TRIBUNSUMSEL.COM -- Suasana duka menyelimuti keluarga besar presenter Arie Untung menyusul berpulangnya sang ayah, Untung Rumekso, pada Sabtu (18/7/2026) pukul 11.42 WIB di rumah sakit.
Setelah melalui prosesi pemakaman di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Arie Untung tidak dapat menyembunyikan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian pria yang akrab disapa Pukung tersebut.
Bagi Arie, momen melepas sang ayah memberikan refleksi tersendiri mengenai arti kehilangan yang sesungguhnya.
"Kita sudah sering melihat pemakaman, tapi rasanya ternyata beda ya. Rasa patah hatinya itu berat juga ternyata. Tapi ya sudah, itu yang terbaik. Pukung sudah tidak sakit lagi," ujar Arie Untung dengan nada pelan sembari menunduk pada Sabtu sore.
Perjalanan medis almarhum sebelum mengembuskan napas terakhir di usia 86 tahun diwarnai oleh serangkaian komplikasi yang cukup kompleks.
Sang menantu, Fenita Arie, membeberkan bahwa penurunan kondisi fisik mertuanya bermula setelah almarhum sempat mengalami insiden terjatuh. Kejadian tersebut membuat keluarga memutuskan untuk mengambil tindakan medis lebih lanjut.
"Habis jatuh kami bawa ke rumah sakit. Kemudian belum lama ini dokter bilang Pukung harus dioperasi, akhirnya keluarga setuju buat operasi," ungkap Fenita Arie, dikutip dalam Tribunnews.com
Namun, situasi pascaoperasi ternyata tidak berjalan sesuai harapan.
Tubuh almarhum harus berjuang melawan akumulasi efek obat-obatan medis yang memicu kegagalan fungsi pada sejumlah organ vital, ditambah dengan penyakit asma bawaan yang mendadak kambuh.
"Paru-parunya cuma bisa berfungsi sebelah saja. Terus jantungnya ada pembengkakan, dan ginjalnya juga sudah tidak kuat karena terlalu banyak obat yang dimasukkan," urai Fenita mengenai kondisi medis mertuanya.
Kondisi almarhum semakin mengkhawatirkan ketika memasuki masa kritis pada Jumat malam sekitar pukul 23.30 WIB akibat mengalami gagal napas.
Tim dokter sempat melakukan upaya penyelamatan darurat berupa tindakan resusitasi jantung paru (CPR) pada pukul 01.00 WIB dan 02.00 WIB dini hari.
Upaya pemompaan dada tersebut sempat berhasil mengembalikan denyut nadi almarhum.
Kendati demikian, stabilitas tersebut tidak bertahan lama karena kondisi fisik almarhum kembali merosot tajam pada keesokan harinya.
Menghadapi situasi pelik di ruang ICU pada Sabtu pagi, pihak keluarga dihadapkan pada pilihan sulit antara terus mempertahankan alat bantu medis atau merelakan kepergian almarhum agar tidak lagi merasakan sakit.
Tepat pada pukul 11.14 WIB, setelah berkonsultasi secara mendalam dengan tim medis, Arie Untung beserta keluarga besar sepakat untuk menghentikan intervensi medis yang dinilai memberatkan fisik sang ayah.
Langkah ini diambil murni demi kenyamanan terakhir almarhum.
"Kami sekeluarga sudah ikhlas, karena mungkin ini yang terbaik. Kalau kita paksakan, takutnya ini jadi ego kita sebagai keluarga saja, padahal Pukung yang kesakitan. Kami dampingi terus, ditalqin terus di ICU sampai akhirnya Pukung melepaskan semuanya dengan sangat tenang," pungkas Fenita.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com