TRIBUNMANADO.CO.ID - Komitmen global terhadap pelestarian lingkungan hidup kembali ditegaskan di Sulawesi Utara.
Delegasi Uni Eropa melakukan kunjungan resmi ke Sekretariat Coral Triangle Initiative (CTI) yang berlokasi di Kawasan Grand Kawanua International City, Jalan AA Maramis, Kairagi, Mapanget, Manado, pada Jumat (17/7/2026) sore.
Kunjungan yang dipimpin langsung oleh Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, ini menjadi penanda kuat atas dukungan berkelanjutan mereka terhadap ekosistem laut Indonesia.
Selama enam tahun terakhir, Uni Eropa bermitra dengan KfW Development Bank Jerman untuk menyokong Program Konservasi Perairan di Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
"Dua area tersebut masuk dalam kawasan "coral reef triangle"," ujar duta besar yang berasal dari Belgia tersebut.
Denis Chaibi mengungkapkan bahwa Uni Eropa menaruh perhatian besar pada pelestarian terumbu karang dan keanekaragaman hayati di wilayah ini.
Langkah tersebut diambil karena berdampak langsung terhadap kelangsungan hidup generasi saat ini hingga masa depan umat manusia.
Dalam pertemuan yang digelar di gedung ikonik berarsitektur menyerupai bola tersebut, Executive Director CTI, Frank Griffin, memaparkan betapa krusialnya peran lembaga tersebut dalam menjaga keanekaragaman hayati ekosistem terumbu karang dunia.
Menurut Griffin, kawasan segitiga terumbu karang bukan sekadar wilayah perairan biasa, melainkan pilar penting bagi ketahanan pangan global yang bersumber dari laut.
"Kawasan ini sebagai zona karbon yang memitigasi iklim bagi dunia," jelas Griffin.
Sebagai informasi, Sekretariat CTI merupakan kantor bersama dari enam negara pemilik kawasan segitiga terumbu karang dunia, yang meliputi:
Kunjungan ke Sekretariat CTI ini merupakan bagian dari rangkaian muhibah Delegasi Uni Eropa di Sulawesi Utara.
Sebelum bertolak ke Manado, delegasi yang terdiri dari tujuh orang duta besar serta pejabat tinggi kedutaan untuk Indonesia ini telah lebih dulu turun ke lapangan.
Mereka berkunjung dan berdialog langsung dengan masyarakat di kawasan konservasi Likupang, Minahasa Utara, dan sekitarnya demi melihat langsung dampak serta implementasi nyata dari program konservasi yang telah berjalan.
Coral Reef Triangle (Segitiga Karang) adalah kawasan perairan laut seluas 6 juta kilometer persegi yang menjadi pusat keanekaragaman hayati laut global.
Kawasan ini membentang di enam negara: Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste. Wilayah ini menampung sekitar 76 persen spesies karang dan 37 persen spesies ikan terumbu karang dunia.
Ketahanan Pangan: Wilayah ini menjadi penyedia utama sumber protein hewani dari laut, menopang kehidupan dan mata pencaharian jutaan nelayan dan masyarakat pesisir di Asia-Pasifik.
Perlindungan Pesisir: Terumbu karang berfungsi sebagai benteng alami yang memecah ombak, melindungi garis pantai dan pemukiman dari ancaman badai, tsunami, serta abrasi.
Sumber Ekonomi dan Pariwisata: Sektor perikanan dan pariwisata bahari di kawasan ini bernilai sangat tinggi, mencapai miliaran dolar AS setiap tahunnya dan memberikan devisa besar bagi negara-negara anggotanya.
Pusat Obat-obatan dan Ilmu Pengetahuan: Keanekaragaman hayati yang masif menjadikannya laboratorium alam penting dan sumber bahan baku potensial untuk penemuan obat-obatan baru (seperti antibiotik dan antikanker).
Pengaturan Iklim Global: Ekosistem laut di dalamnya, seperti padang lamun dan hutan mangrove yang berdampingan dengan terumbu karang, sangat efektif dalam menyerap dan menyimpan karbon, membantu mitigasi perubahan iklim.
Sulawesi Utara, merupakan salah satu pusat episentrum Coral Triangle.
WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini