TRIBUNMANADO.COM, MANADO - Stigma terhadap penderita kusta masih menjadi tantangan dalam upaya penanggulangan penyakit ini.
Padahal, kusta merupakan penyakit infeksi yang dapat disembuhkan dan risiko penularannya akan menurun dengan cepat setelah penderita menjalani pengobatan yang tepat.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Cabang Manado, dr. Reymond Sondakh, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, mengatakan pencegahan kusta dapat dilakukan melalui deteksi dini dan pengobatan sesegera mungkin.
Masyarakat yang menemukan bercak kulit mati rasa atau mengalami gejala yang mengarah pada kusta sebaiknya segera memeriksakan diri ke puskesmas atau dokter.
Pengobatan menggunakan Multi Drug Therapy (MDT) telah tersedia secara gratis di seluruh puskesmas.
"Selain deteksi dini, anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita juga perlu diperiksa. Masyarakat juga perlu menjaga daya tahan tubuh sebagai salah satu upaya pencegahan," ujarnya, Minggu (19/7/2026).
Bagi masyarakat yang telah didiagnosis menderita kusta, dr. Reymond mengimbau agar tidak panik maupun merasa malu karena penyakit tersebut dapat disembuhkan.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera menjalani pengobatan di puskesmas atau dokter.
Penderita juga harus mengonsumsi obat secara teratur hingga tuntas serta rutin melakukan kontrol sesuai jadwal yang ditentukan tenaga kesehatan.
Selain itu, penderita perlu memberikan perhatian khusus pada bagian tubuh yang mengalami mati rasa.
Kondisi tersebut membuat tangan atau kaki lebih mudah mengalami luka tanpa disadari.
"Penderita sebaiknya memeriksa kondisi kulit setiap hari, menjaga kebersihan, menggunakan alas kaki yang sesuai, dan segera merawat apabila terdapat luka," katanya.
dr. Reymond juga menyoroti masih kuatnya stigma terhadap penyandang kusta di masyarakat.
Ia menegaskan bahwa kusta bukan kutukan, bukan akibat dosa, dan bukan penyakit keturunan, melainkan penyakit infeksi yang dapat disembuhkan.
"Masyarakat tidak perlu takut atau mengucilkan penderita. Justru yang dibutuhkan adalah dukungan agar mereka semangat menjalani pengobatan. Setelah penderita mulai menjalani terapi yang tepat, risiko penularannya akan menurun dengan cepat," jelasnya.
Menurut dia, stigma sosial sering kali lebih menyakitkan daripada penyakit itu sendiri.
Rasa takut dikucilkan membuat sebagian penderita menunda berobat hingga akhirnya mengalami kecacatan yang sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dan pengobatan sejak dini.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk menerima penyandang kusta sebagai bagian dari lingkungan sosial.
"Mari kita rangkul, bukan jauhi. Berikan kesempatan kepada penyandang kusta untuk tetap bersekolah, bekerja, beribadah, dan beraktivitas seperti orang lain. Mereka memiliki hak yang sama untuk hidup sehat dan bermartabat," ujarnya.
dr. Reymond juga memberikan semangat kepada para penderita agar tidak kehilangan harapan.
Baca juga: Renungan Remaja Kristen, Galatia 3:15-29, Kamu Semua Adalah Satu di dalam Kristus
Baca juga: Kusta Bisa Disembuhkan, Kenali Gejala dan Cara Penularannya Sejak Dini
Peluang sembuh tanpa kecacatan akan semakin besar apabila pengobatan dimulai sejak dini dan dijalani hingga tuntas.
"Jangan merasa sendirian atau malu. Mintalah dukungan keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sekitar. Dengan pengobatan yang tepat serta semangat untuk sembuh, Anda tetap dapat menjalani kehidupan yang produktif," pungkasnya.(*)