menambah gol kedua Prancis pada menit ke-54 sebelum Mbappé kembali mencetak gol di menit ke-66, membuat skor menjadi 4-3 dan mengubah arah perebutan Sepatu Emas secara dramatis.
Inggris akhirnya memastikan tempat ketiga melalui penalti Saka pada menit ke-87, sebelum Ousmane Dembélé memperkecil skor menjadi 5-4 di masa tambahan waktu. Jude Bellingham kemudian menutup laga dengan gol penentu yang membuat skor akhir menjadi 6-4, namun pencapaian individu Mbappé tetap menjadi sorotan utama.
Klasemen Sepatu Emas terbaru
Dengan dua gol tambahan, posisi klasemen Sepatu Emas kini tampak berbeda menjelang final Piala Dunia:
Dengan turnamen Prancis yang sudah berakhir, catatan Mbappé kini final. Messi, bagaimanapun, masih memiliki satu pertandingan tersisa melawan Spanyol dan berpeluang memperkecil atau bahkan membalikkan selisih pada final hari Minggu nanti.
Rekor bersejarah terpecahkan
Gol kedua Mbappé memiliki arti lebih besar dari sekadar posisi di klasemen Sepatu Emas. Kapten Prancis itu kini mencatat 22 gol sepanjang kariernya di Piala Dunia, melewati Messi dan menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah turnamen tersebut.
Lebih mengesankan lagi, penyerang Real Madrid itu mencapai angka tersebut hanya dalam 22 penampilan di Piala Dunia, dengan rata-rata tepat satu gol per pertandingan. Messi mencapai 21 gol dalam 31 penampilan sebelum menambah satu gol lagi dalam perjalanan Argentina ke final tahun ini.
Mbappé juga kini menjadi pemegang tunggal rekor gol terbanyak di Piala Dunia tanpa penalti, dengan 19 gol, melampaui catatan sebelumnya milik Messi yang berjumlah 17 gol.
Mengapa laga perebutan tempat ketiga tetap penting
Drama yang terjadi pada hari Sabtu kembali menunjukkan betapa pentingnya laga perebutan tempat ketiga yang sering diremehkan. Meskipun hanya menentukan peraih medali perunggu, pertandingan ini merupakan laga resmi Piala Dunia FIFA, sehingga setiap gol, assist, dan menit bermain berpengaruh terhadap penghargaan individu seperti Sepatu Emas.
Sejarah pun menunjukkan betapa besar pengaruh laga ini. Legenda Prancis Just Fontaine mencetak empat gol dalam laga perebutan tempat ketiga tahun 1958 melawan Jerman Barat dan menutup turnamen dengan 13 gol — rekor yang masih bertahan hingga kini. Pada 1998, Davor Šuker dari Kroasia mencetak gol kemenangan melawan Belanda untuk mengamankan Sepatu Emas dengan enam gol. Situasi serupa terjadi pada 2010 ketika Thomas Müller, David Villa, Wesley Sneijder, dan Diego Forlán sama-sama mencetak lima gol. Müller mencetak gol dalam kemenangan Jerman 3-2 atas Uruguay di laga perebutan tempat ketiga, dan meski Forlán juga mencetak gol, Müller akhirnya meraih Sepatu Emas karena memiliki tiga assist yang memberinya keunggulan.
Piala Dunia 2026 kini menambah satu momen bersejarah lainnya dalam perebutan penghargaan ini. Berkat dua gol pada menit ke-48 dan ke-66 melawan Inggris, Mbappé tidak hanya menguasai klasemen Sepatu Emas tetapi juga menegaskan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Kini, hanya Messi — dengan satu pertandingan tersisa melawan Spanyol — yang masih memiliki peluang untuk menggagalkan dominasi ganda tersebut.