Kasus peserta tur yang tiba-tiba memisahkan diri dan kabur dari rombongan turnya di Korea Selatan viral di media sosial. Beberapa bulan sebelumnya, kasus serupa juga terjadi dalam perjalanan umrah. Namun, fenomena peserta yang menghilang dari rombongan ternyata bukan hal baru.
Ketua Umum Indonesia Tour Leader Association (ITLA), Robert Alexander S. Moningka, mengatakan modus tersebut sudah terjadi sejak era 1990-an. Bagi ITLA, kasus peserta yang kabur dari rombongan seharusnya menjadi pengingat bahwa berwisata bukan hanya soal menikmati perjalanan. Robert mengingatkan bahwa setiap wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri juga membawa nama baik bangsa.
"Berwisata bukan hanya sekadar menikmati perjalanan, tetapi juga menjaga komitmen, etika, serta nama baik negara dan bangsa," ujarnya.
Ia berharap meningkatnya kompetensi tour leader dan edukasi kepada masyarakat dapat mendorong lahirnya budaya berwisata yang lebih bertanggung jawab, sehingga kasus serupa tidak terus berulang dan citra wisatawan Indonesia di mata dunia tetap terjaga.
Menurutnya, kejadian-kejadian seperti ini seharusnya menjadi momentum bagi industri pariwisata untuk melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari pengelolaan perjalanan hingga peningkatan kompetensi tour leader dan edukasi wisatawan.
"Momentum yang ada, apalagi sekarang zamannya seperti ini, harus kita jadikan untuk memperkuat budaya berwisata, budaya wisata yang bertanggung jawab," ujar Robert.
Robert menegaskan bahwa tour leader bukan sekadar orang yang menemani wisatawan berlibur. Mereka juga bukan pihak yang bisa mengawasi peserta selama 24 jam atau membatasi kebebasan wisatawan di negara tujuan.
Meski demikian, tour leader dituntut memiliki kemampuan mengelola risiko dan menangani berbagai situasi yang muncul selama perjalanan. Menurutnya, seorang tour leader profesional harus memenuhi standar kompetensi nasional. Pengalaman panjang di lapangan saja tidak cukup.
"Orang yang berpengalaman belum tentu profesional. Tour leader yang berpengalaman belum tentu profesional," katanya.
Ia menjelaskan, tour leader harus memiliki kompetensi, pengetahuan, keterampilan, serta memahami kode etik profesi. Kemampuan berkomunikasi, berkoordinasi, dan berkolaborasi dengan wisatawan maupun berbagai pihak juga menjadi bekal penting ketika menghadapi persoalan di lapangan.
"Makanya perlu koordinasi. Itu bagian dari kompetensi, yaitu mampu berkomunikasi, berkolaborasi, dan bekerja sama dengan kolega maupun wisatawan," ujarnya.
Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, ITLA memiliki program Rumah Pintar yang berada di bawah bidang SDM, penelitian dan pengembangan, serta inovasi. Melalui program tersebut, ITLA rutin mengadakan pelatihan bagi para tour leader. Materinya beragam, mulai dari basic life support, pertolongan pertama, penanganan rombongan besar, hingga pemahaman mengenai destinasi wisata dan budaya masyarakat setempat.
Menurut Robert, pelatihan digelar secara rutin. "Program kami minimal sebulan ada dua," katanya.
Ia menilai peningkatan kompetensi menjadi sangat penting agar tour leader mampu menghadapi berbagai risiko, termasuk menangani peserta bermasalah tanpa mengorbankan kenyamanan seluruh rombongan.
Robert menekankan bahwa pembenahan tidak bisa hanya dibebankan kepada tour leader. Wisatawan dan masyarakat umum juga perlu dibekali pemahaman mengenai budaya berwisata yang bertanggung jawab.
Karena itu, ITLA aktif memberikan edukasi melalui berbagai platform digital seperti YouTube, Instagram, podcast, dan program TravelTalk. Materi yang disampaikan mencakup etika perjalanan, karakteristik destinasi, hingga berbagai persoalan yang kerap muncul saat berwisata.





