Tuhan menitipkan orang - orang hebat ke bumi dalam hitungan abad.
Kita kenal Socrates, Leonardo Da Vinci, Augustinus, Napoleon, Einstein dan lainnya. Mereka tak lahir setiap tahun. Tapi tiap abad.
Mungkin juga antar abad. Lewat merekalah, Tuhan membuka misteri dunia, dan dari pengetahuan itu namaNya dipermuliakan.
Pun di sepakbola, ada talenta besar yang hanya lahir satu abad sekali. Kita bisa menyebut nama Pele, Maradona dan Lionel Messi.
Nah di final Piala Dunia 2026 antara Spanyol Vs Argentina, kita adalah generasi yang benar - benar beruntung dapat menyaksikan bagaimana dua pemain yang lahir seabad sekali bertemu dalam momen perpisahan sekaligus penyambutan.
Messi, sang legenda hidup sepakbola dari Argentina yang juga disebut olahragawan terhebat abad ini, mungkin akan memainkan pertandingan terakhirnya di Piala Dunia.
Di sisi Spanyol ada Lamine Yamal, bintang muda berusia 18 tahun yang juga punya gen dewa bola seperti Messi.
Final ini mungkin sudah ditentukan takdir, sebagaimana ia berbicara puluhan tahun silam.
Kala itu, Messi yang masih muda diberi kesempatan memandikan Yamal kecil dalam sebuah loyang kecil.
Ini terjadi dalam sebuah Iven amal dimana keluarga Yamal memenangkan undian untuk berfoto bersama Messi.
Peristiwa itu seakan biasa saja sampai dua tahun lalu Yamal memenangkan Euro di usianya yang baru 16 tahun.
Sang ayah lantas mengunggah foto itu.
Dunia heboh. Rame pula upaya cocok logi. Ada yang menyebut itu adalah momen "penunjukkan" raja ke penerusnya.
Messi dan Yamal memang mirip. Keduanya kidal.
Sama sama didikan akademi Barcelona. Sama sama punya dribel maut dan kecerdasan tingkat tinggi.
Nah final ini mungkin merupakan last dance Messi dan First dance Yamal.
Kita beruntung dapat menyaksikan dua dewa dalam satu lapangan - satu segera terangkat, satu baru saja mau mulai berkarya.
Messi adalah segalanya bagi timnas Argentina di Piala Dunia 2026.
Di usia yang sudah 39 tahun ia sanggup menggendong tim, dengan 8 gol dan 4 assist.
Ia adalah satu satunya pemain yang berada di atas sistem.
Seluruh sistem permainan tim Argentina menyesuaikan dengan potensi Messi.
Bahkan Scaloni sampai menunjuk para bodyguard seperti De Paul, Fernandez dan Macalister untuk menjaga Messi.
Hubungan unik dan tak biasa antara Messi dan Argentina ini ibarat misteri yang belum terpecahkan oleh tim manapun.
Sementara Yamal musti tunduk pada sistem bermain ala Spanyol.
Meski demikian, Yamal adalah pemimpin dari sistem itu.
Ibaratnya tarian Katrili dari Minahasa yang dipengaruhi budaya Spanyol, Yamal adalah kapelnya.
Ia bisa maju, mundur, menusuk ke luar, masuk ke dalam, membawa seluruh tim bersamanya dalam irama yang kompak dan mematikan.
Spanyol terbiasa memegang bola, menekan, melakukan pressing ; terlihat anggun bak dansa Katrili dan tiba tiba cepat bak kilat. Itulah jasa Yamal sang kapel.
Jadi marilah kita saksikan noreng piala dunia kali ini dengan hati yang bersyukur atas nikmat yang Ia berikan lewat tampilan indah dan menggugah dari Argentina dan Spanyol yang diwakili Messi dan Yamal.
Saya berencana nonton di kawasan Mega Mas Manado. Anda nonton dimana ? (Arthur Rompis)
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini