SURYA.CO.ID SURABAYA - Ajang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, memang baru akan digelar pada akhir Agustus 2026. Namun, dinamika menjelang forum tertinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu sudah semakin menghangat, terutama dengan bermunculannya sejumlah nama yang digadang-gadang masuk bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Persaingan menuju kursi Ketua Umum PBNU diperkirakan bakal menjadi salah satu perhatian utama Muktamar. Selain menentukan arah kepemimpinan organisasi lima tahun ke depan, forum ini juga menjadi momentum evaluasi kepengurusan, penyusunan program strategis, hingga penegasan arah gerakan NU di tengah dinamika sosial, politik, dan keagamaan nasional.
Munculnya banyak tokoh yang siap berikhtiar dinilai menunjukkan tingginya regenerasi kepemimpinan di tubuh NU.
Sejumlah nama yang kini mencuat di antaranya Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sebagai petahana, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Pengasuh Pondok Pesantren API ASRI Tegalrejo Magelang KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), hingga Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin.
Gus Salam bahkan telah mendeklarasikan diri maju sebagai calon Ketua Umum PBNU. Sementara Kiai Zulfa menyatakan siap maju apabila mendapat amanah dari PWNU dan PCNU.
Gus Yusuf juga aktif bersilaturahmi dengan sejumlah PWNU maupun PCNU sebagai bagian dari ikhtiarnya. Di sisi lain, Gus Kikin secara terbuka menyatakan siap dicalonkan, sedangkan Gus Rozin juga memastikan niatnya mengikuti kontestasi tersebut.
Menanggapi semakin banyaknya tokoh yang masuk dalam bursa Ketua Umum PBNU, Gus Salam mengaku tidak merasa terganggu. Menurutnya, semakin banyak kader yang bersedia maju justru menjadi pertanda baik bagi masa depan organisasi.
"Saya menyambut baik, semakin banyak yang berikhtiar di Muktamar, berarti menunjukkan kaderisasi NU berjalan dengan baik," kata Gus Salam ketika dikonfirmasi di Surabaya, Minggu (19/7/2026).
Ia juga mengingatkan agar dinamika menjelang Muktamar tetap dijalankan secara sehat tanpa saling menjatuhkan antarcalon.
"Yang penting kita bisa supportif dan tidak perlu menjelekkan diantara kandidat yang ada," tandasnya.
Sementara itu, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Al-Hamidy Banyuanyar Pamekasan, Abd Munib, menilai Muktamar ke-35 NU akan menjadi perhatian publik karena besarnya pengaruh organisasi tersebut di Indonesia.
"Sehingga menarik ditunggu," kata Munib.
Menurut Munib, secara umum terdapat dua tipologi calon Ketua Umum PBNU. Pertama, kalangan tradisional yang tidak memiliki afiliasi politik. Kedua, kalangan elit yang memiliki kedekatan dengan jabatan politik.
"Siapa yang menang, kita tunggu mekanisme pemilihannya seperti apa," ungkap Munib.
Ia menambahkan, mekanisme pemilihan akan sangat menentukan peluang masing-masing kandidat. Hingga kini masih terdapat dua opsi yang akan dibahas dalam Muktamar, yakni pemilihan melalui voting ataupun melalui mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA).
Menurut Munib, jika mekanisme AHWA diterapkan, peluang calon dari kalangan tradisional akan lebih besar. Sebaliknya, apabila menggunakan sistem voting, kandidat dari kalangan elit dinilai memiliki peluang lebih terbuka.
"Kalau mekanisme pemilihan memberlakukan AHWA, Ketum terpilih berpeluang dipegang kalangan tradisional. Tapi, bila mekanismenya voting maka jabatan Ketum PBNU berpotensi akan dinahkodai kalangan elit," jelas peneliti sekaligus penulis buku Wacana dan Pro-Kontra Narasi dan Daya Tipu Tampilan Luar tersebut.