- Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi meluncurkan gelombang ke-20 dari kampanye militer berskala besar bernama Operasi Nasr 2.
Dalam operasi terbaru ini, Amerika Serikat benar-benar kena batunya akibat serangan balasan yang sangat masif dari pihak Iran.
Mengutip Al Mayadeen pada (19/7), hal ini dilaporkan dalam pernyataan IRGC terbaru.
Militer Iran mengerahkan armada rudal dan drone secara serentak pada dini hari untuk menggempur pangkalan udara AS di Azraq, Yordania.
Serangan mematikan tersebut sengaja diarahkan ke area tempat perlindungan jet tempur serta landasan parkir pesawat yang berukuran besar.
Akibat gempuran udara yang dahsyat itu, sedikitnya dua jet tempur Amerika dan tiga pesawat militer lainnya dilaporkan hancur total.
Sejumlah pesawat militer AS lainnya yang berada di lokasi kejadian juga mengalami kerusakan yang sangat parah.
Tidak hanya menyasar armada udara, gempuran berkala dari IRGC ini juga berhasil melumpuhkan berbagai infrastruktur strategis milik militer AS.
Melalui Kantor Hubungan Masayarakatnya, IRGC menegaskan serangan ini adalah balasan setimpal atas agresi pengecut AS pada malam sebelumnya.
Pihak Iran menuduh tentara AS sengaja menghindari konfrontasi langsung setelah menyadari kekuatan pertahanan udara Iran kini jauh lebih kuat.
Akibat kekalahan di medan tempur tatap muka, pasukan Washington dituding melarikan diri dan mulai menyerang fasilitas sipil di wilayah Iran.
Serangan AS terhadap jembatan, bandara, serta pelabuhan sipil tersebut dinilai oleh Teheran sebagai bentuk kejahatan perang yang nyata.
Selain Yordania, IRGC juga melancarkan serangan udara taktis ke pos-pos pertahanan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain.
Pada gelombang ke-19 Operasi Nasr 2, pasukan angkatan laut Iran menghantam dermaga pendukung bahan bakar milik armada AS di Kuwait.
Di saat yang sama, fasilitas pusat intelijen data AS yang dikenal sebagai Batelco di Bahrain berhasil dihancurkan tanpa sisa.
Gelombang serangan ke-18 sebelumnya juga telah melumat habis sebuah radar penting di pangkalan udara Ali Al Salem di Kuwait.
Hanggar pemeliharaan drone dan tempat perbaikan senjata milik Amerika di kawasan Teluk ikut luluh lantak akibat serangan darat IRGC.
Melalui siaran resminya, IRGC menyerukan kepada rakyat dan tentara Yordania untuk bangkit melenyapkan kehadiran militer Amerika.
Iran menegaskan bahwa mereka tidak memusuhi rakyat di kawasan Teluk, melainkan murni menargetkan pangkalan militer agresor.
Pemerintah Iran turut memperingatkan negara-negara tetangga yang menampung pasukan AS agar segera mengaktifkan unit pertahanan sipil mereka.
Teheran mengancam akan memperluas target operasi ke infrastruktur yang lebih luas jika Amerika Serikat tidak segera menghentikan agresinya.