Akademisi Unila: Bioetanol Lampung Berpotensi Jadi Industri Baru dan Buka Lapangan Kerja
taryono July 19, 2026 03:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Rencana pengembangan industri bioetanol berbasis ubi kayu di Lampung dinilai berpotensi mendukung program swasembada energi nasional sekaligus membuka peluang lapangan kerja baru.

Baca juga: Berawal dari Kucing yang Ditendang, Sertu Jontri Kini Rawat 100 Kucing Jalanan dengan Dana Pribadi

Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila), Wan Abas Zakaria, mengatakan pengembangan bioetanol merupakan bagian dari program pemerintah pusat dalam mewujudkan kemandirian energi.

Menurut Wan Abas yang juga pernah menjabat Dekan Fakultas Pertanian Unila periode 2011–2015, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan teknologi, penelitian, serta sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk mendukung pengembangan industri tersebut.

"Program bioetanol ini merupakan program nasional untuk mendukung swasembada energi. Di Lampung, Unila diminta ikut berkontribusi melalui penelitian, terutama dalam mencari bibit ubi kayu yang paling sesuai sebagai bahan baku bioetanol," kata Wan Abas saat diwawancarai Tribunlampung.co.id, Minggu (19/7/2026).

Ia menjelaskan, saat ini Unila bersama pemerintah dan PTPN tengah melakukan penelitian melalui pembangunan demplot seluas sekitar 10 hektare.

Penelitian tersebut difokuskan pada pengujian berbagai varietas ubi kayu yang memiliki produktivitas tinggi serta sesuai untuk digunakan sebagai bahan baku bioetanol.

"Kerja sama penelitian dilakukan dengan PTPN III Holding melalui PTPN VII di Lampung. Saat ini fokusnya masih pada penyiapan bahan baku dan pengujian kelayakan teknis," ujarnya.

Menurutnya, kajian mengenai kelayakan ekonomi serta pengembangan industri berada dalam lingkup pemerintah pusat, sementara perguruan tinggi berkontribusi melalui riset dan penyediaan teknologi.

Terkait upaya Unila dalam mengembangkan kajian bioetanol, Wan Abas mengatakan arah penelitian kampus sudah menuju bidang tersebut.

"Apabila industri bioetanol telah berkembang, lulusan Unila siap berkontribusi," katanya.

"Harapannya, industri ini nantinya dapat melibatkan alumni Unila, Itera, maupun perguruan tinggi lain di Lampung yang memiliki kompetensi di bidang pertanian dan industri," sambungnya.

Ia menilai, selama ini lulusan Fakultas Pertanian Unila telah banyak bekerja di berbagai sektor industri berbasis pertanian di Lampung. Karena itu, kesiapan sumber daya manusia untuk mendukung pengembangan industri bioetanol dinilai cukup memadai.

"Alumni kita sudah banyak bekerja di berbagai perusahaan. Ke depan, kerja sama dengan dunia industri tentu akan terus ditingkatkan agar semakin banyak lulusan yang terserap," ucapnya.

Wan Abas juga menegaskan bahwa pengembangan bioetanol tidak akan mengganggu pasokan bahan baku bagi industri tapioka di Lampung.

Menurutnya, pengembangan tanaman ubi kayu untuk kebutuhan bioetanol direncanakan memanfaatkan lahan kosong milik perkebunan, bukan menggantikan lahan yang selama ini digunakan untuk komoditas lain.

Ia mendorong pemerintah agar terus mengembangkan program bioetanol secara efisien dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Selain perguruan tinggi yang berperan dalam menyiapkan sumber daya manusia dan teknologi, masyarakat juga diharapkan dapat membentuk kelompok tani yang kuat agar mampu mendukung kebutuhan bahan baku industri bioetanol.

Wan Abas menambahkan, kebijakan harga acuan ubi kayu sebesar Rp1.350 per kilogram dengan rafaksi maksimal 15 persen yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi Lampung diharapkan mampu memberikan kepastian harga sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

"Dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan petani, saya optimistis pengembangan bioetanol di Lampung dapat berjalan baik serta memberikan manfaat bagi masyarakat," tandasnya.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.