TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Pesawat Citilink QG400 dengan nomor registrasi PK-GLT rute Balikpapan menuju Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) sempat tertahan dan harus melakukan prosedur berputar-putar (holding pattern) di atas wilayah udara Tanjung Selor, Minggu (19/7/2026).
Langkah darurat ini diambil pilot setelah Bandara Juwata Tarakan dikepung hujan lebat, petir, dan angin kencang yang membahayakan keselamatan penerbangan.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan mengonfirmasi saat insiden terjadi, kondisi cuaca di area bandara memang masuk kategori ekstrem.
Berdasarkan pengamatan meteorologi penerbangan, intensitas curah hujan saat itu sangat tinggi disertai dengan keberadaan awan Cumulonimbus (CB) yang identik dengan kilat dan petir.
"Pada saat pesawat Citilink QG400 hendak landing, cuaca di bandara mengalami hujan lebat dengan intensitas hujan terukur 51 milimeter kategori lebat. Kecepatan angin tertinggi tercatat 14 knot dari arah 290 derajat atau barat laut, sehingga arah angin searah dengan arah pesawat landing atau tailwind," jelas Forecaster on Duty BMKG Tarakan, Muhammad Reza Saputra.
Kombinasi hujan lebat dan angin buritan (tailwind) ini membuat jarak pandang (visibility) pilot anjlok drastis hingga tersisa 500 meter saja.
Angin kencang tersebut juga mengancam stabilitas pesawat jika pendaratan dipaksakan.
"Angin yang searah dengan arah pesawat landing berbahaya jika kecepatannya lebih dari 10 knot. Hujan memengaruhi jarak pandang dan angin memengaruhi kestabilan pesawat saat landing," ungkap Reza.
Baca juga: BMKG Ungkap Penyebab Pesawat Citilink QG400 dari Balikpapan Sempat Berputar di Langit Tarakan
Selain faktor cuaca buruk, risiko pendaratan diperparah dengan keterbatasan infrastruktur Bandara Juwata Tarakan yang hanya memiliki landasan pacu (runway) satu arah dari laut.
Akibatnya, pilot tidak memiliki opsi untuk mengubah posisi mendarat guna menghindari arah angin.
Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, menyebutkan fenomena pesawat yang tertahan atau batal mendarat sementara akibat faktor ini sebenarnya bukan hal baru di Tarakan.
"Runway di Tarakan itu yang bisa digunakan hanya satu, yaitu dari arah laut. Ketika pesawat mau landing lalu angin bertiup dari laut dengan kecepatan melebihi ambang batas, tentu aktivitas landing tidak bisa dilaksanakan. Berbeda jika runway-nya bisa dari dua arah. Karena di Tarakan hanya satu arah, kondisi seperti ini sudah biasa terjadi kalau angin datang dari laut. Begitu gambaran umumnya," ujar Sulam Khilmi.
Meski sempat tertahan di udara, keputusan pilot untuk melakukan holding pattern dinilai sebagai langkah yang sangat tepat.
Baca juga: Cuaca Buruk di Tarakan Kaltara, Pesawat Citilink QG400 dari Balikpapan Lambat Mendarat
BMKG menegaskan keselamatan penumpang adalah prioritas utama di atas segalanya.
"Kondisi tadi pagi berbahaya untuk pesawat landing. Keputusan pilot tepat untuk keselamatan penerbangan. Saat terjadi cuaca buruk, keputusan holding adalah hal yang lazim dilakukan dalam dunia penerbangan," tegas Reza.
Setelah berputar beberapa saat di atas Tanjung Selor menunggu cuaca membaik dan mereda, pesawat Citilink PK-GLT akhirnya berhasil menembus batasan jarak pandang dan mendarat dengan mulus dan selamat di Bandara Juwata Tarakan, meskipun mengalami keterlambatan.
Menurut keterangan Citilink, penerbangan dengan nomor QG400 rute Balikpapan–Tarakan pada 19 Juli 2027 telah lepas landas sesuai jadwal pukul 09.15 WITA dari Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, Balikpapan.
Namun, pesawat mengalami keterlambatan pendaratan di Bandara Internasional Juwata Tarakan akibat cuaca buruk di wilayah tujuan.
Corporate Secretary & CSR Group Head Citilink, Tashia Scholz, menjelaskan dalam keterangan resmi yang diteruskan ke pihak Bandara Juwata Tarakan dan TribunKaltara.com, bahwa pilot telah berkoordinasi dengan regulator menara pengawas sesuai prosedur untuk memastikan kondisi cuaca membaik sebelum melakukan pendaratan.
Setelah dinilai aman, pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Juwata Tarakan pada pukul 11.09 WITA, atau sekitar 39 menit lebih lambat dari jadwal semula pukul 10.30 WITA.
Citilink memastikan bahwa petugas di dalam pesawat telah memberikan penjelasan kepada seluruh penumpang mengenai situasi yang terjadi. Penumpang disebut dapat menerima penjelasan tersebut dengan baik.
Atas keterlambatan tersebut, manajemen Citilink menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penumpang atas ketidaknyamanan yang terjadi.
"Keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap operasional Citilink," tegas Tashia dalam pernyataannya.
Citilink menegaskan komitmennya untuk selalu mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan, serta melakukan langkah antisipatif terhadap kondisi yang berpotensi mengganggu operasional penerbangan.
(*)