Kepala SDK Biudukfoho Malaka Minta Ada Pemerataan Program MBG hingga Wilayah Pelosok
Oby Lewanmeru July 19, 2026 07:19 PM

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota

POS-KUPANG.COM, BETUN - Harapan agar Program Makan Bergizi Gratis (MBG) benar-benar dirasakan seluruh anak Indonesia terus bergema dari wilayah pelosok Kabupaten Malaka.

Kali ini, suara itu datang dari SDK Biudukfoho, Kecamatan Rinhat, yang meminta agar pelaksanaan program nasional tersebut dilakukan secara merata tanpa membedakan sekolah di perkotaan maupun di daerah terpencil.

Kepala SDK Biudukfoho, Dominikus Tae Klau, menegaskan pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu program prioritas Pemerintah Pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. 

Namun, menurutnya, dukungan itu juga disertai harapan agar manfaat program dapat benar-benar menjangkau seluruh sekolah, termasuk yang berada di pelosok Kabupaten Malaka.

Baca juga: BGN: Presiden Instruksikan Kolaborasi Lintas Sektor Sukseskan MBG

Saat ditemui POS-KUPANG.COM di ruang kerjanya, Sabtu (18/7/2026), Dominikus mengatakan hingga kini sebanyak 131 siswa di SDK Biudukfoho belum pernah menikmati Program MBG.

"Di sekolah kami ada 131 siswa. Sampai sekarang anak-anak kami belum sempat merasakan Program Makan Bergizi Gratis. Memang sebelumnya sudah ada petugas yang datang melakukan pendekatan dan pendataan, tetapi sampai hari ini program itu belum juga berjalan di sekolah kami," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh guru di SDK Biudukfoho mendukung penuh kebijakan pemerintah tersebut.

Menurutnya, tidak ada alasan bagi sekolah di wilayah pelosok untuk tidak memperoleh hak yang sama sebagai penerima manfaat.

"Harapan kami dari pihak sekolah, kami seratus persen mendukung program ini. Yang penting program ini juga harus menyentuh sekolah kami. Anggaran program ini berasal dari pemerintah pusat, sehingga manfaatnya juga harus merata sampai ke sekolah-sekolah di pelosok, bukan hanya sekolah-sekolah yang berada di kota," katanya.

Dominikus mengungkapkan, keterlambatan pelaksanaan MBG di sekolahnya mulai memunculkan berbagai pertanyaan dari para siswa. Anak-anak, kata dia, mulai membandingkan kondisi sekolah mereka dengan sekolah lain yang telah menikmati makanan bergizi setiap hari.

Bahkan, ada siswa pindahan dari sekolah lain yang sebelumnya sudah menjadi penerima manfaat MBG. Ketika belajar di SDK Biudukfoho, siswa tersebut merasa heran karena program serupa belum tersedia.

"Ada murid yang pindah dari sekolah lain. Di sekolah asalnya mereka sudah menerim MBG setiap hari. Setelah pindah ke sini, mereka bertanya kenapa di sekolah ini belum ada. Kami sebagai guru hanya bisa menjelaskan bahwa memang program itu belum sampai ke sekolah kami," tuturnya.

Menurut Dominikus, kondisi tersebut menjadi gambaran nyata bahwa anak-anak di wilayah pelosok juga mengikuti perkembangan program pemerintah. Mereka mengetahui bahwa teman-teman seusia mereka di kecamatan lain telah menikmati manfaat MBG, sehingga muncul harapan yang sama untuk segera mendapatkannya.

SDK Biudukfoho sendiri memiliki 11 tenaga pendidik yang setiap hari melayani proses belajar mengajar. Para guru, kata Dominikus, bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga berupaya menjaga semangat belajar anak-anak meski hingga kini mereka belum merasakan manfaat Program MBG.

Ia menilai pemerataan menjadi kunci utama keberhasilan sebuah program nasional. Karena itu, pemerintah diharapkan tidak hanya memprioritaskan wilayah yang mudah dijangkau, tetapi juga memastikan daerah-daerah yang tergolong terpencil memperoleh pelayanan yang sama.

"Karena ini program pemerintah pusat, maka paling tidak harus menyentuh semua masyarakat yang menjadi sasaran. Tujuan program ini kan pemerataan. Jadi sekolah-sekolah di wilayah pelosok juga harus menikmati mafaatnya. Jangan hanya sekolah di kota," tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar wilayah-wilayah yang selama ini dikategorikan sebagai daerah terpencil atau memiliki tantangan geografis tidak justru tertinggal dalam pelaksanaan program nasional.

"Harapan kami, setiap program pemerintah harus dilaksanakan secara merata. Jangan hanya dilakukan di titik-titik tertentu yang dianggap mudah dijangkau, sementara daerah 3T atau wilayah pelosok justru tertinggal. Program seperti ini harus berlaku untuk semua sekolah tanpa pengecualian," tambahnya.

Suasana di SDK Biudukfoho menggambarkan semangat pendidikan yang tetap tumbuh di tengah keterbatasan. Saat didatangi, para guru tampak sedang melatih para siswa mengikuti latihan upacara bendera di halaman sekolah.

Barisan demi barisan siswa tampak berlatih dengan penuh disiplin di bawah arahan guru-guru mereka. Gelak tawa sesekali terdengar ketika ada siswa yang salah langkah, menghadirkan suasana hangat yang memperlihatkan semangat belajar anak-anak di wilayah perbatasan.

Fasilitas sekolah juga terlihat cukup memadai. Bangunan ruang kelas berdiri lengkap dan dalam kondisi baik, didukung ruang guru yang representatif sehingga aktivitas belajar mengajar dapat berlangsung dengan nyaman.

Sekolah ini berada di pusat Kecamatan Rinhat dengan jarak sekitar 28 kilometer dari Kota Betun, ibu kota Kabupaten Malaka. Akses menuju sekolah relatif baik karena sebagian besar ruas jalan telah beraspal hotmix, meski pada beberapa titik masih terdapat kerusakan akibat longsor.

Hingga pertengahan Juli 2026, pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Malaka memang belum menjangkau seluruh wilayah.

Dari total 12 kecamatan, program tersebut baru berjalan di enam kecamatan, yakni Malaka Tengah, Kobalima, Malaka Timur, Weliman, Wewiku, dan Malaka Barat.

Sementara itu, enam kecamatan lainnya masih menunggu realisasi pelaksanaan program, yakni Kecamatan Rinhat, Sasitamean, Kobalima Timur, Botin Leobele, Io Kufeu, dan Laenmanen. (ito)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.