Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sempat mengklaim pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, telah tiada. Terbaru, Mojtaba Khamenei mengirim pesan yang berisi peringatan keras terhadap AS.
Dirangkum detikcom, Minggu (19/7/2026), Mojtaba Khamenei tidak terlihat di hadapan publik selama berbulan-bulan. AS meyakini Khamenei terluka dan mengalami cacat fisik yang parah akibat serangan AS-Israel tersebut.
Mojtaba Khamenei dilaporkan berada di kediaman yang sama dengan ayahnya ketika serangan udara AS dan Israel terjadi. Dia selamat karena berada di ruangan yang berbeda.
Sejak serangan itu, Mojtaba Khamenei belum pernah muncul di depan umum. Dia juga belum pernah tampil di publik sejak dilantik sebagai pemimpin tertinggi Iran pada Maret lalu.
Spekulasi terkait keberadaan Mojtaba Khamenei berlanjut karena dia tidak hadir di acara pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei. Mojtaba Khamenei baru merilis pernyataan setelah upacara pemakaman ayahnya selesai pada 9 Juli 2026.
"Pembalasan ini adalah kehendak bangsa kita dan harus dilaksanakan," katanya dalam surat yang ditandatangani pada hari Jumat (10/7).
Hal itu memancing Trump menyampaikan pernyataan perihal Mojtaba Khamenei. Trump menyebut Khamenei kemungkinan besar sudah meninggal dunia.
"Mereka (Iran-red) tidak memiliki Angkatan Laut. Mereka tidak memiliki Angkatan Udara. Semuanya sudah lenyap. Pertahanan anti-pesawat mereka sudah musnah. Para pemimpin mereka semuanya telah tewas," ujar Trump dalam wawancara dengan media AS , seperti dilansir .
Trump sempat salah menyebut mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei sebagai 'Khomeini' atau Ruhollah Khomeini yang merupakan pemimpin revolusi Iran yang wafat pada tahun 1989.
"Para pemimpin terbaik mereka telah tewas. Mereka sudah habis. Khomeini sudah tiada," kata Trump, yang diduga salah menyebut nama mendiang Ali Khamenei yang tewas akibat gelombang serangan awal AS-Israel pada 28 Februari lalu.
"Putranya, 90 persen telah tiada," klaim Presiden AS itu, merujuk pada Mojtaba, pemimpin tertinggi Iran saat ini yang merupakan putra mendiang Ali Khamenei.
Mojtaba Khamenei Beri Pesan Keras ke AS
Terbaru, Mojtaba Khamenei memperingatkan AS akan menderita 'pelajaran yang tak terlupakan' di tangan Teheran dan sekutu regionalnya. Dia menuduh AS berulang kali melanggar nota kesepahaman (MoU) antara kedua negara.
Dilansir , Minggu (19/7/2026), pernyataan tertulis yang dikaitkan dengan Mojtaba Khamenei itu dibacakan di televisi pemerintah Iran pada Sabtu (18/7). Pemimpin tertinggi Iran mengatakan pelanggaran Washington terhadap MoU menunjukkan tanda tangan Trump 'sama sekali tidak berharga dan tidak sah'.
"Pelanggaran berulang terhadap perjanjian oleh Setan Besar sehubungan dengan kesepakatan tersebut sekali lagi membuktikan kepada semua orang bahwa tanda tangan Presiden Amerika sekarang sama sekali tidak berharga dan tidak sah, dan bahwa intimidasi, hegemoni, dan kebiadaban adalah komponen yang tak terpisahkan dari keyakinan dan doktrin Amerika," bunyi pernyataan tersebut.
"Sekarang musuh Amerika berusaha untuk memicu perang dan menderita biaya yang lebih berat dan penghinaan lebih lanjut, mereka harus tahu bahwa bangsa Iran yang terkasih dan Front Perlawanan memiliki pelajaran yang tak terlupakan bagi mereka," tambahnya.
AS dan Iran telah saling serang minggu ini. AS menargetkan infrastruktur sipil, termasuk jembatan, jalur kereta api, dan pabrik desalinasi air.
Teheran telah merespons dengan menyerang infrastruktur sipil di Kuwait, yang merupakan negara penampung pasukan AS. Kuwait mendesak semua orang untuk melakukan penghematan listrik. Iran juga menyerang pangkalan AS di Yordania dan menewaskan dua tentara AS.





