SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Musim kemarau panjang tak melulu soal krisis air dan kekeringan yang melanda. Di balik sumur-sumur warga yang mulai mengering dan menyusutnya debit mata air, terselip cerita tentang berkah dan ketahanan pangan.
Pemandangan tak biasa ini terlihat jelas di aliran Sungai Komering yang membentang disepanjang Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan.
Menyusutnya aliran sungai memunculkan hamparan tanah lapang berpasir nan luas. Di tangan warga setempat, lahan tidur yang potensial ini disulap menjadi area perkebunan dadakan yang subur.
Bagi para petani dan warga yang tinggal bantaran sungai, hamparan tanah yang berdekatan dengan sisa sumber air ini adalah anugerah. Di tengah teriknya kemarau, hamparan tersebut justru menghijau oleh beragam sayuran dan umbi-umbian.
Dikatakan masyarakat Kelurahan Sukadana yang jeli memanfaatkan momen ini adalah Alex. Saat disambangi, pria paruh baya ini tengah sibuk merawat dan menyirami tanaman sayurnya di pinggir sungai mengering.
Alex menuturkan, ia sudah memulai proses tanam sejak dua pekan terakhir dengan menanam variasi sayuran yang cukup lengkap.
"Beberapa jenis sayur yang saya tanam seperti terong, jagung, kacang panjang, tomat, cabai dan ubi rambat," kata Alex dibincangi langsung dilokasi kebunnya pada Minggu (19/7/2026) siang.
Menariknya, hasil panen bantaran Sungai Komering ini sengaja tidak dijual ke pasar. Ia pun memanfaatkannya guna memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari dan membagikan ke tetangga rumah.
"Alhamdulillah, hasil panen yang lumayan ini bisa mencukupi tambahan makanan keluarga. Selain bisa menghemat pengeluaran belanja, kita juga bisa berbagi dengan tetangga sekitar," bebernya sambil tersenyum.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Alex rupanya tidak sendirian. Terlihat puluhan warga sekitar yang juga antusias turun ke dasar sungai untuk ikut bercocok tanam.
Menurut warga, berkebun sayur di lahan tanah berpasir ini tidak membutuhkan perawatan dan pengelolaan yang rumit.
"Setahu saya hampir seluruh warga di sini sudah banyak yang ikut memanfaatkan lahan di bantaran sungai ini. Mereka nanam berbagai macam sayuran dan padi untuk kebutuhan sehari-hari," tambahnya.
Kedekatan lahan dengan sumber air di tengah sungai juga sangat memudahkan proses perawatan.
"Untuk menyirami tanaman sayur, kita cukup memanfaatkan sisa air masih mengalir di sungai. Proses panennya pun tidak butuh waktu lama," tuturnya.
Bagi sebagian warga Kayuagung, musim kemarau menjadi agenda tahunan yang membawa rezeki tersendiri. Ia menyatakan praktik berkebun di lahan bekas sungai ini sudah konsisten ia lakukan selama dua tahun terakhir.
"Biasanya kami mulai menanam setelah air sungai surut, sekitar bulan Juli sampai Maret. Lumayanlah, bisa dua sampai tiga kali panen sampai debit air sungai kembali meningkat lagi," tutupnya